Sabtu, 04 Mei 2013

Esai "INDONESIA BERKACA DARI CHINA SEBAGAI BAHASA INTERNASIONAL KEDUA"


INDONESIA BERKACA DARI CHINA
SEBAGAI BAHASA INTERNASIONAL KEDUA

Oleh: Muhammad Yusuf Saputro
            Sekarang  ini globalisasi telah merambah di segala bidang, baik di negara demokrasi, sosialis, maupun liberal. Salah satu bidang yang  tentu tak dipungkiri lagi adalah linguistik atau bahasa. Seperti yang kita ketahui Inggris telah bertahun-tahun lamanya menjajah. Konsekuensinya, jumlah negara jajahan tersebar luas hampir di seluruh dunia.
            Kolonialisme suatu bentuk imperalisme yang juga mencakup suatu sistem pemerintahan negera jajahan. Tidak mengherankan apabila negara jajahan pun akhirnya “berkiblat” bahasa pada induknya. Hal ini mengakibatkan penggunaan bahasa Inggris di seluruh daerah jajahan, yang berarti hampir seluruh dunia menggunakan bahasa Inggris hingga saat ini. itulah yang menyebabkan bahasa Inggris dijadikan sebagai bahasa internasional yang tentu intensitas penggunaannya bertambah seiring dengan meningkatnya laju globalisasi dunia.
            Akan tetapi, tahukan bahwa akhir-akhir ini bahasa China, atau yang lebih dikenal dengan bahasa Mandarin, diprediksikan menjadi bahasa internasional kedua yang mungkin akan menggantikan bahasa Inggris. Ada banyak faktor pendukung postulat ini, seperti dominasi internasional perekonomian China, jumlah penduduk China, serta dukungan politis pemerintah China.
            Pertama adalah dominasi internasional perekonomian China. Seperti yang kita ketehui, China merupakan Negara sosialis komunis yang bertahun-tahun menutup diri dari intervensi pihak asing. “Negara tirai bamboo” itulah sebuah julukan bagi neegara barongsai itu. Namun, sejak Deng Xiao Ping mengeluarkan kebijakan politik berupa modernisasi perekonomian China semakin mantap hingga sekarang. Konsekuensinya bukanlah suatu hal yang sulit untuk menemukan produk China berbagai variasi harga dan kualitas yang bervariasi pula. Hal ini mendorong ekspansi bisnis para pengusaha China yang diiringi dengan pembukaan perusahaan-perusahaan China diberbagai negara. Jumlah perusahan China yang semakin bertambah ini membuka lapangan kerja yang semakin luas. kesempatan kerja dapat diraih dengan mudah, terutama bagi mereka yang berpendidikan tinggi, dengan keahlian tambahan berupa kemampuan berbahasa China. Hal ini mengakibatkan pembelajaran bahasa China dalam kurikulum sekolah semakin meningkat. Bukanlah hal yang sulit untuk menemukan tempat-tempat kursus yang menawarkan bahasa China sebagai pilihan saat ini. semua hal tersebut tentu dilakukan untuk mencetak tenaga kerja yang lebih andal dan kompetitif dalam usaha pemenuhan pasar tenaga kerja China.
            Indonesia adalah negara terbesar di Asia Tenggara. Jika diurutkan sejarah, seperti diketahui bahasa Melayu adalah bahasa pasar. Bahasa pasar tercipta dari gabungan bahasa-bahasa pedagang dari seluruh penjuru dunia yang dulu sempat singgah di Melayu. Karena pada awalnya bahasa Indonesia adalah bentukan dari bahasa pedagang dari seluruh dunia, maka bahasa Indonesia memiliki ribuan kata yang diserap dari bahasa beberapa bangsa di dunia. Penambahan kosakata baru, baik diserap dari bahasa asing maupun dari bahasa daerah, hingga pada akhirnya ejaannya disempurnakan.  Proses itulah yang menyebabkan bahasa Indonesia begitu kaya. Negara Khatulistiwa ini berada dalam jalur perdagangan internasional yang menghubungkan antara dua samudra yaitu Samudra Pasifik dengan Samudra Hindia, serta menghubungan dua benua yaitu Benua Asia  dengan Benua Australia. Tanpa adanya Indonesia persebaran barang-barang eksport di dunia tidak akan tersalurkan ke negara-negara tujuan. Mari kita berpikir dengan kondisi Indonesia yang sekarang ini, maka negara-negara yang menjadikan Indonesia sebagai jalur ekport mau atau tidak mau harus belajar bahasa Indonesia dengan ketentuan pemerintah harus menggunakan sistem di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Jadi, semua orang atau siapa pun yang berada di wilayah Indonesia harus menggunakan bahasa Indonesia.
            Ketertarikan Negara lain dengan Indonesia dapat pula menjadikan Bahasa Indonesia berkembang. Kita ambil contoh pada masa penjajahan banyak pemikir-pemikir yang mempelajari bahasa dan kebudayaan Indonesia melalui naskah-naskah kuno dengan tujuan agar dapat mudah berkomunikasi dengan penduduk Indonesia dan dapat menjajah Indonesia. Sekarang ini dengan keunikan dan keberagaman budaya Indonesia tak kalah banyaknya orang-orang asing untuk mempelajari bahasa Indonesia. Dengan kebudayaan pula dapat menyebarkan bahasa Indonesia di dunia Internasional.
