Senin, 12 November 2012

Makalah Konseb Membaca



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
Dalam upaya peningkatan mutu sumber daya manusia Indonesia. Departemen Pendidikan Nasional yang tertuang dalam rencana strategis (Renstra) Depdiknas 2005-2009 menekankan bahwa perspektif pembangunan pendidikan tidak hanya untuk mengembangkan aspek intelektual saja melainkan juga watak, moral, sosial, dan fisik peserta didik atau dengan kata lain menciptan manusia Indonesia seutuhnya. Semua jenjang lembaga pendidikan formal (Sekolah) mempunyai tugas untuk mensintesa itu semua.
Salah satunya meningkatkan cara membaca dengan baik. Seorang akan mendapatkan banyak wawasan pengetahuan dengan membaca. Hal ini tertuang dalam tujuan Negara Republik Indonesia dalam Undang-undang Dasar Negara alenia ke empat yang berbunyi mencerdaskan kehidupan bangsa. Membaca adalah cara paling tepat untuk belaja. Banyak cara dan teknik dalam membaca yang bisa gunakan. Setelah itu kita pun bisa mendapatkan manfaat dari apa yang sudah kita baca.
1.2  RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan penjelasan di dalam latar belakang di atas dapat difokuskan telaahnya pada 5 permasalahan :
1.      Apakah membaca itu?
2.      Apakah hakikat membaca sesungguhnya?
3.      Apa macam-macam membaca?
4.      Apa tujuan kita membaca?
5.      Apakah manfaat membaca?
BAB II
Pembahasan
2.1                         Landasan Teori
2.1.1        Pengertian Membaca

Membaca merupakan keterampilan berbahasa yang berhubungan dengan keterampilan berbahasa yang lain. Membaca merupakan suatu proses aktif yang bertujuan dan memerlukan strategi. Hal ini didukung oleh beberapa definisi berikut ini.
o   Hodgson (dalam Tarigan, 1985:7) mengemukakan bahwa membaca ialah suatu proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan penulis melalui media bahasa tulis.Dalam hal ini, membaca selain sebagai suatu proses, juga bertujuan.
o   Depdikbud (1985:11) menuliskan bahwa membaca ialah proses pengolahan bacaan secara kritis, kreatif yang dilakukan dengan tujuan memperoleh pemahaman yang bersifat menyeluruh tentang bacaan itu, dan penilaian terhadap keadaan, nilai, fungsi, dan dampak bacaan itu. Definisi ini sesuai dengan membaca pada tingkat lanjut, yakni membaca kritis dan membaca kreatif.
o   Anderson dalam Tarigan (1985:7) berpendapat bahwa membaca adalah suatu proses kegiatan mencocokkan huruf atau melafalkan lambang-lambang bahasa tulis. Hal ini sesuai dengan membaca pada level rendah.
o   Finochiaro dan Bonono (1973:119) menyatakan bahwa membaca adalah proses memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung dalam bahasa tulis. Batasan ini tepat dikenakan pada membaca literal.
o   Thorndike (1967:127) berpendapat bahwa membaca merupakan proses berpikir atau bernalar.
o   Heilman berpendapat bahwa membaca adalah proses mendapatkan arti dari kata-kata tertulis. Ini sesuai dengan kegiatan membaca seperti yang dilakukan oleh murid-murid SD yang baru mulai belajar membaca.

o   Carter berpendapat bahwa membaca adalah sebuah proses berpikir, yang termasuk di dalamnya mengartikan, menafsirkan arti; dan menerapkan ide-ide dari lambang. 

o   Carol berpendapat bahwa membaca adalah dua tingkat proses dari penerjemahan dan pemahaman: pengarang menulis pesan berupa kode (tulisan), dan pembaca mengartikan kode itu. Pemahaman pembaca ini harus disesuaikan dengan apa yang dimaksudkan oleh pengarang.
o   Cole berpendapat bahwa membaca adalah proses psikologis untuk menentukan arti kata-kata tertulis. Membaca melibatkan penglihatan, gerak mata, pembicaraan batin, ingatan, pengetahuan mengenai kata yang dapat dipahami, dan pengalaman pembacanya.
o   Richard C. Anderson, membaca adalah proses membentuk arti dari teks-teks tertulis.
o   Tampubolon (1993) menjelaskan pada hakekatnya membaca adalah kegiatan fisik dan mental untuk menemukan makna dari tulisan. Walaupun dalam kegiatan itu terjadi proses pengenalan huruf-huruf.
o   Burn, Roe dan Ross (1984) membaca merupakan proses penerimaan simbol oleh sensori, lalu menginterpretasikan simbol, atau kata yang dilihat atau mempersepsikan, mengikuti logika dan pola tatabahasa dari kata-kata yang ditulis penulis, mengenali hubungan antar simbol dan suara antara kata-kata dan apa yang ingin ditampilkan, menghubungkan kata-kata kembali kepada pengalaman langsung untuk memberikan kata-kata yang bermakna dan mengingat apa yang mereka pelajari dimasa lalu dan menggabungkan ide baru dan fakta serta menyetujui minat individu dan sikap yang merasakan tugas membaca.
o   Juel (Sandajaja, 2005) mengartikan bahwa membaca adalah proses untuk mengenal kata dan memadukan arti kata dalam kalimat dan struktur bacaan, sehingga hasil akhir dari proses membaca adalah seseorang mampu membuat intisari dari bacaan.
o   Bonomo (tarigan, 1985) adalah memetik serta memahami arti makna yang terkandung di dalam bahan tulis
o   Davies (sugiarto,2001) adalah suatu proses mental atau proses kognetif yang didalamnya seorang pembaca di harapkan bisa mengikuti dan merespon terhadap pesan si penulis.
o   Rooijakers Membaca merupakan suatu cara atau suatu sarana untuk memelihara tingkat pengetahuan sendiri serta untuk menambah pengetahuan baru.
Berdasarkan beberapa definisi di atas kelompok kami menyimpulkan bahwa membaca adalah proses pengucapan tulisan untuk mendapatkan isinya. Pengucapan tidak selalu dapat didengar, misalnya membaca dalam hati. Selanjutnya, membaca merupakan aktivitas yang tidak bisa dilepaskan dari menyimak, berbicara, dan menulis. Sewaktu membaca, pembaca yang baik akan memahami bahan yang dibacanya. Selain itu, dia bisa mengkomunikasikan hasil membacanya secara lisan atau tertulis. Dengan demikian, membaca merupakan keterampilan berbahasa yang berkaitan dengan keterampilan berbahasa lainnya. Jadi, membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa, proses aktif, bertujuan, serta memerlukan strategi tertentu sesuaidengan tujuan dan jenis membaca.

2.1.2        Membaca Sebagai Satu Keterampilan
Untuk memelihara dan memberikan arti bagi hidupnya, manusia memerlukan berbagai keterampilan. Setelah berkembang keterampilan fisik dan pancaindera, pada anak kecil kemudian berkembanglah keterampilan berbicara. Setelah cukup matang perkembangan jiwanya, barulah anak mengembangkan keterampilan membaca.
Belajar membaca adalah proses perkembangan yang sulit, anak-anak perlu bertumbuh untuk siap belajar membaca. Masa yang baik untuk seseorang anak untuk belajar membaca dengan berhasil dinamakan masa kesiapan membaca.
            Anak-anak yang siap membaca sudah mencapai tingkat perkembangan kecerdasan yang memadai, memepunyai pengetahuan yang relevan, dan dapat berbahasa dengan benar.sudah jelas bahwa ada tingkat minimal bagi anak-anak untuk menyatakan dan menggunakan konsep, serta pemahaman, sebelum mereka mempunyai perhatian yang besar kepada proses abstrak seperti menjelaskan kata-kata yang tertulis.
            Beberapa faktor selain faktor akademik yang perlu dipertimbangkan di dalam kesiapan membaca ini ialah :
1.      Kecerdasan
Kematangan untuk belajar membaca belum tentu sama untuk setiap anak, meskipun umumnya orang menganggap bahwa pada usi 6-7 tahun anak-anak sudah matang untuk belajarmembaca.
2.      Kesehatan Jasmani
Pengaruh kesehatan atas hasil belajar membaca cukup besar. Terutama presepsi mata, dan presepsi telinga sama pentingnya dengan tingkatan energi yang dipergunakan.
3.      Rumah dan Masyarakat
Latar belakang pengalaman, gaya hidup anak di rumah mempengaruhi hasil pelajarannya di sekolah. Anak-anak belajar bahasa dari orang tua mereka. Bila sikap orang tua betul dalam menanggapi pertanyaan-pertanyaan anaknya dalam masa-masa si anak belajar berbahasa, maka perkembangan bahasa dan kecerdasannya akan lebih baik.
4.      Kematangan Sosial dan Kebebasan
Ketika masa kematangan sosial datang, anak-anak akan banyak mengadakan kontak social dengan teman-temannya. Mereka menjadi lebih terbuka untuk berhubungan dengan orang lain dan teman sebayanya. Dengan adanya kemampuan ini anak-anak dapat lebih cepat belajar karena mereka dapat saling belajar, atau bila ada yang menemukan kesalahan temannya, mereka akan segera membetulkan
5.      Perkembangan Emosional
Yang dimaksudkan kematangan emosional di sini adalah ketika anak-anak bebas dari rasa takut, gelisah, atau rasa tidak mampu. Dengan tidak adanya perasaan-perasaan seperti itu berarti segala latihan dan kegiatan dapat berjalan tanpa ada gangguan.
6.      Integrasi Persyaratan (Neurogical Integration)
Yang dimaksud dengan istilah ini adalah adanya koordinasi antara mata, telinga, dan psikomotor.
Membaca sebagai keterampilan dibedakan menjadi tiga macam keterampilan, yaitu :
1)      Keterampilan Mengenal Kata
Keterampilan ini dipelajari di kelas-kelas permulaan sekolah dasar. Pada pokoknya keterampilan ini berupa keterampilan membaca kata-kata dasar, keterampilan membaca kata berimbuhan, keterampilan membaca kata majemuk, dan keterampilan membaca kelompok kata.
2)      Keterampilan Pemahaman
Keeterampilan pemahaman ini merupakan keterampilan mengembangkan kemampuan bahasa. Di samping keterampilan bahasa yang dikembangkan dalam pemakaian bahasa lisan, harus diakui bahwa kemampuan bahasa lebih banyak dikembangkan melalui bahasa tertulis. Secara garis besar keterampilan pemahaman ini dapat diikhtisarkan sebagai berikut:
                           i.            Keterampilan-keterampilan Dasar
a)      Pemahaman yang Sebenarnya
·         Perluasan konsep kosa kata
·         Menemukan dan mengingat perincian-perincian
·         Mengeri dan mengikuti petunjuk-petunjuk
b)         Mendapatkan arti dari konteks
·         Membaca untuk menemukan jawaban-jawaban
·         Mendapatkan pikiran-pikiran pokok pada sebuah paragraph atau cerita
·         Meletakkan pikiran-pikiran dalam urutan yang sebenarnya dalam sebuah cerita
                         ii.            Keterampilan Menafsirkan
a)      Belajar menebak arti
b)      Menggambarkan kesimpulan
c)      Menggambarkan penyamarataan
                       iii.            Keterampilan Evaluasi
a)      Kenyataan lawan fantasi
b)      Memilih materi yang bersangkutan dengan topik yang diberikan
c)      Pernyataan yang berlebihan
d)     Mempertimbangkan tanggapan emosi terhadap karangan (Miles V. Zintz : 232)
3)      Keterampilan Belajar
Keterampilan belajar pada “membaca” dikenal sebagai keterampilan fungsional dari membaca. Pada umumnya membaca pada pokok masalah tertentu lebih sulit dibendingkan dengan membaca yang dilakukan sehari-hari di kelas, ini sering disebut membaca studi. Kesukaran yang terdapat dalam membaca studi ini ialah:
                                i.            Di dalamnya terdapat beban yang sangat berat berkenaan dengan konsep dan fakta.
                              ii.            Perubahan-perubahan susuna tipografi dari bidang yang satu ke bidang yang lain dapat membingungkan.
                            iii.            Bisaanya materi-materinya dianggap tidak penting bagi kebanyakan murid.
                            iv.            Keterbacaan materi bacaan bisaanya kurang daripada bacaan-bacaan bisaa.
Pendek kata, materi bacaan untuk keterampilan studi harus lebih hati-hati dibaca dan dipelajari untuk dapat dipahami.
2.1.3        Proses Membaca
            Ada empat tahap proses membaca: presepsi, pemahaman, reaksi, dan integrasi. Presepsi adalah kemampuan untuk membaca kata sebagai kesatuan yang berarti. Pemahaman adalah kemampuan untuk membuat kata-kata penulis menimbulkan pikiran-pikiran yang berguna seperti yang terbaca dalam konteks. Reaksi adalah tindakan yang memerlukan pertimbangan berkenaan dengan apa yang telah dikatakan oleh penulis. Integrasi adalah kemampuan untuk memahamkan pikiran atau konsep terhadap latar belakang pengalaman penulis. Keempat langkah ini saling bergantung satu sama lain dalam membaca sebagai alat dalam pemecahan masalah. (Miles V. Zintz: 6)
            Membaca adalah sebuah perkembangan yang belum lama dimajukan dalam sejarah bahasa, proses membaca secara keseluruhan sangat kompleks. Proses ini melibatkan keseluruhan pribadi pembaca: ingatan, pengalaman, otak, pengetahuan, kemampuan bahasa, keadaan psikologis dan emosional, dan sebagai masukan pancaindera melalui mata.
            Harus dicamkan bahwa bagian fisik membaca, namun sangat penting, hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan proses membaca. Bisaanya kesalahan gerakan mata bukanlah penyebaba pemahaman yang kurang. Sebaliknyalah yang benar: pemahaman dan penempatan tujuan yang kurang menyebabkan kesalahan gerakan mata dan teknik membaca yang kurang. (Miller: xvi)
            Di samping itu kerja otak untuk mengingat, berpikir, mempertimbangkan, mengeritik isi bacaan juga terjadi bersama-sama dalam proses membaca.

2.1.4        Evaluasi
a.         Evaluasi Kesiapan Membaca
            Penilaian tingkatan ini disebut juga dengan pre-reading test. Tujuannya untuk mengetahui apakah murid-murid kelas satu sekolah dasar sudah siap untuk belajar membaca.
b.         Evaluasi Pemahaman Membaca
c.         Apa yang Dinilai
d.        Pengetahuan yang Dipelajari Sebelumnya
            Pengetahuan yang dicapai sebelum seseorang anak mengerjakan tes memegang peranan penting dalam pemahaman. Pengetahuan ini berpengaruh kepada pemahaman di setiap tingkat proses pemahaman. Dalam tingkat penyimpulan, ia menentukan kesimpulan mana yang perlu dibuat. Dan pada tingkat penyimpanan, ia menentukan mana informasi yang perlu disimpan.
e.       Jawaban yang benar
f.       Penilaian Kemampuan Baca
Meskipun membaca melibatkan berbagai keterampilan, hanya dua keterampilan pokok yang dinilai, yaitu:
a)      Kecepatan baca, diukur dengan KPM dengan rumus:
                                A/B x 1KPM = …. KPM
A : banyak kata dalam menit
B : lama waktu membaca
KPM : kata per menit
Pemahaman, diukur dengan nilai antar 1-100. Untuk mengetahui kemampuan membaca secara keseluruhan, nilai kecepatan digabungkan dengan nilai pemahaman.

2.1.5        Kecepatan membaca
Dalam perkembangan yang bisaa ketrampilan membaca pada murid-murid sekolah dasar semakin bertambah, terlebih untuk murid yang minat bacanya tinggi.  Di negara –negara yang sudah maju, seperti negara-negara di Eropa, Amerika, Jepang, bahan bacaan melimpah ruah, dari surat kabar, majalah, buku-buku, jurnal, bulletin, brosur,dan semacamnya. Kemajuan teknologi di negara-negara tersebut menyebabkan orang mempunyai banyak waktu untuk memperdalam ilmu pada bidangnya masing-masing. Komunikasi tertulis antar pegawai, antar perusahaan menjadi makin banyak. Kegiatan pengelolaan untuk kehidupan dan pekerjaan perusahaan yang diterapkan dalam bentuk catatan atau laporan tertulis memerlukan pengawasan yang berkesinambungan. Pekerjaan seperti ini memerlukan ketrampilan membaca yang tinggi.  Negara kita sedang giat membangun untuk mengejar ketinggalan kita dari bangsa lain. Kemajuan dunia usaha dan kegiatan instansi-instansi, organisasi-organisasi politik, komunikasi tertulis pun menjadi bertambah ramai. Demikian pula halnya bagi para mahasiswa. Dengan meningkatkan ketrampilan membaca, maka mereka akan lebih cepat menguasai materi kuliah yang harus mereka pelajari. Sebab dengan ketrampilan membaca, ketrampilan berpikir pun menjadi bertambah. Di perguruan tinggi ketrampilan membaca cepat ini dihubungkan dengan kepentingan studi, untuk mempertinggi pemahaman dan daya serap mahasiswa pada ilmu pengetahuan. 
Ø  Faktor-faktor Penentu Kecepatan Baca
Ada tiga faktor yang mentukan kecepatan baca seseorang, yaitu. (1) gerak mata, (2) kosa kata, (3) konsentrasi
·         Gerak mata
            Waktu membaca mata bergerak mengikuti baris tulisan, ke kanan (untuk tulisan huruf ‘Latin), ke kiri (untuk tulisan huruf Arab), ke bawah (untuk tulisan huruf Katana atau Kanjil). Mata melihat tulisan guna mengenali kata demi kata untuk diketahui artinya, selanjutnya isi seluruh kalimat. Gerakan mata ini tidak sama antara pembaca yang satu dengan pembaca yang lain, ada yang cepat, ada yang lambat.
Mengapa kecepatan gerak mata ini tidak sama?
Pembaca yang terlatih dan bisaa membaca, gerak matanya lebih cepat. Sebaliknya, orang yang kurang bisaa membaca atau yang tidak terlatih, gerak matanyadalam membaca lambat. Dalam mengenali isi tulisan gerakan mata sekali-sekali berhenti. Perhatian gerak mata untuk memahami arti tulisan disebut fiksasi( pencaman, berasal dari mencampakan). Perhentian ini ada yang terjadi sekali setelah 3-4 kata, tetapi ada yang terjadi setelah tiap satu kata. Inilah yang menyebabkan gerakan mata ada yang cepat, ada yang lambat.
Karena tulisan  bersambung terus, maka fiksasi yang satu selalu diikuti oleh fiksasi yang lain. Selang antara dua fiksasi disebut sakadik.
Untuk meningkatkan rentang pandangan, maka pandangan keliling  pada mata kita perlu diperluas. Dengan memperluas pandangan keliling, maka gerakan mata dalam membaca akan lebih bebas, sehingga akan memperpanjang rentang pandangan.
·         Kosa Kata
Tidak dapat diingkari bahwa makin sukar dan makin banyak materi yang terdapat pada sesuatu tulisan tentu makin banyak pula kata-kata atau istilah yang dipergunakan didalamnya. Hubungan kosa kata dengan kecepatan membaca tentu mudah mengerti. Bilamana pembaca menghadapi bahan bacaan yang semua kata-katanya telah diketahui, tentu dia dapat membaca dengan kecepatan yang maksimal tanpa terganggu pemahamannya. Sebaliknya, apabila di dalam bacaan terdapat beberapa kata atau istilah yang tidak dikenal artinya, maka hal ini tentu menghambat kecepatan bacanya.
Tambahan kosa kata pada seseorang terjadi waktu dia mendengar dari guru atau mempelajari sesuatu yang baru. Oleh karena itu penambahan kosa kota dengan cara yang efisien ditekankan pula dalam latihan membaca cepat
Tujuan mempelajari kata-kata baru ialah untuk mengingat kata-kata tersebut sehingga dapat menggunakannya dalam percakapan, tulisan, maupun dapat memahami kalau menemuinya dalam tulisan ataupun dalam percakapan. Cara yang paling baik dalam memperkembangkan kosa kata ialah seperti di bawah ini :
1.      Tulis kata-kata baru tersebut pada kertas ukuran 5 x 8 cm.
2.      Tuliskan arti kata tersebut pada halaman sebaliknya, dan disetai contoh penggunaannya dalam kalimat lisan maupun tertulis.
3.      Gunakanlah kata tersebut dalam setiap kesempatan baik dalam tulisan, diskusi, rapat, pidato, dan sebagainya dengan kalimat yang benar.
·         Konsentrasi
            Agar dapat membaca dengan efektif kita harus memusatkan perhatian kepada yang kita baca. Membaca efektif harus dilakukan dengan penuh kesungguhan. Perlu diketahui bahwa orang hanya dapat berkonsentrasi dengan baik bila mendapatkan lingkungan yang memungkinkan untuk itu. Cara lain untuk membina konsentrasi ialah, carilah tempat yang tepat untuk membaca, dan bisaakan diri membaca atau belajar di tempat yang tepat dengan jadwal tertentu. Kebisaaan demikian akan mempermudah usaha kita untuk berkonsentrasi. Bila ada tempat itu untuk membaca atau belajar, maka dengan sendirinya kita segera siao untuk memulainya. Yang paling penting ialah kita harus mau melatih diri berdisiplin membentuk kebisaaan untuk kemajuan kita sendiri, sekaligus mengawasi diri sendiri dari kecenderungan melakukan kebisaaan yang merugikan. Kita dapat mengatur kondisi membaca atau belajar yang terbaik dengan memilih tempat yang kita senangi.
Ø  Penghambat Kecepatan Baca
            Membaca lanjut (membaca surat kabar, membaca studi, termasuk juga membaca cepat), memang tidak perlu bersuara. Yang diperlukan dalam membaca lanjut ialah tejadinya proses mental, yaitu penyerapan informasi kedalam pikiran pembaca. Ucapan dengan bibir akan menggangu kelancaran proses ini.
            Untuk mendapatkan kemampuan maksimal dalam membaca cepat, hal-hal yang dapat menghambat kecepatan harus kita hilangkan. Bbeberapa hal yang dapat mengurangi kecepatan baca akan dibicarakan dibawah ini.
·         Subvocalisasi
            Kalau vocalisasi dapat menghambat kecepatan baca, subvocalisasipun masih mengurangi kecepatan pula. Subvocalisasi ialah pengucapan kata-kata secara berisik maupun dalam batin, yang terucapkan dengan jelas kata per kata, seperti kalau kita berjanji kepada diri sendiri, atau mencamkan definisi yang penting atau sukar.
            Subvocalisasi ini sebenarnya merupakan pengaruh dari kebisaaan dalam pengajran membca disekolah dasar, yaitu :
a.       Mengeja kata-kata menjadi suku kata, kata menjadi huruf;
b.      Mengucapkan berulang-ulang apa-apa yang dianggap penting oleh guru. Akibatnya setelah di perguruan tinggipun kebisaaan ini masih terbawa, terutama waktu menemui hal-hal yang sukar atau yang penting.
Dalam membaca cepat subvokasisasi ini memang merupakan gangguan yang paling berat. Karena itu kecenderungan ini harus dienyahkan. Atau kita kurangi sebanyak-banyaknya, dan hanya dilakukan untuk yang benar-benar penting.
·         Regresi
            Regresi ialah gerakan mata kembali kepada bagian kalimat yang telah dibaca. Gerakan kembali ini terjadi karena pembaca kehilangan hubungan pengertian antara kata yang baru saja dibaca dengan kata-kata sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh cara membaca yang terlalu lambat dengan maksud untuk berhati-hati agar tidak sampai terjadi kesalahan, lalu dibaca kata demi kata. Apalagi kalau pembaca masih berpegang kepada semboyan “Biar lambat asal selamat.” Sedang kenyataannya, makin lambat membaca jadi makin tidak mengerti. Cara yang benar, pembacaan harus dilakukan per kelompok kata yang merupakan satu unit pengertian.
·         Ketidaksiapan Mental
            Hal semacam ini terjadi apabila pembaca masih dipengaruhi oleh masalah yang masih banyak meminta perhatiannya, seperti kejadian dalam tepat yang baru saja terjadi, pertandingan yang seru dan mengesankan, acara-acara yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat, dan mengesankan, acara-acara yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat, dan sebagainya. Satu-satunya cara untuk menghilangkan hambatan ini ialah melupakan urusan itu semua dengan cara yang tepat bagi pembaca yang bersangkutan.
·         Ketiadaan Perhatian
            Apabila seseorang terpaksa mempelajari  buku yang tidak menarik perhatiannya, hal semacam ini dapat terjadi. Lebih-lebih kalau ada kesukaran mengenai kosa kata yang mengakibatkan terputusnya pemahaman. Dan untuk mendapatkan keterangan lain atau materi lain tak mungkin. Sedang pikiran kepada masalah yang lebih menarik makin mengganggu konsentrasinya. Keadaan seperti ini akan menjadi batu penarung yang cukup serius, dan akan sangat menghambat kelancaran membaca.
·         Kurang Motivasi
            Untuk memecahkan hambatan seperti ini pembaca perlu meninjau kembali apakah buku yang harus dibaca tersebut sungguh-sungguh penting. Kadang-kadang peninjauan tersebut dapat menimbulkan keinginan atau motivasi. Tetapi sebaliknya sering juga menimbulkan keputusan tidak usah membaca saja. Oleh karenanya maka pembaca perlu berhati-hati dan jujur kepada diri sendiri dalam mempertimbangkannya.
            Demikianlah hambatan yang sering ditemui ketika seseorang berusaha meningkatkan kemampuan bacanya. Berhasil atau tidak usaha peningkatan kemampuan itu bergantung kepada sikap pembaca dalam menanggulanginya.
Ø  Meningkatkan Kecepatan Baca
            Kemampuan baca pada setiap orang berbeda-beda. Kecepatan baca ini umumnya berksiar 200-800 kata per menit. Kecepatan ini pun pada sesesorang tidak selalu tetap, bergantung pula pada bacaan yang dihadapinya. Membaca buku pengetahuan lebih lambat dibandingkan dengan membaca novel. Kalau membaca buku teks dengan kecepatan 200 kata per menit, membaca novel bsia 250-300 kata per menit. Membaca ulang buku teks tentu lebih cepat dari membaca yang pertama kali, demikian terusnya
            Langkah-langkah dalam meningkatkan keterampilan membaca ini ialah :
a.       Memeriksa kemampuan diri sendiri sebelum usaha dimulai, berapa kecepatan baca, juga berapa tingkat pemahamannya;
b.      Menemukan kebisaaan-kebisaaan penghambat kecepatan baca pada diri sendiri, dan berusaha menghilangkannya;
c.       Menerapkan teknik-teknik membaca yang efisien, dan berusaha keras untuk meningkatkan terus kemampuan baca;
d.      Dan memperkuat penguasaan kosa kata



·         Memeriksa Kemampuan Sendiri
Seseorang yang ingin meningkatkan kemampuan bacanya, harus menilai dirinya sendiri, sehingga sebelum usahanya dimulai kemampuan awal diri sendiri diketahui dengan nyata.
            Kemampuan yang mula-mula harus dinilai adalah kecepatan baca. Untuk kecepatan baca ini perlu diketahui kecepatan baca untuk bacaan bisaa (bacaan ringan), dan kecepatan baca untuk informasi penting, yang memerlukan kerja pikiran.
Nilai Kecepatan :
            X = Y/Z x 60
            X : kecepatan baca
            Y : jumlah kata dalam teks
            Z : lama membaca dalam detik
(Satuan yang dipakai ialah berapa kata per menit)
Kemampuan kedua yang perlu dinilai ialah pemahaman.
Nilai  Pemahaman :
            P = Q/100 x 100%
P : pemahaman
            Q : jumlah nilai jawaban
            Kemajuan yang dicapai selama berlatih dicatat pada selembar grafik, yang menunjukan kecepatan dan pemahaman secara terpisah. Hasil-hasil latihan yang dikerjakan dari nomor ke nomor dihubungkan dengan garis, sehingga kemajuan latihan itu dapat dilihat dengan mudah. Dengan ketekunan, lebih-lebih disertai bantan peralatan yang tersedia pembaca yang berusaha meningkatkan kecepatan bacanya serta pemahamannya tentu berhasil.
·         Membaca Terkontrol
            Membaca terkontrol ialah membaca tulisan yang dipancarkan dari sebuah proyektor ke dinding sejauh arak baca. Dalam membaca terkontrol ini teks dari baris ke baris secara berurutan disajikan dalam kecepatan yang sama. Kecepatan ini dapat disetel menurut keinginan pemakai.
            Dengan latihan ini pembaca terbantu dalam hal-hal sebagai berikut:
a.       Menjadi lebih teliti penglihatannya;
b.      Mudah berkonsentrasi dan memusatkan perhatian pada bacaan;
c.       Menjadi lebih cepat dan sistematis dalam cara mengorganisasikan pikiran yang disampaikan oleh penulis,
d.      Menjadi lebih enak dan efisien dalam membaca.
Akibat nya pembaca akan dapat membaca lebih cepat dengan pemahaman yang lebih baik. Juga mendapat lebih banyak kenikmatan dari semua bacaan yang disajikan.
            Sudah banyak dipelajari proses membaca dari penelitian, dengan menggunakan alat pencatat gerakan mata waktu seorang pembaca sedang aktif membaca. Orang itu sedang dites kemampuan bacanya. Sebuah foto listrik yang diperkuat, dan dicatat pada secarik kertas yang sensitif. Hasilnya berupa sebuah grafik catatan baca perseorangan yang berbentuk sebagai gambar pada halaman berikut.
            Dalam grafik ini dapat tercatat semua gerakan mata: fiksasi, usapan kembali, regresi, dan dapat dilihat berapa kata terbaca. Waktu membaca semua orang pernah melakukan regresi, hanya saja pembaca yang baik sedikit melakukannya. Pembaca yang baik dapat membaca dua setengah kata waktu fiksasi. Hanya perbedaannya dengan pembaca yang kurang, ia punya jangkauan mata yang lebih maju, dan gerakan sistematis yang terarah. Kombinasi ini menghasilkan pembacaan yang paling efektf, karena kerja mata itu seperti kamera televisi dalam menyampaikan gambar ke otak untuk mendapatkan pengertian.
            Ketika fiksasi gerakan mata berhenti. Kebanyakan orang membuat 3 sampai 5 perhentian dalam satu detik. Pembaca yang baik memerlukan waktu leih singkat untuk membaca huruf dibandingkan dengan pembaca lambat.
·         Manfaat Membaca Terkontrol
            Beberapa manfaat dari pelaksanaan membaca terkontrol ialah :
a.       Pembaca dapat konsentarasi sepenuhnya pada inforamasi dari bacaan ketika pembaca mempelajari membaca lebih efisien.
b.      Penampakan huruf dari kiri ke kanan mengurangi membaca ulang atau regres.
c.       Karena bacaan hanya diperlihatkan dalam waktu singkat dan kemudian bertutup, pembaca jadi berkembang kepercayaan dirinya untuk menangkap pikiran-pikiran dari pembacaan yang pertama kali.
d.      Membaca kecepatan yang agak tinggi dari bisaa membantu pembaca mengerti isi bacaan lebih baik, tetapi mata lebih sedikit berhenti. Sementara kecepatan yang lebih tinggi mendorong pembaca lebih memperhatikan, melihat, dan mereaksi lebih cepat, dan lebih cakap mengorganisasikannya.
e.       Hasil terakhir membaca membaca terkontrol akan menambah kemampuan membaca ke tingkat yang lebih tinggi. Dengan singkat membca terkontrol memajukan kemampuan membaca batin dan memanfaatkan secara maksimal pengalaman-pengalaman yang dibawa kepada situasi membaca.
Untuk mendapakatkan hasil yang maksimal, maka membaca terkontrol harus dilatih tiga kali seminggu, paling sedikit 25 pertemuan dengan menyelesaikan 25 film.
·         Dasar-Dasar untuk Menjadi Pembaca yang Efisien
      Berikut ini  dicantumkan petunjuk-petunjuk untuk dijadikan pedoman agar tidak melakukan kebisaaan yang merintangi kemajuan dalam meningkatkan kecepatan baca. Kalau pembaca mempunyai kebisaaan yang tersbut dibawah ini hindarilah dengan dara demi kemajuan diri sendiri !
a.       Hindarilah gerakan bibir bila membaca untuk diri sendiri. Juga dalam membaca batin pengucapan atau pengejaan kata-kata dalam hati harus dicegah.
b.      Usahakanlah tidak sampai mengulang baca kembali kalau sedang membaca. Jika anda berkonsentrasi baik-baik, anda harus dapat maju dengan mantap memahami satu kalimat.
c.       Melatih kecepatan membaca dengan tekun dan teratu disertai kesungguhan untuk menerapkan cara-cara yang efisien sehingga membentuk kebisaaan yang berlaku secara otomatis.
Dengan terbentuknya kebisaaan ini disertai kemauan yang kuat untuk menerapkan dalam kegiatan sehari-hari maka kemampuan ini akan memperbaiki produktifitas anda.
1.      Perolehan Hobi Membaca
            Banyak kita kenal berbagai hobi yang menarik minat para pelajar mauun bukan pelajar. Diantara berbagai macam hobi itu yang besar manfaatnya ialah hobi membaca. Manusia  mempunyai kecendrungan untuk selalu ingin tahu. Naluri ini telah tampak pada anak kecil yang baru mulai merangkak.  Dengan membaca itu, apa sebenarnya yang ingin diketahuinya? Mengenai ini tentulah berbeda-beda antara orang yang satu dengan yang lain, dan ini ditentukan oleh usia, minat, dan kepentungannya. Bagi anak-anak laki-laki ataupun anak-anak perempuan yang menjelang masa remaja, membaca novel, puisi, ini berarti mengembangkan rasa keindahan pada dirinya. Dan perkembangan rasa keindahan ini berlangsung terus untuk selanjutnya.
Dan yang lebih penting ialah bahwa proses belajar selalu merupakan satu integrasi dari berbagai kegiatan dengan membaca. (Andersen:V) Sehingga dengan sendirinya hobi membaca pasti akan mempermudah terjadinya integrasi dalam proses belajar itu. Dengan membaca buku maka pembaca akan dapat  memperluas pengalaman batinnya, seolah-olah dia berbingcang-bincang, atau berlaku bersama-sama pengarangnya.  Dia berbagi pengalaman, pikiran, dan cita-cita dengan orang lain. Dia dapat berteman dengan atau berguru kepada pengarangnya, yang mempunyai minat, pandangan hidup, serta kecakapan yang bermacam ragam, sehingga banyak membaca akan memperluas cakrawala kehidupan. Maka dengan memiliki hobi membaca ini mereka akan dapat mempertinggi kecakapannya, dan juga akan menjadi orang yang banyak teman, suka bergaul dan menghargai orang lain.
Oleh karena itu para pendidik di Amerika (yang tergabung dalam The National Institute of Education) menginginkan agar rakyat Amerika Menjadi Bangsa Pembaca. Mereka tentu akan lebih mudah mencapainya, karena masyarakat dan sarana cukup menunjang. Meskipun demikian di sana pun tampaknya masih ada hambatan. Karena untuk mencapai keinginan itu diperlukan guru-guru yang baik.
2.      Memilih Bahan Bacaan
            Kegemaran membaca hendaknya diarahkan untuk memperluas pandangan murid-murid terhadap kehidupan, sesuai dengan naluri manusia pada umumnya. Perkembangan budaya, ilmu, seni, dan fantasi manusia makin memperluas ragam  pustaka dunia saat ini. Oleh karenanya pemilihan bahan bacaan untuk para pelajar perlu diusahakan seluas mungkin. Tentu saja disesuaikan dengan lingkungan pembacanya. Pengadaan bahan bacaan yang banyak ragamnya akan memajukan minat baca, paling tidak mengurangi kebosanan pembacanya.
Menurut penelitian pada usia tertentu anak-anak memerlukan buku bacaan yang tertentu jenisnya, seperti:
1)     Murid-murid SD menyukai buku-buku mengenai binatang, ceritera-ceritera tentang kegiatan anak-anak (yang sebaya), interaksi antara teman-teman sebaya. Mereka lebih menyukai tema-tema yang optimis, pemecahan masalah yang berhasil, dan seterusnya.
2)      Murid-murid sekolah menengah menyukai ceritera-ceritera petualangan, ceritera-ceritera detektif , ceritera-ceritera deketektif , ceritera-ceritera fiksi, biografi, puisi, penemuan-penemuan, mesin-mesin, ilmu, buku-buku mengenai berbagai macam  hobi.
Anak-anak perempuan berbeda kegemarannna dengan anak laki-laki. Anak perempuan lebih tertarik kepada ceritera khayalan romantis, ceritera mengenai hubungan sosial, hubungan antar bangsa, sebaliknya, anak laki-laki tidak sua ceritera  seperti itu. Mereka lebih tertarik kepada ceritera tentang penemuan-penemuan, bacaan yang berhubungan dengan pengetahuan. Hal-hal seperti  di atas hendaknya menjadi perhatian guru atau pimpinan-pimpinan perpustakaan.
3.      Membina Minat Baca
            Agar membaca menjadi pekerjaan yang menyenangkan bagi para pelajar, maka diperlukan kerja sama yang erat antara orang tua dan guru. Tugas orang tua dan guru pada pokoknya tidak banyak berbeda, yaitu memberikan motivasi, menciptakan suasana yang menyenangkan bagi anak-anak untuk membaca, dan mengusahakan ketersediaan buku-buku bacaan. Motivasi adalah kebutuhan murid secara perseorangan yang menyebabkan dia mengerjakan sesuatu yang akan berhasil dengan memuaskan. Suasana dan kemampuan menyediakan bahan bacaan tentu menurut kesempatan dan kemampuan masing-masing. Di bawah ini beberapa hal yang berguna bagi orang tua maupun guru untuk mempertinggi motivasi membaca bagi para pelajar.
·         Dorongan Orang Tua
Rumah  dan suasana kehidupan keluarga hendaknya menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak-anak untuk membaca. Untuk memberi motivasi kepada anak-anak agar senang membaca, banyak cara yang dapat dilakukan oleh orang tua.
Sikap orang tua yang terbuka dan dekat dengan anak-anak berpengaruh besar terhadap pembinaan motivasi membaca pada mereka. Orang tua yang demikian suka menceritakan pengalamannya kepada anak-anaknya, menunjukan kepada mereka bahan-bahan bacaan yang berguna yang pernah dibacanya. Kebisaaan seperti ini sangat penting artinya untuk membentuk kepribadian mereka.
Pada waktu-waktu yang penting bagi anak-anak seperti kenaikan kelas, hari ulang tahun, orang tua dapat member mereka hadiah buku-buku yang menarik hati mereka. Hal ini tentu akan menggembirakan, dan  membuat mereka lebih cinta kepada buku dan orang tuanya.
Demikianlah, cara-cara yang dapat dilakukan orang tua untuk memberikan motivasi membaca pada anak-anak. Kalau pendekatan-pendekatan ini dilakukan dengan cara  yang menyenangkan dan dapat diterima oleh mereka, maka usaha tersebut akan dapat memperbesar minat baca anak-anak.
·         Dorongan dari Guru
            Di antara para guru boleh jadi muncul pertanyaan “Mengapa beberapa pelajar berhasil membentuk dasar yang tepat bagi ketrampilan membaca dan mempunyai motivasi membaca secara luas, sedang yang lain-lain Nampak tak acuh terhadap membaca?” Jawabnya ialah bahwa bermacam-macam sebabyang membuatnya demikian. Tugas gurulah untuk memberi dorongan dan motivasi dan motivasi kepada para pelajar yang disebut terakhir ini.
            Salah satu alat terpenting bagi guru untuk memotivasi para pelajar membaca ialah mengevaluasi tingkat minat baca setiap pelajar. Memberikan tugas-tugas tanpa mempertimbangkan minat baca mereka cenderung akan menghilangkan kesenangan dan motivasi yang akan mempengaruhi perbuatan membaca.
o   Beberapa Prinsip Membina Motivasi
            Motivasi adalah unsur penting dalam proses belajar. Bila minat baca dasar dibantu perkembangannya, maka motivasi harus menjadi jantungnya strategi mengajar. Membina motivasi adalah tanggung jawab yang meminta kesungguhan, karena tiap pelajar membutuhkan seperangkat strategi yang berbeda untuk membangkitkan keinginan membaca.
1)Para pelajar harus ditempatkan dilingkungan kelas yang akan mereka ingin membaca secara luas.
2)Guru-guru sekolah menengah perlu ingat bahwa sangat sedikit pelajar yang sungguh-sungguh ingin gagal.
3)Sejak awal harus sudah dipituskan mana pelajar yang dapat membaca efisien dan mana yang tidak.
4)Tugas-tugas membaca yang berhubungan langsung bagi para pelajar seperti membaca iklan mengenai pekerjaan, mengisi formulir lamaran kerja , dan kelulusan tes mengemudi.
5)Guru-guru bidang studi hendaknya menyadari bahwa banyak kondisi dan situasi di lingkungan pelajar yang dapat mengurangi tingkat motivasi membaca dan belajar.
6)Umpan balik khusus dari tiap pelajar dan langsung pada tes dan tugas-tugas adalah satu unsure dalam motivasi.
o    Cara Memotivasi Pelajar untuk Membaca
            Kecerdasan, kemudahan bahasa, latar belakang kebudayaan, dan faktor-faktor yang lain tidak dapat menjelaskan perbedaan antara keduanya, tetapi motivasilah boleh jadi merupakan faktor penting pelajar yang menyebabkan dapat terjadi demikian.
            Ada beberapa strategi yang dapat dipergunakan oleh guru untuk memotivasi para pelajar agar mau membaca dengan penuh perhatian dan kegiatan. Mereka yang gemar membaca bukanlah suatu pembawaan, melainkan karena dibentuk. Beberapa contoh petunjuk yang berguna untuk membentuk motivasi membaca pada para pelajar sebagai berikut:
a.       Berilah tugas para pelajar meringkas bku-buku yang bermutu, dan jangan buku-buku yang kurang bermutu.
b.      Ringkasan hendaknya meliputi berbagai tipe buku, seperti biografi, novel, kisah perjalanan, cerita atau kisah avonturir, dan sebagainya. Dengan membaca buku-buku yang berbeda-beda ragam dan gaya bahasanya, ini akan membuat para peajar makin tertarik pada buku, atau setidak-tidaknya menghilangkan kejenuhan membaca.
c.       Melarang para pelajar membaca buku-buku hasil karangan penulis tertentu karena akan berakibat buruk pada perkembangan jiwa para pelajar, terutama buku-buku yang berbentuk pornografi. Demikian juga buku-buku yang isinya menyesatkan para pelajar, atau jeleknya bahasa.
d.      Berilah anjuran kepada mereka untuk membaca buku-buku yang tebal (100 halaman keatas). Buku seperti itu menggambarkan kekayaan fantasi pengarangnya.
e.       Berilah batas waktu yang layak, tetapi harus ditetapi, untuk menyelesaikan tugasnya membuat ringkasan.
            Disamping itu guru masih diperlukan melakukan berbagai tindakan yang praktis yang dapat merangsang para pelajar agar mereka makin tertarik kepada buku, dan lebih senang membaca, misalnya:
Ø  Memperbaiki lingkungan kelas
Ø  Tunjukan kepada para pelajar judul-judul  yang baik
Ø  Mengandung tokoh masyarakat pecinta buku atau orang-orang dari para penerbit buku untuk berbicara kepada para pelajar mengenai buku.
Dengan cara demikian diharapkan makin lama para pelajar akan tergugah hatinya, sehingga makin menyadari betapa besar peranan buku bagi perkembangan rohani manusia. Kalau sekiranya dengan usaha yang ditempuh guru maupun pengelola perpustakaan belum berhasil, maka harus dicari cara lain utntuk merangsang murid-murid agar makin tertarik kepada buku dan membacanya.


2.1.6        Hakikat Membaca
Syafi’ie (1999:6–7) menyebutkan, hakikat membaca adalah:
(1) Pengembangan keterampilan, mulai dari keterampilan memahami kata-kata, kalimat-kalimat,paragraf-paragraf dalam bacaan sampai dengan memahami secara kritis danevaluatif keseluruhan isi bacaan.
(2) Kegiatan visual, berupa serangkaian gerakan mata dalam mengikuti baris-baris tulisan, pemusatan penglihatan padakata dan kelompok kata, melihat ulang kata dan kelompok kata untukmemperoleh pemahaman terhadap bacaan.
(3) Kegiatan mengamati dan memahami kata-kata yang tertulis dan memberikan makna terhadap kata-kata tersebut berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah dipunyai.
(4) Suatu proses berpikir yang terjadi melalui proses mempersepsi dan memahami informasi serta memberikan makna terhadap bacaan.
(5) Proses mengolah informasi oleh pembaca dengan menggunakan informasi dalam bacaan dan pengetahuan serta pengalaman yang telah dipunyai sebelumnya yang relevandengan informasi tersebut.
(6) Proses menghubungkan tulisan dengan bunyinya sesuai dengan sistem tulisan yang digunakan.
(7) Kemampuan mengantisipasi makna terhadap baris-baris dalam tulisan.
Kegiatan membaca bukan hanya kegiatan mekanis saja, melainkan merupakan kegiatan menangkap maksud dari kelompok-kelompok kata yang membawa makna. Dari beberapa butir hakikat membaca tersebut, dapat dikemukakan bahwa membaca pada hakikatnya adalah suatu proses yang bersifat fisik dan psikologis. Proses yang berupa fisik berupa kegiatan mengamati tulisan secaravisual dan merupakan proses mekanis dalam membaca. Proses mekanis tersebut berlanjut dengan proses psikologis yang berupa kegiatan berpikir dalam mengolah informasi. Proses pskologis itu dimulai ketika indera visual mengirimkan hasil pengamatan terhadap tulisan ke pusat kesadaran melaluisistem syaraf. Melalui proses decoding gambar-gambar bunyi dan kombinasinya itu kemudian diidentifikasi, diuraikan, dan diberi makna.

2.1.7        Macam-macam Membaca
http://4.bp.blogspot.com/-5OCCqZRnOYI/T2Sf1BbMh6I/AAAAAAAAAPM/oJ2swvlUO8w/s400/Untitled.jpg
Menurut Tarigan (1984:11) jenis membaca tampak seperti pada bagan di atas.
Membaca terdiri atas :
a)       Membaca nyaring
Membaca nyaring adalah kegiatan membaca dengan menyuarakan tulisan yang dibacanya dengan ucapan dan intonasi yang tepat agar pendengar dan pembaca dapat menangkap informasi yang disampaikan oleh penulis, baik yang berupa pikiran, perasaan, sikap, ataupun pengalaman penulis.
Ketrampilan yang dituntut dalam membaca nyaring adalah berbagai kemampuan, di antaranya adalah :
1. menggunakan ucapan yang tepat,
2. menggunakan frase yang tepat,
3. menggunakan intonasi suara yang wajar,
4. dalam posisi sikap yang baik,
5. menguasai tkita-tkita baca,
6. membaca dengan terang dan jelas,
7. membaca dengan penuh perasaan, ekspresif,
8. membaca dengan tidak terbata-bata,
9. mengerti serta memahami bahan bacaan yang dibacanya,
10. kecepatan bergantung pada bahan bacaan yang dibacanya,
11. membaca dengan tanpa terus-menerus melihat bahan bacaan,
12. membaca dengan penuh kepercayaan pada diri sendiri.
b)  Membaca dalam hati
Membaca dalam hati adalah kegiatan membaca yang dilakukan dengan tanpa menyuarakan isi bacaan yang dibacanya.
Ketrampilan yang dituntut dalam membaca dalam hati antara lain sebagai berikut:
1. membaca tanpa bersuara, tanpa bibir bergerak, tanpa ada desis apapun,
2. membaca tanpa ada gerakan-gerakan kepala,
3. membaca lebih cepat dibandingkan dengan membaca nyaring,
4. tanpa menggunakan jari atau alat lain sebagai penunjuk,
5. mengerti dan memahami bahan bacaan,
6. dituntut kecepatan mata dalam membaca,
7. membaca dengan pemahaman yang baik,
8. dapat menyesuaikan kecepatan dengan tingkat kesukaran yang terdapat dalam bacaan.
Secara garis besar, membaca dalam hati dapat dibedakan menjadi dua, yaitu membaca ekstensif dan membaca intensif. Berikut penjelasan secara rinci kedua jenis membaca tersebut
1). membaca ekstensif
Membaca ekstensif merupakan proses membaca yang dilakukan secara luas. Luas berarti (1) bahan bacaan beraneka dan banyak ragamnya; (2) waktu yang digunakan cepat dan singkat. Tujuan membaca ekstensif adalah sekadar memahami isi yang penting dari bahan bacaan dengan waktu yang cepat dan singkat. Contohnya adalah membaca survey, membaca sekilas dan membaca dangkal
Ø  Membaca Survai
Membaca survai adalah kegiatan membaca untuk mengetahui secara sekilas terhadap bahan bacaan yang akan dibaca lebih mendalam. Kegiatan membaca survai merupakan pendahuluan dalam membaca ekstensif.
Yang dilakukan seseorang ketika membaca survai adalah sebagai berikut :
(a) memeriksa judul bacaan/buku, kata pengantar, daftar isi dan malihat abstrak (jika ada),
(b) memeriksa bagian terahkir dari isi (kesimpulan) jika ada,
(c) memeriksa indeks dan apendiks(jika ada).
Ø  Membaca Sekilas
Membaca sekilas atau membaca cepat adalah kegiatan membaca dengan mengkitalakan kecepatan gerak mata dalam melihat dan memperhatikan bahan tertulis yang dibacanya dengan tujuan untuk mendapatkan informasi secara cepat.
Metode yang digunakan dalam melatihkan membaca cepat adalah :
(a)   Metode kosakata; metode yang berusaha untuk menambah kosakata.
(b) Metode motivasi; metode yang berusaha memotivasi pembaca(pemula) yang mengalami hambatan.
(c) Metode gerak mata; metode yang mengembangkan kecepatan membaca dengan menigkatkan kecepatan gerak mata.
Hambatan-hambatan yang dapat mengurangi kecepatan mambaca sekilas :
(a) vokalisai atau berguman ketika membaca,
(b) membaca dengan menggerakan bibir tetapi tidak bersuara,
(c) kepala bergerak searah tulisan yang dibaca,
(d) subvokalisasi; suara yang bisaa ikut membaca di dalam pikiran kita,
(e) jari tangan selalu menunjuk tulisan yang sedang kita baca,
(f) gerakan mata kembali pada kata-kata sebelumnya.

Ø  Membaca Dangkal
Membaca dangkal pada hakekatnya bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang dangkal yang bersifat luaran, yang tidak mendalam dari suatu bahan bacaan. Membaca jenis ini bisaanya dilakukan seseorang membaca demi kesenangan, membaca bacaan ringan yang mendatangkan kesenangan, kegembiraan sebagai pengisi waktu senggang.
2)  Membaca Intensif
Membaca intensif adalah kegiatan membaca yang dilakukan secara saksama dan merupakan salah satu upaya untuk menumbuhkan dan mengasah kemampuan membaca secara kritis. Membaca intensif merupakan studi saksama, telaah teliti, serta pemahaman terinci terhadap suatu bacaan sehingga timbul pemahaman yang tinggi. Contohnya membaca telaah isi, membaca telaah bahasa.
Ø  Membaca Telaah Isi :
o   Membaca Teliti
Membaca jenis ini sama pentingnya dengan membaca sekilas, maka sering kali seseorang perlu membaca dengan teliti bahan-bahan yang disukai.
o   Membaca Pemahaman
Membaca pemahaman (reading for understanding) adalah sejenis membaca yang bertujuan untuk memahami tentang stkitar-stkitar atau norma-norma kesastraan (literary stkitards), resensi kritis (critical review), dan pola-pola fiksi (patterns of fiction).
o   Membaca Kritis
Membaca kritis adalah kegiatan membaca yang dilakukan secara bijakasana, mendalam, evaluatif, dengan tujuan untuk menemukan keseluruhan bahan bacaan, baik makna baris-baris, makna antar baris, maupun makna balik baris.
o   Membaca Ide
Membaca ide adalah sejenis kegiatan membaca yang ingin mencari, memperoleh, serta memanfaatkan ide-ide yang terdapat pada bacaan.
o   Membaca Kreatif
Membaca kreatif adalah kegiatan membaca yang tidak hanya sekedar menangkap makna tersurat, makna antar baris, tetapi juga mampu secara kreatif menerapkan hasil membacanya untuk kehidupan sehari-hari.

Ø  Membaca Telaah Bahasa :
o   Membaca Bahasa
Tujuan utama membaca bahasa adalah memperbesar daya kata dan mengembangkan kosakata.
o   Membaca Sastra
Dalam membaca sastra perhatian pembaca harus dipusatkan pada penggunaan bahasa dalam karya sastra. Apabila seseorang dapat mengenal serta mengerti seluk beluk bahasa dalam suatu karya sastra maka semakin mudah dia memahami isinya serta dapat membedakan antara bahasa ilmiah dan bahasa sastra.
*      Tambahan macam-macam membaca
o   Membaca Teknik
Membaca teknik bisaa disebut membaca lancar. Dalam membaca teknik harus memperhatikan cara atau teknik membaca yang meliputi:
a)       Cara mengucapkan bunyi bahasa meliputi kedudukan mulut, lidah, dan gigi.
b)       Cara menempatkan tekanan kata, tekanan kalimat dan fungsi tanda-tanda baca sehingga menimbulkan intonasi yang teratur.
c)       Kecepatan mata yang tinggi dan pandangan mata yang jauh.

o   Membaca Indah
Membaca indah hampir sama dengan membaca teknik yaitu membaca dengan memperlihatkan teknik membaca terutama lagu, ucapan, dan mimik membaca sajak dalam apresiasi sastra.
2.1.8        Teknik Membaca Cepat
Teknik membaca cepat skimming dan scanning – Ternyata dalam membaca juga memiliki teknik tersendiri. Jika sebelumnya membaca yang kita tahu hanya membaca bisaa maka kali ini merahitam akan berbagi beberapa tips seputar teknik membaca cepat yaitu skimming dan scanning. Mengapa harus membaca cepat? ternyata membaca cepat memiliki banyak manfaat. Teknik Membaca cepat selain menghemat banyak waktu juga dapat memudahkan kita dalam memahami makna bacaan selain itu juga dapat mencerdaskan otak.  adalah dalam latihan meningkatkan kecepatan membaca, ada sejumlah teknik membaca cepat yang dapat digunakan. Teknik tersebut antara lain:
Ø  Membaca Scanning
a.       Pengertian
Membaca tatap (scanning) atau disebut juga membaca memindai adalah membaca sangat cepat. Ketika seseorang membaca memindai, dia akan melampaui banyak kata. Menurut Mikulecky & Jeffries (dalam Farida Rahim, 2005), membaca memindai penting untuk meningkatkan kemampuan membaca. Teknik membaca ini berguna untuk mencari beberapa informasi secepat mungkin. Bisaanya kita membaca kata per kata dari setiap kalimat yang dibacanya. Dengan berlatih teknik membaca memindai, seseorang bisa belajar membaca untuk memahami teks bacaan dengan cara yang lebih cepat. Akan tetapi, membaca dengan cara memindai ini tidak asal digunakan. Jika untuk keperluan untuk membaca buku teks, puisi, surat penting dari ahli hukum, dan sebagainya, perlu lebih detil membacanya.
Scanning atau membaca memindai berarti mencari informasi spesifik secara cepat dan akurat. Memindai artinya terbang di atas halaman-halaman buku. Membaca dengan teknik memindai artinya menyapu halaman buku untuk menemukan sesuatu yang diperlukan. Scanning berkaitan dengan menggerakan mata secara cepat keseluruh bagian halaman tertentu untuk mencari kata dan frasa tertentu.
Teknik membaca memindai adalah teknik menemukan informasi dari bacaan secara cepat, dengan cara menyapu halaman demi halaman secara merata, kemudian ketika sampai pada bagian yang dibutuhkan, gerakan mata berhenti. Mata bergerak cepat, meloncat-loncat, dan tidak melihat kata demi kata.
b.      Langkah-langkah Scanning
  • Perhatikan penggunaan urutan seperti ‘angka’, ‘huruf’, ‘langkah’, ‘pertama’, ‘kedua’, atau ‘selanjutnya’.
  • Carilah kata yang dicetak tebal, miring atau yang dicetak berbeda dengan teks lainnya.
  • Terkadang penulis menempatkan kata kunci di batas paragrafh.
Langkah atau proses membaca tatap yang lain yakni:
Membaca tatap dilakukan dengan cara:
(1) Menggerakkan mata seperti anak panah langsung meluncur ke bawah menemukan informasi yang telah ditetapkan,
(2) Setelah ditemukan kecepatan diperlambat untuk menemukan keterangan lengkap dari informasi yang dicari, dan
(3) Pembaca dituntut memiliki pemahaman yang baik berkaitan dengan karakteristik yang dibaca (misalnya, kamus disusun secara alfabetis dan ada keyword di setiap halaman bagian kanan atas, ensiklopedi disusun secara alfabetis dengan pembalikan untuk istilah yang terdiri dari dua kata, dan sebagainya).


c.        Tujuan
Adapun tujuan dari membaca scanning yaitu:
  • Mencari informasi dalam buku secara cepat,
  • Scanning merupakan teknik membaca cepat untuk menemukan informasi yang telah ditentukan pembaca,
  • Pembaca telah menentukan kata yang dicari sebelum kegiatan scanning dilakukan, pembaca tidak membaca bagian lain dari teks kecuali informasi yang dicari.
  • Mendapatkan informasi spesifik dari sebuah teks. Bisaanya, ini dilakukan jika Kita telah mengetahui dengan pasti apa yang Kita cari sehingga berkonsentrasi mencari jawaban yang spesifik.
d.      Contoh
Membaca scanning/memindai misalnya membaca mencari arti kata di kamus, menbaca acara siaran di tv, membaca daftar pejalanan, mencari nomor telepon di buku telepon,membaca daftar menu makan di rumah makan, membaca jadwal pelajaran,mencari pada papan pengumuman, dan mencari topik pada daftar isi sebuah buku.
Ø   Membaca Skimming
  1. Pengertian
Membaca layap (skimming) adalah membaca dengan cepat untuk mengetahui isi umum atau bagian suatu bacaan. (Farida Rahim, 2005). Membaca layap dibutuhkan untuk mengetahui sudut pkitang penulis tentang sesuatu, menemukan pola organisasi paragraf, dan menemukan gagasan umum dengan cepat (Mikulecky & Jeffries dalam Farida Rahim, 2005).
Pengertian lain dari membaca skimming adalah membaca sekilas atau membaca cepat untuk mendapatkan suatu informasi dari yang kita baca. Skimming dilakukan untuk melakukan pembacaan cepat secara umum dalam suatu bahan bacaan. Dalam skimming, proses membaca dilakukan secara melompat-lompat dengan melihat pokok-pokok pikiran utama dalam bahan bacaan sambil memahami tema besarnya.
Selain untuk mendapatkan gagasan utama dari sebuah teks. Untuk mengetahui apakah suatu artikel sesuai dengan apa yang kita cari. Untuk menilai artikel tersebut, apakah menarik untuk dibaca lebih lanjut secara mendetail. Kecepatan membaca secara skimming bisaanya sekitar 3-4 kali lebih cepat dari membaca bisaa.
  1.  Langkah-langkah Skimming
·         Baca judul, sub judul dan subheading untuk mencari tahu apa yang dibicarakan teks tersebut.
·         Perhatikan ilustrasi (gambar atau foto) agar kita mendapatkan informasi lebih jauh tentang topik tersebut.
·         Baca awal dan akhir kalimat setiap paragrap
·         Jangan membaca kata per kata. Biarkan mata kita melakukan skimming kulit luar sebuah teks. Carilah kata kunci atau keyword-nya
·         Lanjutkan dengan berpikir mengenai arti teks tersebut
  1.  Tujuan
Banyak yang mengartikan skimming sebagai sekedar menyapu halaman, sedangkan pengertian yang sebenarnya adalah suatu ketrampilan membaca yang diatur secara sistematis untuk mendapatkan hasil yang efisien, untuk berbagai tujuan, seperti hal berikut:
1. Untuk mengenali topik bacaan. Apabila kita pergi ke toko buku atau perpustakaan dan ingin mengetahui pembahasan apa dalam buku yang kita pilih itu, kita melakukan skimming beberapa menit (atau browsing). Skimming untuk melihat bahan yang akan dibaca, sekadar untuk mengetahui bahan tersebut, juga dilakukan orang untuk memilih artikel di majalah dan surat kabar (kliping)
2. Untuk mengetahui pendapat orang (opini). Di sini kita sudah mengetahui topik yang dibahas, yang kita butuhkan adalah pendapat penulis itu terhadap masalah tersebut. Misalnya, tulisan tajuk surat kabar; kita mungkin cukup membaca paragraf pertama atau akhir yang bisaanya memuat kesimpulan yang dibuat oleh penulisnya (redaksi).
3. Untuk mendapatkan bagian penting yang kita perlukan tanpa membaca seluruhnya. Kita perlu melihat semua bahan itu untuk memilih ide yang bagus, tetapi tidak membaca secara lengkap
v  Untuk mengetahui organisasi penulisan, urutan ide pokok dan cara semua itu disusun dalam kesatuan pikiran dan mencari hubungan antarbagian bacaan itu. Mungkin secara kronologi, membandingkan, atau bentuk lain. Skimming berguna untuk memilih bahan yang perlu dipelajari dan didingat. Skimming berguna untuk survei buku sebelum dibaca, seperti dapat dilihat pada uraian SQ3R sebelum ini.
v  Untuk penyegaran yang pernah dibaca, misalnya dalam mempersiapkan ujian atau sebelum menyampaikan ceramah. Skimming ini juga disebut sebagai review (tinjau balik).
  1. Contoh
skimming untuk mendapatkan gagasan utama dari sebuah halaman buku teks sehingga dapat memutuskan apakah buku tersebut berguna dan perlu dibaca lebih pelan dan mendetail.
 Berikut adalah tabel kesimpulan dari artikel teknik membaca cepat skimming dan scanning
Komponen
Skimming
Scanning

Pengertian
Skimming digunakan untuk mendapatkan gagasan utama dari sebuah teks. Untuk mengetahui apakah suatu artikel sesuai dengan apa yang kita cari. Untuk menilai artikel tersebut, apakah menarik untuk dibaca lebih lanjut secara mendetail. Kecepatan membaca secara skimming bisaanya sekitar 3-4 kali lebih cepat dari membaca bisaa.
Scanning digunakan untuk mendapatkan informasi spesifik dari sebuah teks. Bisaanya, ini dilakukan jika Kita telah mengetahui dengan pasti apa yang Kita cari sehingga berkonsentrasi mencari jawaban yang spesifik. Scanning berkaitan dengan menggerakan mata secara cepat keseluruh bagian halaman tertentu untuk mencari kata dan frasa tertentu.

Contoh
skimming untuk mendapatkan gagasan utama dari sebuah halaman buku teks sehingga dapat memutuskan apakah buku tersebut berguna dan perlu dibaca lebih pelan dan mendetail.
scanning untuk menemukan nomor tertentu pada direktori telepon, kata dalam kamus.

Strategi
Langkah-langkah skimming:
  1. Baca judul, sub judul dan subheading untuk mencari tahu apa yang dibicarakan teks tersebut.
  2. Perhatikan ilustrasi (gambar atau foto) agar Kita mendapatkan informasi lebih jauh tentang topik tersebut.
  3. Baca awal dan akhir kalimat setiap paragraf
  4. Jangan membaca kata per kata. Biarkan mata Kita melakukan skimming kulit luar sebuah teks. Carilah kata kunci atau keyword-nya
  5. Lanjutkan dengan berpikir mengenai arti teks tersebut










Jenis membaca menurut Nurhadi (1987:143) ada tiga macam, yakni membaca literal, membaca kritis, dan membaca kreatif.
2.1.9        Tujuan membaca
Tujuan utama membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi dari sumber tertulis. Informasi ini diperoleh melalui proses pemaknaan terhadap bentuk-bentuk yang ditampilkan. Secara lebih khusus membaca sebagai suatu keterampilan bertujuan untuk mengenali aksara dan tanda-tanda baca, mengenali hubungan antara aksara dan tanda baca dengan unsur linguistik yang formal, serta mengenali hubungan antara bentuk dengan makna atau meaning (Broughton et al dalam Sue 2004:15).

Secara umum, tujuan membaca adalah
(1) mendapatkan informasi,
(2) memperoleh pemahaman,
(3) memperoleh kesenangan.
Secara khusus, tujuan membaca adalah
(1) memperoleh informasi faktual,
(2) memperoleh keterangan tentang sesuatu yang khusus dan problematis,
(3) memberikan penilaian kritis terhadap karya tulis seseorang,
(4) memperoleh kenikmatan emosi, dan
(5) mengisi waktu luang (Nurhadi, 1987:11).

Lebih lanjut Nurhadi (1987) yang mengutip pendapat Waples (1967) menuliskan bahwa tujuan membaca adalah :
(1) mendapat alat atau cara praktis mengatasi masalah;
(2) mendapat hasil yang berupa prestise yaitu agar mendapat rasa lebih bila dibandingkan dengan orang lain dalam lingkungan pergaulannya;
(3) memperkuat nilai pribadi atau keyakinan;
(4) mengganti pengalaman estetika yang sudah usang;
(5) menghindarkan diri dari kesulitan, ketakutan, atau penyakit tertentu.
Hal menarik diungkapkan oleh Nurhadi (1987) bahwa tujuan membaca akan mempengaruhi pemerolehan pemahaman bacaan. Artinya, semakin kuat tujuan seorang dalam membaca maka semakin tinggi pula kemampuan orang itu dalam memahami bacaannya.
Dengan demikian, kegiatan membaca tidak hanya berhenti pada pengenalan bentuk, melainkan harus sampai pada tahap pengenalan makna dari bentuk-bentuk yang dibaca. Makna atau arti bacaan berhubungan erat dengan maksud, tujuan atau keintensifan dalam membaca (Tarigan 1979:9). Berdasarkan maksud, tujuan atau keintensifan serta cara dalam membaca di bawah ini, Anderson dalam Tarigan (1979:9-10) mengemukakan beberapa tujuan membaca antara lain:

a. Membaca untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta (reading for details or facts). Membaca tersebut bertujuan untuk menemukan atau mengetahui penemuan-penemuan telah dilakukan oleh sang tokoh, untuk memecahkan masalah-masalah yang dibuat oleh sang tokoh.

b. Membaca untuk memperoleh ide-ide utama (reading for main ideas). Membaca untuk mengetahui topik atau masalah dalam bacaan. Untuk menemukan ide pokok bacaan dengan membaca halamn demi halaman

c. Membaca untuk mengetahui ukuran atau susunan, organisasi cerita (reading for sequenceor organization). Membaca tersebut bertujuan untuk mengetahui bagian-bagian cerita dan hubungan antar bagian-bagian cerita.

d. Membaca untuk menyimpulkan atau membaca inferensi (reading for inference). Pembaca diharapkan dapat merasakan sesuatu yang dirasakan penulis.

e. Membaca untuk mengelompokkan atau mengklasifikasikan (reading for classify). Membaca jenis ini bertujuan untuk menemukan hal-hal yang tidak wajar mengenai sesuatu hal (Anderson dalam Tarigan 1979:10).

f. Membaca untuk menilai atau mengevaluasai (reading to evaluate). Jenis membaca tersebut bertujuan menemukan suatu keberhasilan berdasarkan ukuran-ukuran tertentu. Membaca jenis ini memerlukan ketelitian dengan membandingkan dan mengujinya kembali. 

g. Membaca untuk memperbandingkan atau mempertentangkan (reading to compare or contrast). Tujuan membaca tersebut adalah untuk menemukan bagaimana cara, perbedaan atau persamaan dua hal atau lebih.

*      Pentingnya membaca
Pertama:
Membaca penting karena dapat membuka wawasan baru. Banyak hal-hal baru yang akan Kita temukan dalam sebuah bacaan. Hal-hal yang belum pernah Kita ketahui. Bahkan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah Kita bayangkan ada.


Kedua:
Membaca penting karena dapat memberikan pencerahan baru pada pemikiran Kita. Saya yakin, tak jarang Kita digelayuti suatu persoalan yang Kita pikir tak ada pemecahannya. Atau barangkali tak banyak pilihan pemecahan yang dapat Kita tempuh. Bisa juga Kita menjalani sesuatu dengan suatu rutinitas yang membosankan. Saya anjurkan pada Kita: membacalah! Maka tanpa Kita duga Kita akan menemukan pencerahan baru bagaimana memecahkan masalah tersebut atau mengubah sesuatu yang cenderung rutin dan membosankan itu. Tingkatkan kualitas kehidupan pribadi Kita dengan membaca.

Ketiga:
Membaca penting karena dapat mencerdaskan intelektual, spiritual, emosional, dan kepercayaan diri yang berpadu dengan kerendahan hati. Membaca akan membuka peluang Kita untuk menyerap sebanyak mungkin ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kehidupan. Membaca akan menumbuhkan kemampuan Kita untuk berpikir kreatif, kritis, analitis, dan imajinatif. Melalui membaca Kita akan membentuk kemampuan berpikir lewat proses: menangkap gagasan/informasi, memahami, mengimajinasikan, menerapkan dan mengekspresikan.

Keempat:
Membaca penting karena membuat Kita menjadi seorang yang mandiri dalam mencari pengetahuan. Kita tak akan bergantung pada sekolah, les, kursus, atau seminar.
                   
Kelima:
Membaca dapat memberikan kenikmatan tersendiri bagi jiwa. Membaca adalah sebuah wisata pikiran. Melalui membaca, kita bisa pergi ke mana saja. Tanpa dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu. Membaca akan memberikan kesempatan kepada kita untuk berangan-angan. Membebaskan pikiran.

Keenam:
Membaca dapat membuat hidup lebih sukses.

2.1.10    Faktor Yang Mempengaruhi Membaca
Chauhan (1978) juga menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi minat:
1.      Perkembangan fisik, merupakan hal yang sangat penting dalam memutuskan perkembangan minat. Seseorang yang secara fisik mengalami kebuataan atau kecacatan pada matanya akan berpengaruh pada ketertarikannya pada aktivitas membaca.
2.      Perbedaan sex (identitas kelamin). Ada perbedaan besar antara minat membaca pada perempuan dan laki-laki. Perbedaan tersebut disebabkan perbedaan fisiologis dan pengaruh budaya, level pendidikan dan kondisi lingkungan.
3.      Lingkungan, menentukan aturan penting dalam memutuskan minat membaca seseorang, misalnya saja lingkungan rumah yang kondusif dan memberikan banyak contoh dan stimulus sehingga seseorang akan memiliki kebisaaan membaca.
4.      Status sosial-ekonomi, kondisi keluarga juga menentukan  dalam pembentukan minat membaca pada seseorang. Seseorang yang berasal dari keluarga dengan status ekonomi menengah ke atas akan dapat memberikan fasilitas dan stimulus bahan-bahan bacaan yang dapat merangsang minat membaca pada anak.
Selain hal-hal diatas, minat yang berkembang pada anak menurut Hurlock (1993),
disebabkan karena:
Minat tumbuh bersamaan dengan perkembangan mental. Minat berubah seiring perubahan fisik dan mental yang juga mengalami perubahan. Ketika pertumbuhan mulai berhenti dan level perkembangan dari kematangan tercapai, minat menjadi lebih stabil. Minat membaca pun tumbuh bersamaan dengan perkembangan mental, jenis bahan bacaan yang dibaca seseorang pun akan berubah seiring dengan level perkembangan dan kematangan pribadi.
Minat bergantung pada kesiapan belajar. Anak-anak tidak dapat memperoleh minat sebelum fisik dan mental siap melakukannya. Minat membaca juga bergantung pada kesiapan belajar, minat membaca dapat semakin kuat apabila seorang anak sudah memiliki kemampuan membaca, untuk memiliki kemampuan membaca seorang anak haruslah siap secara fisik (mata yang normal, otak yang sempurna sehingga proses pengenalan dan perangkaian huruf menjadi kata dan kalimat dapat dilakukan) dan kesiapan mental, mampu menangkap makna dan maksud dari rangkaian huruf dan kata.
Minat tergantung pada kesempatan untuk belajar. Kesempatan untuk belajar bergantung pada lingkungan dan minat, baik anak-anak maupun dewasa, yang menjadi bagian dari lingkungan anak. Karena lingkungan anak kecil sebagian besar terbatas pada rumah, minat mereka “tumbuh dari rumah” sehingga kesempatan pertama untuk belajar berasal dari rumah dan lingkungan rumah merupakan reinforcement awal. Minat membaca salah satu contoh paling relevan, dimana lingkungan rumah merupakan stimulus paling awal dan tempat belajar utama bagi seseorang anak untuk belajar membaca dan mempertahankannya dan kemudian dapat menjadi sebuah kebisaaan. Ketidakmampuan fisik dan mental serta pengalaman sosial yang terbatas membatasi minat anak. Seseorang yang cacat indera penglihatannya akan membatasi aktivitas seseorang tersebut untuk membaca 
Minat diperoleh dari pengaruh budaya. Anak-anak mendapat kesempatan dari orang tua, guru, dan orang dewasa lain untuk belajar mengenai apa saja yang oleh kelompok budaya mereka dianggap minat yang sesuai dan mereka tidak diberi kesempatan untuk menekuni minat yang dianggap tidak sesuai bagi mereka oleh kelompok budaya mereka. Budaya merupakan kebisaaan yang sifatnya permanen, sehingga sangat dimungkinkan dengan adanya budaya membaca akan membuat seseorang secara tidak langsung atau secara langsung terpengaruhi dan kemudian menjadikan minat membaca menjadi tinggi.
Minat dipengaruhi oleh bobot emosi. Ketidaksenangan emosi akan melemahkan minat dan kesenangan emosi yang mendalam akan menguatkan minat. Seseorang yang telah menemukan manfaat dari kegiatan membaca, akan menimbulkan reaksi positif yang akan membuat orang tersebut ingin mengulanginya lagi dan lagi, sehingga kesenagan emosi yang mendalam pada aktivitas membaca akan menguatkan minat membaca. 
Minat adalah sifat egosentris dikeseluruhan masa anak-anak, seorang anak yang sangat yakin dengan membaca akan membuatnya memiliki kekayaan wawasan dan kecerdasan dalam menyikapi hidup akan terus menerus melakukan aktivitas membaca sampai dewasa. 
Selain yang tersebut diatas Elliot dkk (2000) menjelaskan bahwa minat berperan penting dalam proses belajar mengajar, dan minat harus terus terpelihara, termasuk salah satunya adalah minat membaca. Elliot dkk (2000) juga menjelaskan bahwa untuk dapat memperoleh minat siswa dalam proses pembelajaran diperlukan sebuah stimulus yaitu dengan strategi yang berorientasi curiosity atau teknik mengembangkan dan memfasilitasi rasa keingintahuan siswa, dengan demikian untuk memperoleh dan menumbuhkan minat membaca pada siswa diperlukan adanya pengembangan dan pemfasilitasan keingintahuan. Pendapat Elliot dkk diperkuat oleh pendapat Smith & Dechant (1961) bahwa keingintahuan dan gejala untuk bereksplorasi akan membuat seseorang memperoleh minat, termasuk minat membaca.

Kesimpulannya adalah minat membaca tidaklah dapat ada dengan sendirinya, melainkan didapat dari proses pembelajaran dan perkembangan fisik, perbedaan sex (identitas kelamin), status sosial-ekonomi, lingkungan, perkembangan mental dan fisik, pengalaman iasa, budaya, bobot emosi, sifat egosentris, kesiapan belajar dan kesempatan untuk belajar serta pengembangan dan pemfasilitasan keingintahuan.

2.1.11    Metode Pembelajaran Membaca
Bayangkan Anda akan membaca sebuah buku dengan topik pengembangan diri sebanyak 300 halaman.
Apakah Anda akan langsung melakukan pembacaan secara keseluruhan?
Jawabannya tidak. Mungkin Anda bisa langsung membaca buku tersebut dari halaman pertama sampai terakhir, tapi kalau dilakukan tanpa persiapan, besar kemungkinan pemahaman akan bahan bacaan tidak akan baik.

Banyak ahli di bidang pendidikan dan baca cepat mengajarkan metode membaca yang meliputi tahapan berikut:
           Survai (Survey)
           Pertanyaan (Question)
           Membaca (Read)
           Resitasi (Recite)
           Review
Teknik ini dikenal dengan nama SQ3R. Ada pula teknik yang mirip dengan nama sedikit berbeda seperti PQRST (Preview – Question – Read – Summarize – Test) atau dalam buku The Evelyn Wood Seven-Day Speed Reading and Learning Program, Stanley D Frank menjelaskan teknik yang disebut Pembacaan Berlapis (Layered Reading) dengan tahapan: Overview – Preview – Reading – Postview – Review).
Inti dari kesemua cara tersebut kurang lebih sama yakni:
1.    Adanya proses persiapan sebelum pembacaan secara penuh dilakukan
2.    Adanya proses pengulangan atau review untuk memastikan pemahaman akan bahan bacaan
Untuk kemudahan, saya akan menggunakan pendekatan SQ3R sebagai berikut:
1. Survai (Survey)
Yakni proses persiapan membaca dengan cara melihat secara sekilas isi buku mulai dari judul utama, sub judul, cover buku bagian belakang yang menjelaskan secara ringkas topik yang dibahas, kata pengantar dari penulis, maupun daftar isi.
Proses selanjutnya dari tahapan Survey adalah dengan membuka secara cepat halaman demi halaman dan memperhatikan bagian judul bab, sub judul bab, kata-kata khusus yang bercetak tebal atau miring, tabel, gambar sambil mencoba mendapatkan ide besar dari buku tersebut.
Survey yang sukses akan menghasilkan gambaran umum tentang isi buku sekaligus menciptakan minat yang kuat untuk memahaminya. Ini merupakan modal penting untuk membantu proses membaca cepat isi buku secara keseluruhan disamping memastikan tingkat pemahaman yang tinggi akan isi buku.
2. Pertanyaan (Question)
Tahap ini dilakukan bersamaan dengan proses survey terutama ketika Anda mempelajari daftar isi serta mulai membaca sekilas halaman demi halaman secara cepat.
Sambil Anda membaca judul bab, sub judul bab, kata-kata khusus bercetak tebal atau miring, tabel dan gambar maka pada saat yang sama Anda melakukan proses bertanya kepada diri sendiri. Di sini Anda melakukan proses aktif dengan melakukan analisa, sintesa maupun argumentasi terhadap pokok pikiran yang disampaikan penulis buku. Anda bisa menciptakan berbagai pertanyaan seperti:
           Menurut saya bab ini harusnya menjelaskan terlebih dahulu tentang apa itu “Pengembangan Pribadi”
           Menurut saya pengembangan pribadi tidak hanya bersifat skill semata, melainkan pula pengembangan spiritual. Akan tetapi penulis buku ini sepertinya lebih fokus pada pengembangan pribadi yang bersifat skill.
           Saya percaya bahwa pengembangan pribadi akan membantu orang untuk sukses. Namun saya juga meyakini ada faktor-faktor lain yang menyertainya, termasuk Tangan Tuhan di dalamnya.
           Dan seterusnya
Perhatikan dari pertanyaan-pertanyaan di atas, seorang pembaca telah melakukan proses dialog aktif bahkan sebelum pembacaan secara penuh dilakukan. Dengan demikian, secara mental pembaca tersebut sudah siap untuk terjun ke dalam isi bacaan termasuk untuk menguji pembahasan yang diajukan penulis buku dengan apa-apa yang telah dipelajari dan dipahami sebelumnya oleh pembaca tersebut.
Proses inilah yang nantinya akan membantu terjadinya membaca secara aktif. Lewat cara ini, pembaca tidak sekedar “menurut” dengan apa yang disampaikan penulis melainkan turut melakukan analisa, sintesa maupun argumentasi terhadap isi buku.
3. Membaca (Read)
Setelah dua tahap di atas dilakukan, maka mulailah proses membaca secara keseluruhan dilakukan. Dengan adanya persiapan sebelum membaca, maka proses baca keseluruhan isi dapat dilakukan dengan kecepatan tinggi. Hal ini dibantu karena pembaca tersebut telah mengenali ide pokok yang disampaikan penulis, memahami strukturnya, maupun terminologi yang banyak dipakai.
Proses pembacaan keseluruhan ini dapat dilakukan dengan break di tiap akhir bab untuk kemudian melakukan review atau dengan cara menyelesaikan dulu secara total.
4. Resitasi (Recite)
Proses resitasi atau melakukan refleksi atas bahan bacaan dapat Anda lakukan segera setelah mengakhiri satu bab. Langkah ini dilakukan untuk menguji pemahaman atas apa yang telah dibaca. Proses ini dilakukan dengan menceritakan ulang pokok pikiran yang dibahas dalam buku tersebut dengan gaya bahasa Anda sendiri.
Jika hal tersebut dapat dilakukan menunjukkan bahwa Anda memahami isi buku tersebut. Namun jika hal tersebut tidak dapat dilakukan, maka pemahaman Anda sebenarnya masih diragukan.
Proses resitasi ini sangat bermanfaat terutama ketika membaca buku-buku teks perkuliahan yang wajib dikuasai. Proses ini tidak berusaha menghafal apa-apa yang Anda baca melainkan berusaha memahami dengan bahasa sendiri apa-apa yang telah dibaca.
5. Review
Ketika kita menyerap informasi, maka apa-apa yang dibaca akan masuk ke dalam memori jangka pendek. Proses review dilakukan setelah proses membaca selesai agar apa-apa yang dibaca tidak hanya masuk dalam memori jangka pendek melainkan masuk ke memori jangka panjang. Dengan demikian, kapanpun Anda perlu mengingat kembali materi bacaan tersebut, tinggal melakukan proses pemanggilan dari memori jangka panjang.
Proses review awal dilakukan segera setelah mengakhiri bahan bacaan. Hal ini dilakukan mirip dengan proses “Survey” di mana Anda membolak-balik halaman secara cepat sambil melakukan review singkat untuk memastikan apa-apa yang dibaca telah terpahami.
Proses review ini cukup menghabiskan waktu 5 menit saja dan akan bermanfaat sekali dalam jangka panjang terutama terkait pemahaman dan ingatan akan bahan bacaan.
Jika Anda mengabaikan proses review ini, mungkin Anda masih dapat mengingat dengan baik isi bahan bacaan. Akan tetapi, dalam 24 jam pemahaman tersebut akan turun cukup banyak dan terjadi penurunan drastis setelah seminggu.
Buat Anda yang masih berkuliah atau menjalani pendidikan, proses review yang sama perlu dilakukan segera setelah Anda menjalani proses perkuliahan untuk satu topik. Dengan demikian Anda akan menghemat waktu dalam menguasainya dibandingkan dengan berusaha membaca kembali setelah 1 bulan atau menjelang ujian.
Setelah proses review pertama dilakukan, proses review berikutnya dapat dilakukan setelah seminggu dan sebulan. Dengan cara ini, apa-apa yang Anda baca akan masuk ke memori jangka panjang dan akan terus diingat dan dipahami bertahun-tahun.

1.      Membaca Cepat
 Para mahasiswa, apakah Anda mengetahui arti membaca cepat? Membaca cepat artinya membaca yang mengutamakan kecepatan dengan tidak mengabaikan pemahamannya. Bisaanya kecepatan itu dikaitkan dengan tujuan membaca, keperluan (aspek bacaan yang digali), dan berat ringannya bahan bacaan. Artinya seorang pembaca cepat yang baik, tidak menerapkan kecepatan membacanya secara konstan di berbagai cuaca dan keadaan membaca (Nurhadi, 1787:39).

Tarigan (1987) memberi pengertian membaca cepat sebagai membaca segala sesuatu secara cepat dengan teliti dengan maksud untuk menemukan informasi khusus, informasi tertentu yang dia inginkan dari bahan bacaan. Membaca cepat yang baik rata-rata 800- 1000 kata dalam satu menit. Dia tidak akan dapat lulus ujian berdasarkan apa yang telah dibacanya dengan cepat, tetapi dia akan mendapatkan apa yang dicarinya. Sedangkan Harjasujana dan Mulyati menjelaskan hakikat membaca cepat sebagai kegiatan merespon lambang-lambang cetak atau lambang tulis dengan pengertian yang tepat dalam waktu yang relatif singkat. Pembaca yang mahir akan memberikan respon terhadap pernyataan penulis dengan sebaik-baiknya, sehingga ia dapat memahami maksud penulis dengan setepat-tepatnya. Untuk menjadi pembaca yang mahir, memerlukan keuletan dan latihan yang berulang-ulang, terus-menerus sehingga dapat mencapai hasil yang optimal.
Metode membaca cepat tergantung pada beberapa tujuan atau pertanyaan yang telah ditentukan sebelumnya. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memahami intisari bacaan, bukan bagian-bagian rinciannya yang detail-detail. Metode membaca cepat menuntut kecepatan yang paling tinggi. Pembaca harus menggerakkan matanya secara cepat pada seluruh halaman, siap siaga menyaring, atau menyedot informasi tertentu, pengertian tertentu yang dapat memenuhi tujuan semula membaca.
 Seorang pembaca hendaklah melakukan lompatan-lompatan dalam membaca. Maksudnya, melompati bagian-bagian bacaan tertentu yang tidak penting sehingga panjang bacaan menjadi berkurang hingga 30-40%. Bagian-bagian yang boleh dilompati antara lain bagian yang tidak informatif atau bagian yang dianggapnya tidak perlu mendapat respon, Bagian-bagian yang sudah diketahui, dan bagian-bagian kalimat yang tidak berpengaruh jika dihilangkan. Yang perlu dibaca hanyalah kata kunci, ialah kata-kata atau frase-frase yang jika dihilangkan dapat menimbulkan salah paham atau menyebabkan bahan bacaan itu tidak bisa dipahami.
Perhatikan contoh berikut !
Argumentasi adalah …..…. wacana ……… dimaksudkan ……. Meyakinkan pembaca mengenai kebenaran …… disampaikan …… penulisnya karena tujuannya meyakinkan pendapat …. Pemikiran pembaca, …… penulis ….. menyajikan …… logis, ….. sistematis bukti-bukti ….. …. Memperkuat keobjektifan …… kebenaran ……. Disampaikannya sehingga menghapus konflik ….. keraguan pembaca terhadap pendapat penulis. Corak karangan …… ini, …… hasil penilaian, pembelaan …. Timbangan buku.
Wacana tersebut panjangnya sudah berkurang kira-kira 30 %. Setelah mengalami reduksi, kita masih dapat menangkap intisari dari bacaan tersebut. Hal ini disebabkan bagian-bagian yang direduksi itu adalah bagian yang tidak penting. Kemampuan membaca cepat ini tentu sangat bermanfaat, oleh karena itu, guru harus mengajarkan keterampilan ini kepada anak didiknya. Guru harus memberi latihan yang cukup efisien. Dengan demikian anak-anak dapat terampil membaca cepat. Dengan memiliki kemampuan membaca cepat, siswa dapat meninjau kembali secara cepat materi yang pernah dibacanya dan bisa memperoleh pengetahuan yang luas tentang apa yang dibacanya.
2.      Scrambel
Scrambel merupakan istilah dalam bahasa Inggris yang berarti perebutan, pertarungan, perjuangan. Scrambel adalah sejenis permainan anak-anak, yang pada dasarnya merupakan latihan pengembangan dan peningkatan wawasan pemilikan kosakata mereka, dengan jalan berlomba membentuk kosakata-kosakata dari huruf-huruf yang tersedia.
 Konsep scrambel selanjutnya dipinjam untuk kepentingan pengajaran membaca. Sasaran utamanya pada dasarnya sama, yaitu mengajak anak untuk berlatih menyusun sesuatu agar sesuatu itu menjadi bermakna. Dalam pengajaran membaca, bisaanya anak diajak untuk berlatih menyusun suatu organisasi tulisan yang secara sengaja dikacaukan, untuk kemudian anak diminta untuk menataulang susunan tulisan yang kacau menjadi tulisan yang utuh dan bermakna. Melalui metode ini, siswa dapat dilatih berkreasi dengan susunan baru yang mungkin lebih baik dari susunan aslinya. Metode pembelajaran ini akan memungkinkan siswa untuk belajar sambil bermain. Mereka dapat berrekreasi sekaligus belajar dan berpikir, mempelajari sesuatu secara santai dan tidak membuatnya stres atau tertekan.
Pada prinsipnya, metode ini menghendaki siswa untuk melakukan penyusunan atau pengurutan suatu struktur bahasa yang sebelumnya dengan sengaja telah diacak susunannya. Sesuai dengan sifat jawabannya, scramble terdiri atas beberapa bentuk, yaitu:
Ø  Scramble kata; yaitu sebuah permainan menyusun kata-kata dari huruf-huruf yang telah diacak letak huruf-hurufnya sehingga membentuk suatu kata tertentu yang bermakna.
Misalnya dari huruf-huruf : selhako – sekolah rgamase – seragam
(b) Scramble kalimat; yaitu sebuah permainan menyusun kalimat dari kata-kata acak sehingga membentuk kalimat logis, bermakna, tepat, dan benar.
(c) Scramble wacana; yaitu sebuah permainan menyusun wacana logis berdasarkan kalimat-kalimat acak, sehingga membentuk wacana logis dan bermakna.

3.      Isian Rumpang
Metode isian rumpang, selain dapat dipergunakan sebagai alat untuk menguji keterbacaan, juga dapat dipergunakan sebagai metode pengajaran membaca. Dalam fungsinya sebagai alat ajar membaca, prosedur isian rumpang ini sangat bermanfaat dalam meningkatkan keterampilan membaca siswa.
Fungsi utama dari prosedur isian rumpang adalah sebagai alat ukur dan sebagai alat ajar. Sebagai alat ukur tingkat keterbacaan wacana, bermanfaat untuk menguji tingkat kesukaran dan kemudahan bahan bacaan, mengklasifikasikan tingkat baca siswa (pembaca), dan mengetahui kelayakan wacana sesuai dengan peringkat siswa. Sebagai alat ajar, isian rumpang dipergunakan untuk melatih kemampuan dan keterampilan membaca siswa dalam hal penggunaan isyarat sintaksis, penggunaan isyarat semantik, pengunaan isyarat skematik, peningkatan kosakata, dan peningkatan daya nalar dan sikap kritis siswa terhadap bahan bacaan. Dengan manfaat tersebut, guru dalam waktu relatif singkat akan mengetahui tingkat keterbacaan wacana, tingkat keterpahaman siswa, dan latar belakang pengalaman, minat, dan bahasa siswa.
Proses kerja dari metode isian rumpang adalah berupa penyajian suatu wacana yang secara sengaja dirumpangkan. Perumpangan itu dilakukan dengan cara melesapkan kata-kata tertentu sesuai dengan kriteria untuk masing-masing fungsi. Pelesapan untuk wacana rumpang dalam fungsinya sebagai alat ukur hendaknya memperhatikan kesistematisan jarak lesap. Jarak lesapan yang dimaksud berkisar antara kata ke-5 hingga kata ke-7. Untuk kepentingan ajar, lesapan yang dibuat tidak perlu demikian, namun dapat dilakukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan guru mengenai tingkat kebutuhan yang perlu dilatihkan kepada siswa, misalnya kata kerja, kata benda, kata penghubung, atau kata-kata tertentu yang dianggap penting. Tugas pembaca adalah mengisi bagian-bagian yang dilesapkan itu dengan kata yang dianggap tepat dan sesuai dengan tuntutan maksud wacana.

2.1.12    Proses Membaca
Menurut beberapa ahli ada beberapa model pemahaman proses membaca, diantaranya model bottom-up, top-down, dan model interaktif. Model botton-up menganggap bahwa pemahaman proses membaca sebagai proses decoding yaitu menerjemahkan simbol-simbol tulis menjadi simbol-simbol bunyi. Pendapat itu menurut Harjasujana (1986: 34) sama dengan pendapat Flesch (1955) yang mengatakan bahwa membaca berarti mencari makna yang ada dalam kombinasi huruf-huruf tertentu. Begitu juga menurut pendapat Fries (dalam Harjasujana, 1986:34) bahwa membaca sebagai kegiatan yang mengembangkan kebisaaan-kebisaaan merespon pada seperangkat pola yang terdiri atas lambang-lambang grafis. Pendapat-pendapat di atas ternyata ditentang oleh Goodman (dalam Cox, 1998:   270) yang menyatakan bahwa membaca sebagai proses interaksi yang menyangkut sebuah transaksi antara teks dan pembaca. Pembaca yang sudah lancar pada umumnya meramalkan apa yang dibacanya dan kemudian menguatkan atau menolak ramalannya itu berdasarkan apa yang terdapat dalam bacaan, membacaseperti itu disebut model top-down. Kedua pendapat yang menyatakan model bottom-up dan model top-down akhirnya dipersatukan oleh Rumelhart dengan nama model interaktif. Rumelhart (dalam Harrisdan Sipay, 1980: 8) menyatukan dua pendapat itu dengan alasan bahwa proses belajar membaca permulaan bergantung pada informasi grafis dan pengetahuan yang berada dalam skemata. Membaca merupakan suatu proses menyusun makna melalui interaksi dinamis di antara pengetahuan pembaca yang telah ada dan informasi itu telah dinyatakan oleh bahasa tulis dan konteks situasi pembaca. Burns, dkk. (1996: 6) menyatakan bahwa aktifitas membaca terdiri atas dua bagian, yaitu proses membaca dan produk membaca. Dalam proses membaca ada Sembilan aspek yang jika berpadu dan berinteraksi secara harmonis akan menghasilkan komunikasi yang baik antara pembaca dan penulis. Komunikasi antara pembaca dan penulis itu berasal dari pengkonstruksian makna yang dituangkan dalam teks dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Lebih lanjut Burns, dkk. (1996:8)mengemukakan sembilan proses membaca tersebut yaitu:
(1) mengamati simbol-simbol tulisan,
(2) menginterprestasikan apa yang diamati,
(3) mengikuti urutan yangbersifat linier baris kata-kata yang tertulis,
(4) menghubungkan kata-kata (dan maknanya) dengan pengalaman dan pengetahuan yang telah dipunyai,
(5) membuat referensi dan evaluasi materi yang dibaca,
(6) mengingat apa yang dipelajarisebelumnya dan memasukkan gagasan-gagasan dan fakta-fakta baru,
(7) membangun asosiasi,
(8) menyikapi secara personal kegiatan/tugas membaca sesuai dengan interesnya,
(9) mengumpulkan serta menata semua tanggapan indera untuk memahami materi yang dibaca.

2.1.13    Periode Membaca


 







1.      Prabaca
Menurut Burns, dkk. (1996: 224) siswa akan terdorong memahami keseluruhan materi jika para guru membisaakan kegiatan membaca dengan aktivitas prabaca, saatbaca, dan pascabaca. Tahap-tahap membaca itu tidak sama prosedurnya. Tahap prabaca berbeda dengan tahap saat-baca dan pasca baca sebab tahap-tahap itu memerlukan teknik pembelajaran yang berbeda pula.Aktivitas pada tahap prabaca sangat berguna bagi mahasiswa untuk membangkitkan pengetahuan sebelumnya. Aktivitas tersebut menurut Burns, dkk. (1996:224) bisa berupa membuat prediksi tentang isi bacaan, dan menyusun pertanyaan tujuan. Adapun Moore (1991: 22) menyarankan kepada siswa agar pada prabaca, siswa menganalisis judul bab, subjudul, gambar, pendahuluan yang dilanjutkan dengan menyusun pertanyaan. Leo (1994: 5) mempertegas pendapat Moore bahwa sebelum kegiatan membaca, siswa mensurvei judul bab supaya ias mengembangkan membaca secara efektif ,dan bisa mengatur waktunya secara fleksibel.


2.       Saat-baca
Aktivitas pada tahap saat-baca merupakan kegiatan setelah prabaca. Kegiatan ini dilakukan siswa untuk memperoleh pengatahuan baru dari kegiatan membaca teks bacaan. Dalam membaca tersebut, siswa akan berusaha secara maksimal memahami teks bacaan dengan berbagai strategi. Burns, dkk. (1996:229-236) mengemukakan beberapa strategi dan aktivitas yang dapat digunakan pada saat-baca untuk meningkatkan pemahaman tersebut. Strategi dan aktivitas yang dimaksud meliputi strategi mata kognitif, prosedur cloes dan pertanyaan penuntun. Sedangkan Leo (1994: 8) lebih menekankan pada kegiatan membaca dengan cara menandai bagian-bagian yang dianggap penting dan atau membuat ikhtisar bacaan tersebut.

3.      Pasca-baca
Aktivitas pada tahap pasca baca, menurut Burns, dkk. (1996:237) digunakan untuk membantu siswa memadukan informasi baru yang dibacanya ke dalam skema yang telah dimilikinya sehingga diperoleh tingkat pemahaman yang lebih tinggi. Strategi yang bisa digunakan dalam pasca baca dapat berupa pembelajaran pengayaan, pertanyaan, representasi visual, teater pembaca, penceritaan kembali dan aplikasi.

2.2   Hasil Observasi
a.       Tahu
59 siswa
b.      Ragu-ragu
26 siswa
c.       Tidak tahu
5 siswa
Kesimpulan:
Hasil observasi menunjukan bahwa siswa SMPN 158 Jakarta lebih banyak yang mengetahui tentang membaca sebanyak 65% (59 siswa),  siswa yang merasa ragu-ragu mengetahui tentang membaca sebanyak 29% (26 siswa), dan yang tidak mengetahui tentang membaca sebanyak 5% (5 siswa).

a.       Membosankan
5 siswa
b.      Menjenuhkan
8 siswa
c.       Menyenangkan
77 siswa




Kesimpulan:
Hasil observasi siswa SMPN 158 Jakarta menunjukan bahwa kegiatan membaca bagi para siswa di anggap menyenangkan sebanyak 86% (77 siswa), siswa yang menganggap membaca itu menjenuhkan sebanyak 9% (8 siswa), dan siswa yang menganggap kegiatan membaca itu membosankan sebanyak 5% (5 siswa).

a.       Fiksi
67 siswa
b.      Non fiksi
23 siswa
Kesimpulan:
Hasil observasi siswa SMP 158 Jakarta menunjukan buku jenis fiksi yang sering dibaca oleh siswa sebanyak 74% (67 siswa) dan buku jenis non fiksi dibaca oleh siswa sebanyak 26% (23 siswa).


a.       < 10 menit
33 siswa
b.      10-30 menit
44 siswa
c.       30-60 menit
16 siswa
d.      >  60 menit
9 siswa
Kesimpulan:
Hasil observasi menunjukan siswa SMPN 158 Jakarta dalam sehari lama membaca buku 10-30 menit sebanyak 52% (44 siswa), siswa yang dalam sehari lama membaca buku < 10 menit sebanyak 27% (33 siswa), siswa yang dalam sehari lama membaca buku 30-60 menit sebanyak 19% (16 siswa), dan siswa yang dalam sehari > 60 menit sebanyak 2% (9 siswa).
a.       Tahu
83 siswa
b.      Tidak tahu
7 siswa
Kesimpulan:
Hasil observasi siswa SMPN 158 Jakarta menunjukan bahwa siswa yang mengetahui fungsi membaca sebanyak 92% (83 siswa) dan siswa yang membaca sebanyak 8% (7 siswa).
a.       < 2 buku
52 siswa
b.      2-5 buku
29 siswa
c.       > 5 buku
9 siswa

Kesimpulan:
Hasil observasi siswa SMPN 158 Jakarta menunjukan bahwa siswa yang membaca buku < 2 dalam sebulan sebanyak 58% (52 siswa), siswa yang membaca 2-5 buku dalam sebulan sebanyak 33% (29 siswa) dan siswa yang membaca buku > 5 buku dalam sebulan sebanyak 10% (9 siswa)

a.       < 3 buku
43 siswa
b.      3-5 buku
28 siswa
c.       > 5 buku
19 siswa
Kesimpulan:
Hasil observasi siswa SMPN 158 Jakarta menunjukan bahwa siswa yang membaca buku < 3 dalam sebulan sebanyak 48% (43 siswa), siswa yang membaca 3-5 buku dalam sebulan sebanyak 31% (28 siswa) dan siswa yang membaca buku > 5 buku dalam sebulan sebanyak 21% (19 siswa)

a.       Koran
6 siswa
b.      Majalah
3 siswa
c.       Buku Pelajaran
19 siswa
d.      Buku Novel
24 siswa
e.       Buku Populer
1 siswa
f.       Buku Komik
31 siswa
g.      Jurnal
4 siswa

Kesimpulan:
Hasil observasi siswa SMPN 158 Jakarta menunjukan bahwa jenis bacaan yang paling sering dibaca yaitu koran sebanyak 3% (6 siswa), siswa yang jenis bacaan yang paling sering dibaca yaitu majalah sebanyak 3% (3 siswa), siswa yang jenis bacaan yang paling sering dibaca yaitu buku pelajaran sebanyak 22% (19 siswa), siswa yang jenis bacaan yang paling sering dibaca yaitu buku novel 28% (24 siswa), siswa yang jenis bacaan yang paling sering dibaca yaitu buku popular sebanyak 1% (1 siswa), siswa yang jenis bacaan yang paling sering dibaca yaitu buku komik seabanyak 36% (31 siswa) dan siswa yang jenis bacaan yang paling sering dibaca yaitu jurnal sebanyak 5% (4 siswa)


a.       Novel
28 siswa
b.      Cerpen
7 siswa
c.       Dongeng
14 siswa
d.      Komik
41 siswa
Kesimpulan:
Hasil observasi siswa SMPN 158 Jakarta menunjukan bahwa siswa paling menyukai komik dibanding buku yang lain dengan persentase 46% dengan jumlah siswa sebanyak 41 siswa, novel 31% sebanyak 28 siswa, dongeng 15% sebanyak 14 siswa dan cerpen 8% sebanyak 7 siswa.


a.       Ya
15 siswa
b.      Terkadang beli
43 siswa
c.       Tidak
28 siswa
Kesimpulan:   
Hasil observasi menunjukan bahwa siswa SMPN 158 Jakarta yang berlangganan Koran atau majalah sebanyak 17% (15 siswa), yang terkadang membeli sebanyak 48% (43 siswa) sedangkan yang tidak berlangganan Koran atau majalah sebanyak 35% (28 siswa).
a.       Membaca
82 siswa
b.      Mengobrol
4 siswa
c.       Mengerjakan tugas
4 siswa
Kesimpulan:
Hasil observasi menunjukkan bahwa siswa SMPN 158 Jakarta sebanyak 94% (82 siswa) membaca di perpustakaan, 2% (4 siswa) mengobrol di perpustakaan, dan 2% (4 siswa) mengerjakan tugas di perpustakaan.

a.       Tidak pernah
23 siswa
b.      <2 kali
42 siswa
c.       2-5 kali
18 siswa
d.      >5 kali
7 siswa
Kesimpulan:
Hasil observasi dari 90 siswa SMPN 158 Jakarta, 23 siswa (21%) tidak pernah mengunjungi perpustakaan dalam seminggu, 42 siswa (50%) kurang dari 2 kali pergi ke perpustakaan dalam seminggu, 18 siswa (21%) mengunjungi perpustakaan 2 sampai 5 kali.

a.       Tidak
88 siswa
b.      Punya
2 siswa
Kesimpulan :
Hasil observasi menunjukkan bahwa 98% (88 siswa) siswa SMP 158 Jakarta menjawab bahwa mereka tidak memiliki kartu perpustakaan lain selain dari sekolah sedangkan sebanyak 2% (2 siswa) dari siswa tersebut mengaku punya.

a.       Sering
19 siswa
b.      Kadang-kadang
68 siswa
c.       Tidak pernah
3 siswa
Kesimpulan :
Hasil observasi menunjukkan bahwa 21% (19 siswa) siswa menjawab sering diberi tugas  yang mencari dari sumber koran atau majalah. Sebanyak 77% (68 siswa) menjawab kadang-kadang saja diberi tugas itu. Sedangkan 2%(3 siswa) menjawab tidak pernah.

a.       Jalan-jalan
10 siswa
b.      Browsing internet
30 siswa
c.       Membaca buku
13 siswa
d.      Menonton tv
28 siswa
e.       Bermain game
9 siswa
Kesimpulan :
Hasil observasi menunjukan bahwa siswa SMP 158 Jakarta lebih suka mengisi waktu luangnya dengan browsing internet (sebanyak 34% atau 30 siswa), 32% siswa lebih memilih menonton tv, 10% memilih bermain game, 9% memilih jalan-jalan dan sebanyak 13% memilih membaca buku.

a.       Membaca adalah sumber ilmu
67 siswa
b.      Membaca lebih penting dari bergosip
7 siswa
c.       Karena besok ada ulangan
4 siswa
d.      Tidak ada pekerjaan lain
4 siswa
e.       Lain-lain
8 siswa



Kesimpulan:
Sebanyak 74% (67 siswa) siswa SMP menjawab bahwa pilihan membaca adalah sumber ilmu adalah hal yang memotivasi dalam membaca. 8% (7 siswa) siswa SMP memilih jawaban bahwa membaca lebih penting dari bergosip, 5% (4 siswa) termotivasi membaca karena besok ada ulangan dan 4% (4 siswa) memilih membaca karena tidak ada pekerjaan lain. Sisanya sebanyak 9% (8 siswa) memilih motivasi lain-lain seperti membaca adalah sumber wawasan, ilmu, dan informasi.

a.       Menambah wawasan
66 siswa
b.      Mengisi waktu luang
13 siswa
c.       Mencari informasi
6 siswa
d.      Agar terlihat intelek
3 siswa
e.       Lain-lain
1 siswa
Kesimpulan:
Hasil observasi menunjukkan bahwa 73% (66 siswa) dari siswa SMP merasakan bahwa menambah wawasan adalah manfaat paling dominan dari membaca. Sebanyak 14% (13 siswa) menjawab bahwa manfaat dominan lainnya adalah mengisi waktu luang. Sedangkan 7% (6 siswa) menjawab manfaat membaca paling dominan adalah untuk mencari informasi, sebanyak 3% (3 siswa) manfaat membaca adalah agar terlihat intelek sisanya 3% (1 siswa) merasakan manfaat lain-lain seperti agar pintar sebagai manfaat dominan.




BAB III
Penutupan

Kesimpulan
Membaca adalah proses pengucapan tulisan untuk mendapatkan isinya. Pengucapan tidak selalu dapat didengar, misalnya membaca dalam hati. Selanjutnya, membaca merupakan aktivitas yang tidak bisa dilepaskan dari menyimak, berbicara, dan menulis. Sewaktu membaca, pembaca yang baik akan memahami bahan yang dibacanya. Selain itu, dia bisa mengkomunikasikan hasil membacanya secara lisan atau tertulis. Dengan demikian, membaca merupakan keterampilan berbahasa yang berkaitan dengan keterampilan berbahasa lainnya. Jadi, membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa, proses aktif, bertujuan, serta memerlukan strategi tertentu sesuai dengan tujuan dan jenis membaca.

Saran
Setelah membaca makalah ini, diharapkan pembaca lebih memahami konsep membaca, hakikat membaca, macam-macam membaca, tujuan dan manfaat membaca. Dengan demikian bertambah minat membaca dan keterampilan berbahasa si pembaca. Selain itu, diharapkan para pembaca dapat mempraktikkan cara membaca yang baik.





Daftar Pustaka
Affandi, Achmad. 2010.  Membaca. Dalam http://merahitam.com/teknik-membaca-cepat-skimming-dan-scanning.html. Diunduh 11 september 2012 pukul 11.03 WIB
Syamrilaode.  2010.  Tujuan Membaca . Dalam http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/2060360-tujan membaca/#ixzz2685QJcVm. Diunduh 7 september 2010
Tarigan, Henry Guntur. 2008. Membaca Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Wiryodijoyo, Drs. Suwaryono. 2005. Membaca : Strategi Pengantar dan Tekniknya. Jakarta. DEPDIKBUD.
Pandawa, nurhayati. 2009. Pembelajaran Membaca. Dalam http://www.scribd.com/doc/57525928/30/A-Konsep-Membaca. Di unduh 10 September 2012.




2 komentar:

  1. Terimakasih atas postingannya ^^
    Saya mau tanya, kalau data mengenai "faktor selain faktor akademik yang perlu dipertimbangkan di dalam kesiapan membaca" sumbernya darimana ya?
    Saya perlu sumbernya untuk melengkapi Laporan Kerja Praktek saya.

    Terimakasih sebelumnya ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. banyak buku rujukan yang saya dapat bisa lihat buku-buku Tarigan, bisa juga Guru Bahasa Indonesia Profesional karya Prof. Suherli, atau Meningkatkan Keterampilan Berbahasa Indonesia Teori dan Aplikasi karya Kundhu Saddhono dll

      Hapus