            Kedua adalah jumlah penduduk China. Kita mungkin ingat pelajaran geografi dasar yang membahas jumlah penduduk di setiap negara. Dapat dipastikan bahwa China-lah yang selalu menjadi primadona dalam pembahasan tersebut. Jumlah penduduk yang mencapai lebih kurang satu miliyar dan tersebar di seluruh dunia menjadikan pemerataan penggunaan Bahasa China di seluruh dunia.
            Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke-4 di dunia setelah RRC (± 1.298.847.624 jiwa), India (± 1.065.070.607 jiwa), dan Amerika Serikat (± 293.027.571 jiwa), Indonesia memiliki kekuatan “dahsyat” untuk menjadi negara besar yang sangat diperhitungkan dalam kancah pergaulan global. Berdasarkan pendataan penduduk oleh Kementerian Dalam Negeri, sebagaimana disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi, jumlah penduduk Indonesia terhitung 31 Desember 2010 mencapai 259.940.857 jiwa yang terdiri atas 132.240.055 laki-laki dan 127.700.802 perempuan (lihat nasional.kompas.com).
            Jumlah penduduk sebesar itu sesungguhnya bisa dioptimalkan sebagai modal sosial untuk menjadikan bangsa ini sebagai sebuah bangsa yang memiliki pengaruh besar dalam ikut membangun peradaban dunia yang bermartabat dan berbudaya. Tak hanya di bidang politik, ekonomi, atau sosial, tetapi juga di bidang kebudayaan. Di ranah kebudayaan, misalnya, bangsa kita mampu meningkatkan peran dan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional. Penduduk Indonesia yang tersebar di berbagai belahan dunia bisa dimanfaatkan sebagai “agen-agen budaya” untuk memperkenalkan dan memanfaatkan bahasa Indonesia sebagai sarana “dialog kebudayaan” lintas-bangsa, sehingga secara bertahap bahasa Indonesia makin dikenal dan dipahami oleh penduduk dunia. Tidak berlebihan apabila banyak kalangan menilai, sudah saatnya Bahasa Indonesia benar-benar didorong dan diberikan ruang seluas-luasnya untuk menjadi bahasa internasional.
            Ketiga adalah dukungan politis pemerintah China. China merupakan negara sosialis komunis. Penggunaan ideologi tersebut merefleksikan kepribadian bangsa china. Penyebaran penduduk hamper diseluruh dunia tidak membuat mereka lupa akan negara asalnya, China. Mereka tetap makan makanan China, melaksanakan ritual China, dan terkadang tetap berbahasa China. Pemerintah China juga memberikan  banyak beasiswa bagi mahasiswa di seluruh dunia yang ingin belajar bahasa China.
            Dukungan suprastrukturnya juga sudah cukup kuat, sehingga peluang bahasa Indonesia untuk menjadi bahasa internasional benar-benar terbuka. Selain itu, bahasa Indonesia juga telah diajarkan kepada orang asing di berbagai lembaga, baik di dalam maupun di luar negeri. Di dalam negeri misalnya, saat ini tercatat tidak kurang dari 76 lembaga yang telah mengajarkan Bahasa Indonesia kepada penutur asing, baik di perguruan tinggi, sekolah, maupun di lembaga-lembaga kursus. Sementara itu di luar negeri, pengajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) juga telah dilakukan di 46 negara yang tersebar di seluruh benua dengan 179 lembaga penyelenggara.
            Tantangan bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional terlihat dari berbagai aspek. Pertama rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia menyebabkan susahnya mengembangkan bahasa Indonesia. Dalam penggunaan bahasa banyak orang Indonesia yang belum memperdulikan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal ini akan menghambat pengakuan bahasa Indonesia sebagai bahasa Internasional. Kedua yaitu paradigma masyarakat tentang penggunaan bahasa asing sebagai gengsi sosial. Sebuah tren penggunaan bahasa daerah dikalahkan oleh bahasa Indonesia dan penggunaan bahasa Indonesia dikalahkan oleh bahasa Inggris. Orang banyak berpikir bahwa menggunakan bahasa asing yaitu bahasa Inggris menunjukan gengsi sosial yang tinggi dan dianggap orang berpendidikan. Tren ini dapat dilihat dengan berkembangnya sekolah-sekolah berstandar internasioanal yang menggunakan bahasa Inggris sebagi bahasa peengantar.
Tantangan lain dari bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional yaitu daya tawar politik dan ekonomi yang rendah. Kesiapan bahasa menjadi bahasa Internasional yang digunakan banyak negara bergantung pada seberapa besar ketergantungan terhadap bahasa tersebut dalam berbagai aspek, seperti ekonomi, sosial, dan budaya. Seberapa besar peran bahasa Indonesia dalam kegiatan perekonomian dunia Misalnya menggunakan bahasa Indonesia lebih memudahkan kegiatan perekonomian.
Simpulannya, tidak ada yang abadi di dunia ini. Bisa jadi, Inggris yang sekarang berkuasa sebagai bahasa internasional. Namun, seperti roda berputar, bukanlah hal yang mustahil bagi China atau pun Indonesia menduduki kursi emas bahasa internasional itu mengingat berbagai poslat yang merupakan dukungan dan tantangan dalam esai ini. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar