Sabtu, 04 Mei 2013

IPTEK dalam Islam


2.1  LANDASAN AGAMA TENTANG ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
Ø  Paradigma Hubungan Agama-Iptek

Untuk memperjelas, akan disebutkan dulu beberapa pengertian dasar. Ilmu pengetahuan (sains) adalah pengetahuan tentang gejala alam yang diperoleh melalui proses yang disebut metode ilmiah (scientific method) (Jujun S. Suriasumantri, 1992). Sedang teknologi adalah pengetahuan dan ketrampilan yang merupakan penerapan ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia sehari-hari (Jujun S. Suriasumantri, 1986). Perkembangan iptek, adalah hasil dari segala langkah dan pemikiran untuk memperluas, memperdalam, dan mengembangkan iptek (Agus, 1999). Agama yang dimaksud di sini, adalah agama Islam, yaitu agama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw, untuk mengatur hubungan manusia dengan Penciptanya (dengan aqidah dan aturan ibadah), hubungan manusia dengan dirinya sendiri (dengan aturan akhlak, makanan, dan pakaian), dan hubungan manusia dengan manusia lainnya (dengan aturan mu’amalah dan uqubat/sistem pidana) (An-Nabhani, 2001).

Bagaimana hubungan agama dan iptek? Secara garis besar, berdasarkan tinjauan ideologi yang mendasari hubungan keduanya, terdapat 3 (tiga) jenis paradigma (Lihat Yahya Farghal, 1990: 99-119):

Pertama, paradagima sekuler, yaitu paradigma yang memandang agama dan iptek adalah terpisah satu sama lain. Sebab, dalam ideologi sekularisme Barat, agama telah dipisahkan dari kehidupan (fashl al-din ‘an al-hayah). Agama tidak dinafikan eksistensinya, tapi hanya dibatasi perannya dalam hubungan pribadi manusia dengan tuhannya. Agama tidak mengatur kehidupan umum/publik. Paradigma ini memandang agama dan iptek tidak bisa mencampuri dan mengintervensi yang lainnya. Agama dan iptek sama sekali terpisah baik secara ontologis (berkaitan dengan pengertian atau hakikat sesuatu hal), epistemologis (berkaitan dengan cara memperoleh pengetahuan), dan aksiologis (berkaitan dengan cara menerapkan pengetahuan).

Paradigma ini mencapai kematangan pada akhir abad XIX di Barat sebagai jalan keluar dari kontradiksi ajaran Kristen (khususnya teks Bible) dengan penemuan ilmu pengetahuan modern. Semula ajaran Kristen dijadikan standar kebenaran ilmu pengetahuan. Tapi ternyata banyak ayat Bible yang berkontradiksi dan tidak relevan dengan fakta ilmu pengetahuan. Contohnya, menurut ajaran gereja yang resmi, bumi itu datar seperti halnya meja dengan empat sudutnya. Padahal faktanya, bumi itu bulat berdasarkan penemuan ilmu pengetahuan yang diperoleh dari hasil pelayaran Magellan. Dalam Bible dikatakan:

“Kemudian daripada itu, aku melihat empat malaikat berdiri pada keempat penjuru angin bumi dan mereka menahan keempat angin bumi, supaya jangan ada angin bertiup di darat, atau di laut, atau di pohon-pohon.” (Wahyu-Wahyu 7:1)
Kalau konsisten dengan teks Bible, maka fakta sains bahwa bumi bulat tentu harus dikalahkan oleh teks Bible (Adian Husaini, Mengapa Barat Menjadi Sekular-Liberal, www.insistnet.com) Ini tidak masuk akal dan problematis. Maka, agar tidak problematis, ajaran Kristen dan ilmu pengetahuan akhirnya dipisah satu sama lain dan tidak boleh saling intervensi.

Kedua, paradigma sosialis, yaitu paradigma dari ideologi sosialisme yang menafikan eksistensi agama sama sekali. Agama itu tidak ada, dus, tidak ada hubungan dan kaitan apa pun dengan iptek. Iptek bisa berjalan secara independen dan lepas secara total dari agama. Paradigma ini mirip dengan paradigma sekuler di atas, tapi lebih ekstrem. Dalam paradigma sekuler, agama berfungsi secara sekularistik, yaitu tidak dinafikan keberadaannya, tapi hanya dibatasi perannya dalam hubungan vertikal manusia-tuhan. Sedang dalam paradigma sosialis, agama dipandang secara ateistik, yaitu dianggap tidak ada (in-exist) dan dibuang sama sekali dari kehidupan.

Paradigma tersebut didasarkan pada pikiran Karl Marx (w. 1883) yang ateis dan memandang agama (Kristen) sebagai candu masyarakat, karena agama menurutnya membuat orang terbius dan lupa akan penindasan kapitalisme yang kejam. Karl Marx mengatakan:

“Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of the heartless world, just as it is the spirit of a spiritless situation. It is the opium of the people.”

(Agama adalah keluh-kesah makhluk tertindas, jiwa dari suatu dunia yang tak berjiwa, sebagaimana ia merupakan ruh/spirit dari situasi yang tanpa ruh/spirit. Agama adalah candu bagi rakyat) (Lihat Karl Marx, Contribution to The Critique of Hegel’s Philosophy of Right, termuat dalam On Religion, 1957:141-142) (Ramly, 2000: 165-166).

Berdasarkan paradigma sosialis ini, maka agama tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan iptek. Seluruh bangunan ilmu pengetahuan dalam paradigma sosialis didasarkan pada ide dasar materialisme, khususnya Materialisme Dialektis (Yahya Farghal, 1994: 112). Paham Materialisme Dialektis adalah paham yang memandang adanya keseluruhan proses perubahan yang terjadi terus menerus melalui proses dialektika, yaitu melalui pertentangan-pertentangan yang ada pada materi yang sudah mengandung benih perkembanganitu sendiri (Ramly, 2000: 110).

Ketiga, paradigma Islam, yaitu paradigma yang memandang bahwa agama adalah dasar dan pengatur kehidupan. Aqidah Islam menjadi basis dari segala ilmu pengetahuan. Aqidah Islam –yang terwujud dalam apa-apa yang ada dalam al-Qur`an dan al-Hadits-- menjadi qa’idah fikriyah (landasan pemikiran), yaitu suatu asas yang di atasnya dibangun seluruh bangunan pemikiran dan ilmu pengetahuan manusia (An-Nabhani, 2001).

Paradigma Islam ini menyatakan bahwa, kata putus dalam ilmu pengetahuan bukan berada pada pengetahuan atau filsafat manusia yang sempit, melainkan berada pada ilmu Allah yang mencakup dan meliputi segala sesuatu (Yahya Farghal, 1994: 117). Firman Allah SWT:
dan apa yang di bumi, dan adalah (pengetahuan) Allah Maha meliputi segala sesuatu. (Qs. an-Nisaa` [4]: 126).

Inilah paradigma Islam yang menjadikan Aqidah Islam sebagai dasar segala pengetahuan seorang muslim. Paradigma inilah yang telah mencetak muslim-muslim yang taat dan shaleh tapi sekaligus cerdas dalam iptek. Itulah hasil dan prestasi cemerlang dari paradigma Islam ini yang dapat dilihat pada masa kejayaan iptek Dunia Islam antara tahun 700 – 1400 M. Pada masa inilah dikenal nama Jabir bin Hayyan (w. 721) sebagai ahli kimia termasyhur, Al-Khawarzmi (w. 780) sebagai ahli matematika dan astronomi, Al-Battani (w. 858) sebagai ahli astronomi dan matematika, Al-Razi (w. 884) sebagai pakar kedokteran, ophtalmologi, dan kimia, Tsabit bin Qurrah (w. 908) sebagai ahli kedokteran dan teknik, dan masih banyak lagi (Tentang kejayaan iptek Dunia Islam lihat misalnya M. Natsir Arsyad, 1992; Hossein Bahreisj, 1995; Ahmed dkk, 1999; Eugene A. Myers 2003; A. Zahoor, 2003; Gunadi dan Shoelhi, 2003).

Ø  Aqidah Islam Sebagai Dasar Iptek

Inilah peran pertama yang dimainkan Islam dalam iptek, yaitu aqidah Islam harus dijadikan basis segala konsep dan aplikasi iptek. Inilah paradigma Islam sebagaimana yang telah dibawa oleh Rasulullah Saw.

Paradigma Islam inilah yang seharusnya diadopsi oleh kaum muslimin saat ini. Bukan paradigma sekuler seperti yang ada sekarang. Diakui atau tidak, kini umat Islam telah telah terjerumus dalam sikap membebek dan mengekor Barat dalam segala-galanya; dalam pandangan hidup, gaya hidup, termasuk dalam konsep ilmu pengetahuan. Bercokolnya paradigma sekuler inilah yang bisa menjelaskan, mengapa di dalam sistem pendidikan yang diikuti orang Islam, diajarkan sistem ekonomi kapitalis yang pragmatis serta tidak kenal halal haram. Eksistensi paradigma sekuler itu menjelaskan pula mengapa tetap diajarkan konsep pengetahuan yang bertentangan dengan keyakinan dan keimanan muslim. Misalnya Teori Darwin yang dusta dan sekaligus bertolak belakang dengan Aqidah Islam.

Kekeliruan paradigmatis ini harus dikoreksi. Ini tentu perlu perubahan fundamental dan perombakan total. Dengan cara mengganti paradigma sekuler yang ada saat ini, dengan paradigma Islam yang memandang bahwa Aqidah Islam (bukan paham sekularisme) yang seharusnya dijadikan basis bagi bangunan ilmu pengetahuan manusia.
Namun di sini perlu dipahami dengan seksama, bahwa ketika Aqidah Islam dijadikan landasan iptek, bukan berarti konsep-konsep iptek harus bersumber dari al-Qur`an dan al-Hadits, tapi maksudnya adalah konsep iptek harus distandardisasi benar salahnya dengan tolok ukur al-Qur`an dan al-Hadits dan tidak boleh bertentangan dengan keduanya (Al-Baghdadi, 1996: 12).
Jika kita menjadikan Aqidah Islam sebagai landasan iptek, bukan berarti bahwa ilmu astronomi, geologi, agronomi, dan seterusnya, harus didasarkan pada ayat tertentu, atau hadis tertentu. Kalau pun ada ayat atau hadis yang cocok dengan fakta sains, itu adalah bukti keluasan ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu (lihat Qs. an-Nisaa` [4]:126 dan Qs. ath-Thalaq [65]: 12), bukan berarti konsep iptek harus bersumber pada ayat atau hadis tertentu. Misalnya saja dalam astronomi ada ayat yang menjelaskan bahwa matahari sebagai pancaran cahaya dan panas (Qs. Nuh [71]: 16), bahwa langit (bahan alam semesta) berasal dari asap (gas) sedangkan galaksi-galaksi tercipta dari kondensasi (pemekatan) gas tersebut (Qs. Fushshilat [41]: 11-12), dan seterusnya. Ada sekitar 750 ayat dalam al-Qur`an yang semacam ini (Lihat Al-Baghdadi, 2005: 113). Ayat-ayat ini menunjukkan betapa luasnya ilmu Allah sehingga meliputi segala sesuatu, dan menjadi tolok ukur kesimpulan iptek, bukan berarti bahwa konsep iptek wajib didasarkan pada ayat-ayat tertentu.
Jadi, yang dimaksud menjadikan Aqidah Islam sebagai landasan iptek bukanlah bahwa konsep iptek wajib bersumber kepada al-Qur`an dan al-Hadits, tapi yang dimaksud, bahwa iptek wajib berstandar pada al-Qur`an dan al-Hadits. Ringkasnya, al-Qur`an dan al-Hadits adalah standar (miqyas) iptek, dan bukannya sumber (mashdar) iptek. Artinya, apa pun konsep iptek yang dikembangkan, harus sesuai dengan al-Qur`an dan al-Hadits, dan tidak boleh bertentangan dengan al-Qur`an dan al-Hadits itu. Jika suatu konsep iptek bertentangan dengan al-Qur`an dan al-Hadits, maka konsep itu berarti harus ditolak. Misalnya saja Teori Darwin yang menyatakan bahwa manusia adalah hasil evolusi dari organisme sederhana yang selama jutaan tahun berevolusi melalui seleksi alam menjadi organisme yang lebih kompleks hingga menjadi manusia modern sekarang. Berarti, manusia sekarang bukan keturunan manusia pertama, Nabi Adam AS, tapi hasil dari evolusi organisme sederhana. Ini bertentangan dengan firman Allah SWT yang menegaskan, Adam AS adalah manusia pertama, dan bahwa seluruh manusia sekarang adalah keturunan Adam AS itu, bukan keturunan makhluk lainnya sebagaimana fantasi Teori Darwin (Zallum, 2001). Firman Allah SWT:

“(Dialah Tuhan) yang memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian Dia menciptakan keturunannya dari sari pati air yang hina (mani).” (Qs. as-Sajdah [32]:7).  
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.” (Qs. al-Hujuraat [49]: 13).

Implikasi lain dari prinsip ini, yaitu al-Qur`an dan al-Hadits hanyalah standar iptek, dan bukan sumber iptek, adalah bahwa umat Islam boleh mengambi iptek dari sumber kaum non muslim (orang kafir). Dulu Nabi Saw menerapkan penggalian parit di sekeliling Madinah, padahal strategi militer itu berasal dari tradisi kaum Persia yang beragama Majusi. Dulu Nabi Saw juga pernah memerintahkan dua sahabatnya memepelajari teknik persenjataan ke Yaman, padahal di Yaman dulu penduduknya adalah Ahli Kitab (Kristen). Umar bin Khatab pernah mengambil sistem administrasi dan pendataan Baitul Mal (Kas Negara), yang berasal dari Romawi yang beragama Kristen. Jadi, selama tidak bertentangan dengan aqidah dan syariah Islam, iptek dapat diadopsi dari kaum kafir.



Ø   Syariah Islam Standar Pemanfaatan Iptek

Peran kedua Islam dalam perkembangan iptek, adalah bahwa Syariah Islam harus dijadikan standar pemanfaatan iptek. Ketentuan halal-haram (hukum-hukum syariah Islam) wajib dijadikan tolok ukur dalam pemanfaatan iptek, bagaimana pun juga bentuknya. Iptek yang boleh dimanfaatkan, adalah yang telah dihalalkan oleh syariah Islam. Sedangkan iptek yang tidak boleh dimanfaatkan, adalah yang telah diharamkan syariah Islam.
Keharusan tolok ukur syariah ini didasarkan pada banyak ayat dan juga hadits yang mewajibkan umat Islam menyesuaikan perbuatannya (termasuk menggunakan iptek) dengan ketentuan hukum Allah dan Rasul-Nya. Antara lain firman Allah:

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan…” (Qs. an-Nisaa` [4]: 65).

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya…[i/]” (Qs. al-A’raaf [7]: 3).

Sabda Rasulullah Saw:
“Barangsiapa yang melakukan perbuatan yang tidak ada perintah kami atasnya, maka perbuatan itu tertolak.” [HR. Muslim].

Kontras dengan ini, adalah apa yang ada di Barat sekarang dan juga negeri-negeri muslim yang bertaqlid dan mengikuti Barat secara membabi buta. Standar pemanfaatan iptek menurut mereka adalah manfaat, apakah itu dinamakan pragmatisme atau pun utilitarianisme. Selama sesuatu itu bermanfaat, yakni dapat memuaskan kebutuhan manusia, maka ia dianggap benar dan absah untuk dilaksanakan. Meskipun itu diharamkan dalam ajaran agama.

Keberadaan standar manfaat itulah yang dapat menjelaskan, mengapa orang Barat mengaplikasikan iptek secara tidak bermoral, tidak berperikemanusiaan, dan bertentangan dengan nilai agama. Misalnya menggunakan bom atom untuk membunuh ratusan ribu manusia tak berdosa, memanfaatkan bayi tabung tanpa melihat moralitas (misalnya meletakkan embrio pada ibu pengganti), mengkloning manusia (berarti manusia bereproduksi secara a-seksual, bukan seksual), mengekploitasi alam secara serakah walaupun menimbulkan pencemaran yang berbahaya, dan seterusnya.

Karena itu, sudah saatnya standar manfaat yang salah itu dikoreksi dan diganti dengan standar yang benar. Yaitu standar yang bersumber dari pemilik segala ilmu yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, yang amat mengetahui mana yang secara hakiki bermanfaat bagi manusia, dan mana yang secara hakiki berbahaya bagi manusia. Standar itu adalah segala perintah dan larangan Allah SWT yang bentuknya secara praktis dan konkret adalah syariah Islam.

2.2  PERKEMBANGAN TEKNOLOGI DALAM DUNIA ISLAM
A.    Teknologi Zaman Para Nabi
Pada zaman nabi-nabi, perkembangan teknologi sebetulnya sudah maju. Hal ini dibuktikan dengan banyaknyaa kisah-kisah dalam al-qur’an tentang bagaimana kehidupan manusia zaman nabi. Hal dilakukan nabi Adam ketika bertemu dengan siti hawa ialah bagaimana membangun sebuah peradaban. Dalam sejarahnya, Nabi Adam Kebingungan dalam menemukan api untuk memasak. Namun, dia mendapat wahyu, ketika batu digesekkan dengan batu akan menghasilkan api. Ini merupakan sebuah teknologi.
Kita ambil contoh lain, pada zaman nabi Nuh, telah ada yang namanya kapal. Dalam sejarahnya, kapal ini berukuran raksasa, semua makhluk hidup yang patuh kepada nabi Nuh mampu ditampungnya. Hal ini menandakan betapa canggihnya teknologi yang ada di dunia islam. Selain itu, kisah nabi musa yang hidup di zaman Fir’aun. Di kerjaan fir’aun, ada yang namanya Piramid. Kalau dilihat lebih jauh lagi, pembuatan pyramid bukanlah hal yang mudah. Tetapi, harus menggunakan teknologi yang canggih. Masa ini adalah ketika perkembangan kebudayaan Mesir Purba.
Sejak lebih dari 1.000 tahun SM, Berkembangnya kebudayaan Parsi Purba. Penemuan jentera (roda gigi/gir) dalam pembuatan tembikar, dan kini mulai dari jam tangan yang terkecil hingga roket angkasa yang terbesar menggunakan jentera di dalam mesinnya. Pada tahun 571 M, lahirlah seorang Nabi, yaitu Muhammad SAW. Tepatnya pada taggal 12 Rabiul Awal tahun gajah. Mengapa dikatakan tahun gajah? Hal ini bertepatan dengan 20 April 571 yaang mana paada saat itu, Raja Abraham dari Yaman dengan 60 ribu pasukan bergajah ingin menghnacurkan Ka’bah di Mekkah. Ka’bah merupakan sebuah teknologi yang diciptakan Nabi Ibrahim bersama Ismail.
Pada saat nabi menerima wahyu, dan para penghapal Al-qur’an banyak yang meninggal dalam peperangan maka, Nabi memerintahkan kepada orang-orang yang dipercayakan untuk menulis Al-qur’an dan dijadikan sebuah kitab. Padahal, pada awalnya Al-qur’an ditulis di sembarang tempat, maksudnya ada yang ditulis si pelepah kurma dan ada juga di tulang-belulang. Muhammad juga mendirikan mesjid sebagai tempat peribadatan umat islam.
B.     Bani Umayyah
Pada tahun 700-an, Ahli ilmu geografi Islam dan navigator-navigatornya mempelajari jarum magnet – mungkin dari orang Cina, namun para navigator itulah yang pertama kali menggunakan jarum magnet di dalam pelayaran. Mereka menemukan kompas dan menguasai penggunaannya di dalam pelayaran menuju ke Barat. Navigator-navigator Eropa bergantung pada juru-juru mudi Muslim dan peralatannya ketika menjelajahi wilayah-wilayah yang tak dikenal. Gustav Le Bon mengakui bahwa jarum magnet dan kompas betul-betul ditemukan oleh Muslim dan orang Cina hanya berperan kecil. Alexander Neckam, seorang Inggris, seperti juga orang Cina, mungkin belajar tentang kompas dari pedagang-pedagang Muslim, namun dikatakan bahwa dialah orang pertama yang menggunakan kompas dalam pelayaran. Dan orang Cina memperbaiki keahlian mereka yang berhubungan pelayaran setelah mereka mulai berinteraksi dengan Muslim selama abad ke-8.
Ahli geografi Islam menghasilkan buku-buku yang tak terhitung tentang Afrika, Asia, India, Cina dan orang-orang Indian selama abad ke-8 hingga abad ke-15. Tulisan-tulisan itu mencakup ensiklopedi geografi pertama di dunia, almanak-almanak dan peta jalan. Karya-karya agung abad ke-14 oleh Ibnu Battutah menyediakan suatu pandangan yang terperinci mengenai geografi dunia di masa lampau. Ahli geografi Muslim dari abad ke-10 sampai abad ke-15 telah melampaui hasil dari orang-orang Eropa tentang geografi daerah-daerah ini dengan baik ketika memasuki abad ke-18. Para penjelajah Eropa menyebabkan kehancuran pada lembaga pendidikan, sarjana-sarjana dan buku-buku mereka. Mereka tidak memberikan makna apa pun pada perkembangan ilmu geografi untuk dunia Barat.
Pada tahun 740, Berbagai bentuk jam mekanik dihasilkan oleh insinyur-insinyur Muslim Spanyol, ada yang besar dan kecil, dan pengetahuan ini kemudian sampai ke Eropa melalui terjemahan buku-buku mekanika Islam ke bahasa Latin. Jam-jam ini menggunakan sistem picu beban. Gambar desain dari beberapa bagian gir dan sistem kerjanya juga ada. Jam seperti itu dilengkapi dengan buangan air raksa, jenis yang kemudian secara langsung dijiplak oleh orang-orang Eropa selama abad ke-15. Sebagai tambahan, selama abad ke-9, Ibn Firnas dari Spanyol Islam, menurut Will Durant, menemukan sebuah alat yang mirip arloji sebagai penanda waktu yang akurat. Ilmuwan-ilmuwan Muslim juga membangun bermacam jam-jam astronomi yang sangat akurat untuk digunakan dalam observatorium-observatorium mereka.
C.     Periode Kekuasaan Daulah Abbasiah di Baghdad (Irak)
Pada tahun 765, fakultas kedokteran pertma didirikan oleh Jurjis Ibnu Naubakht.
Sekitar tahun 990 M, Ibnu Firnas seorang ilmuwan dari Andalusia ( Spanyol ) memimpikan bagaimana agar suatu saat manusia bisa terbang bebas di angkasa laksana burung, dia terinspirasi kejadian Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw, tetapi dia berpikir bahwa manusia biasa tak mungkin bisa naik Bouraq kendaraan Nabi Saw untuk Isra’ Mi’ raj, karena dia hanya manusia biasa, bukan seorang nabi.
Ibnu Firnas ( Armen Firman ), mulai meneliti gerak aerodinamika, fisika udara, dan anatomi burung dan kelelawar. Sampai pada suatu saat dia menciptakan sebuah alat terbang seperti sayap kelelawar, lalu dia menaiki menara Masjid Cordoba, disaksikan oleh ribuan orang di bawahnya, lalu dia melompat dan melayang terbang sejauh kira-kira 3 KM dan mendarat dengan selamat. Ribuan orang bertepuk tangan atas ciptaannya. Sebaliknya masyarakat Eropa yang saat itu sedang di era kegelapan, heboh sendiri karena menganggap Ibnu Firnas melakukan sihir yang mereka saja belum pernah melihatnya. Alat terbang Ibnu Firnas inilah yang menginspirasi Wright Bersaudara menciptakan pesawat terbang pada awal abad 19.

D.    Kekuasaan Khalifah Al-Maimun ibnu Harun Al-Rasyid
Pada tahun 813, didirikanlah Daru Al-Hikmah atau Akademi Ilmu Pengetahuan pertama di dunia, yang teridiri dari perpustakaan, pusat pemerintahan, obsevatorium bintang dan Universitas.
Pada tahun 850, Ahli kimia Islam menghasilkan kerosin (minyak tanah murni) melalui penyulingan produk minyak dan gas bumi (Encyclopaedia Britannica, Petroleum) lebih dari 1.000 tahun sebelum Abraham Gesner, orang Inggris, mengaku sebagai yang pertama menghasilkan kerosin dari penyaringan aspal.
Pada tahun 866, kertas tertua yang menjadi contoh untuk dicetak di dunia barat adalah sebuah naskah arab yang berjudul Gharib Al-Hadist oleh Abu ‘Ubyad Al-Qasim ibnu Sallam bertanggal Dzulqaidah 252 atau 13 Nopember – 12 Desember 866, yang masih tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden. Pada tahun 900-an, Pabrik kertas muncul di Mesir, kemudian di Maroko tahun 1100 M, dan di Spanyol tahun 1150 M yang sudah berhasil membuat kertas putih dan berwarna.
E.     Perkembangan Teknologi di Dunia Islam
Perkembangan teknologi di dunia islam meliputi berbagai bidang, antara lain penggunaan air dan angin sebagai sumber energy, irigasi dan bendungan, penggunaan mesiu untuk peperangan, pembuatan kapal laut, teknologi kimia, industry tekstil dan kertas, teknologi pangan dan pertanian, serta pertambangan.
Aliran air sungai yang cukup deras merupakan sumber energi yang dapatdigunakan untuk berbagai keperluan dengan mempergunakan roda yang dapatberputar oleh adanya aliran itu. Orang-orang Islam sangat tekun mencari sumber air yang dapat digunakan sebagai sumber energi. Biasanya penggilingan didirikan di tepi sungai untuk memanfaatkan kecepatan aliran sungai di tempat itu.Pada abad ke 11 di kota Basra didirikan penggilingan semacam itu dan selanjutnya ditiap propinsi di wilayah Islam Spanyol dan di Afrika Utara terdapat sejumlah penggilingan dengan maksud digunakan oleh masyarakat.
Sebagian dari negeri-negeri Islam di daerah Timur Tengah dan AfrikaUtara memiliki curah hujan yang kecil, sehingga untuk menjaga agar daerah pertanian tetap memperoleh air, mereka menggunakan sistem irigasi. Sistemirigasi diperkenalkan oleh orang-orang muslim kepada masyarakat didaerahSpanyol sekaligus dengan memperkenalkan tanaman berupa buah-buahan dansayuran yang belum ada di daerah tersebut. Perkembangan teknologi dalam bidang kemiliteran ditandai adanyasenjata-senjata tajam berupa panah, bangunan pertahanan atau benteng, sertasenjata pembakar dan mesiu. Sejak awal sejarah Islam, senjata pemabakar telahdigunakan dalam berbagai pertempuran. Menurut para ahli sejarah penggunaanmesiu oleh orang-orang Islam dalam pertempuran di Al Mansura pada abad ke-13merupakan salah satu faktor penentu kemenangan mereka. Dengan adanya sungai-sungai besar dan juga laut yang menjadi bagiandari negara-negara Islam, maka alat transportasi berupa kapal laut merupakansuatu hal yang mutlak adanya. Para ahli teknik Muslim telah mampu membuatkapal dalam berbagai ukuran, baik yang akan digunakan untuk keperluanperdagangan maupun untuk peperangan.
Perkembangan teknologi kimia pada hakikatnya merupakan akibat dariperkembangan ilmu kimia yang telah dipelopori oleh ilmuwan Muslim pada abadpertengahan. Para ilmuwan Muslim telah membuat berbagai alat untuk melakukan eksperimen kimia yang tertera dalam buku “Kitab Al-Asrar” yangditulis oleh Al-Razi pada tahun 925. Alat tersebut meliputi alat yang terbuat darigelas, porselen dan besi.Indukstri tekstil memelopori industri di masa kejayaan Islam karena tekstilmerupakan kebutuhan pokok masyarakat. Serat yang digunakan untuk membuattekstil yang baik adalah wol atau bulu domba, kemudian digunakan kapas yangdikenalkan oleh bangsa Arab dan kemudian sutera.Perkembangan teknologi pada industri kertas juga menjadi unggulan negara-negara Islam. Orang Islam mempelajari pembuatan kertas pada tawananperang dari Cina yang dibawa ke Samarkand sehingga kertas dapat diproduksioleh orang Islam pada abad ke-10 di Samarkand.Perkembangan dalam teknologi pertanian dan teknologi pangan juga telahterjadi di dunia Islam. Teknologi pengawetan makanan seperti metodepengeringan, pengasinan, pengasapan memegang peranan penting pada usahapemasaran hasil peternakan dan pertanian ini.
Pengetahuan tentang carapengawetan makanan ini telah banyak ditulis oleh para ilmuwan Muslim. Di daerah kekuasaan Islam yang luas terdapat berbagai jenis bijih logamdan mineral dalam tanah. Untuk memanfaatkannya mereka membuat tambang-tambang guna mengambil bahan galian itu dan memprosesnya menjadi logam (Poedjiadi, 2005:50-57).Orang-orang islam sangat tekun dalam mempelajari sains dan teknologi.Para cendekiawan islam tekun dalam mempelajari pengetahuan dan memanfaatkan pengetahuannya sehingga mampu menghasilkan teknologi yangdapat berguna bagi orang banyak. Salah satu sumbangan terbesar Islam bagidunia modern sekarang, adalah mewariskan sejumlah teori pengetahuan tentangalam semesta dan cara-cara menerapkan pengetahuan tentangnya.Dalam banyak hal, hubungan antara ilmu pengetahuan (sains) dengan cara-cara menerapkannya (teknologi) telah banyak dicontohkan dan diujicobakan olehsejumlah sarjana muslim pada sekitar abad ke-9 – 13 M.
Mereka bukan hanyaditopang oleh pengetahuan dan pengalamannya, tapi juga anugrah yang melimpahdengan mendapat fasilitas dari pemerintahan, terutama pada masa-masa kejayaan Abbasiyah di Baghdad.Sebelum melahirkan teknologi, pengembangan sains lebih dahulu merekadapatkan, bukan hanya dari hasil-hasil temuan mereka sendiri, tapi juga merekadapatkan dari sejumlah sumber yang berasal bukan hanya dari dalam doktrinIslam saja. Kebanyakan pengetahuan tentang hukum-hukum alam, ilmu ukur danmatematika, fisika dan geometrika sampai ilmu gaya dan berat mengenaibermacam-macam benda, mereka peroleh dari warisan Yunani, Persia, India danMesir. Pengetahuan sains ini mereka kuasai terlebih dahulu sebelum mengembangkan teknologi.
Karena ilmu-ilmu tersebut adalah sebagai dasar-dasar bagi pengembangan teknologi berikutnya.Salah satu contoh pengembangan teknologi dalam Islam adalahditemukannya penerapan teori-teori fisika dalam menentukan arah waktu denganmembuat jam melalui mekanisme gerak (escapement ) air raksa, yang dibuat olehal-Muradi pada abad ke 11 M. Termasuk Ridwan dan al-Jazary juga membuat jam dari gerakan air yang disambungkan dalam gir-gir bersegmen dan episiklus.
Kincir air untuk mengambil air dari saluran yang lebih rendah untuk dinaikkan kelokasi yang lebih atas, juga telah biasa digunakan di Murcia Spanyol, dancontohnya masih berfungsi sampai abad ke 13 M.Paradigma Islam menyatakan bahwa Aqidah Islam wajib dijadikanlandasan pemikiran bagi seluruh bangunan ilmu pengetahuan. Ini bukan berartimenjadi Aqidah Islam sebagai sumber segala macam ilmu pengetahuan,melainkan menjadi standar bagi segala ilmu pengetahuan. Maka ilmu pengetahuanyang sesuai dengan Aqidah Islam dapat diterima dan diamalkan, sedang yangbertentangan dengannya, wajib ditolak dan tidak boleh diamalkan.Demikian perkembangan sains, seni dan teknologi dalam Islam yangterangkum dalam wujud kebudayaan masyarakat Islam pada zamannya.
F.      Teknologi Dunia Islam Modern
Pada saat sekarang ini, dunia islam sudah banyak menciptakan teknologi yang canggih. Mereka sudah mampu memanfaatkan nuklir sebagai sumber energy. Selain itu, tidak mau kalah dengan dunia barat, dunia islam juga mampu menciptakan pesawat terbang yang canggih. Di lihat dari teknologi perang,
2.3  URGENSI PENGUASAAN SAINS DAN TEKNOLOGI BAGI KEMAJUAN UMAT ISLAM
Dalam kehidupan ini, islam adalah agama yang paling sempurna yang diturunkan Allah melalui baginda rasulullah Muhammad SAW. Salah satu karakteristik Islam yang membedakan dengan ajaran lainnya adalah syumul. Islam adalah agama samawi yang menjamah seluruh aspek-aspek kehidupan. Sifatnya yang menyeluruh membuat tidak ada sudut sekecil apapun yang tidak dapat disentuh oleh nilai-nilai Islam. Begitu juga dengan teknologi, dalam hal ini Islam juga berperan besar dalam kemajuannya, pengembangannya, sampai pada pengawasannya.
Banyak hal-hal yang berhubungan dengan teknologi dan ilmu, dan banyak pula hal-hal yang berhubungan dengan teknologi sebagai alat mencari ilmu. Firman Allah SWT pada wahyu yang pertama turun kepada Nabi Muhammad SAW berbunyi “Iqro”. Artinya “bacalah”. Bacalah agar engkau membekali dirimu dengan kekuatan pengetahuan. Membaca adalah proses mencari ilmu.
Kita perhatikan, wahyu pertama ayat empat, “Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam” Maksudnya, Allah SWT mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca. Sangat jelas bagi umat Islam, bahwa Allah mengisyaratkan pentingnya teknologi “qalam” untuk keperluan membaca dan menulis untuk bekal mencari ilmu. Alat tulis juga di isyaratkan dalam QS. Maryam: 56-57,

“ Dan Ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. (56) Dan kami Telah mengangkatnya ke martabat yang Tinggi. (57)”
           
Nabi Idris ditempatkan di tempat yang tinggi dan beliau adalah orang yang pertama yang mengetahui tentang ilmu perbintangan, berhitung dan menulis serta menjahit pakaian. Kepandaian yang diberikan Allah kepada Nabi Idris as adalah ilmu dan teknologi. Allah menantang manusia untuk menejelajahi ruang angkasa dengan syarat manusia harus memiliki serta menguasai ilmu tentang itu. Semua yang dijelaskan Al-Qur’an merupakan rujukan bagi manusia untuk berupaya meningkatkan pengetahuanya dalam mengembangkan teknologi guna kemaslahatan dan kelangsungan kehidupan manusia itu sendiri.
Akankah ilmu dan teknologi tersebut saat ini masih berorientasi pada “Realita yang Berguna” bagi kehidupan manusia. Seiring berkembangnya teknologi navigasi, teknologi perkapalan pun berkembang pesat di dunia Islam. Sebagai kekuatan industri dunia terbesar di abad pertengahan, dunia Islam pun memiliki begitu banyak pelabuhan yang ramai dan padat. Biasanya, di sepanjang daerah pantai banyak berdiri fasiltas pembuatan dan perakitan kapal. Setiap negeri Muslim menciptakan kapal dengan model dan jenis yang berbeda-beda.
Selain membuat kapal untuk tujuan berniaga, pada era itu pembuatan kapal untuk perang atau memperkuat angkatan laut juga gencar dilakukan. Kapal perang dibangun untuk memperkokoh pertahanan wilayah kekuasaan kekhalifahan Islam di lautan. Sehingga, ketika itu kekhalifahan Islam tak hanya tangguh di darat, namun juga kuat di lautan.
Kapal perang didesain lebih ramping dan dikendalikan dengan layar atau dayung. Sedangkan, kapal niaga dibangun dengan cukup lebar. Rancangan seperti itu sengaja dibuat agar kapal dapat membawa barang dalam jumlah yang banyak. Pada masa itu, kapal perang yang paling bongsor sanggup menampung 1.500 prajurit marinir. Sedangkan kapal dagang yang besar mampu menampung 1.000 ton barang.
Umat Islam sejauh ini memandang sains dan teknologi sebagai barang sekunder, dan menempatkannya di posisi pinggiran. Dengan pandangan demikian, tidak heran jika umat Islam jauh tertinggal dalam bidang sains dan teknologi. Padahal kedua hal tersebut di masa lalu pernah dikuasai umat Islam sehingga umat Rasulullah ini meraih kejayaannya dan diperhitungkan oleh bangsa dan umat-umat lainnya.
Berikut pandangan para cendekia muslim dalam konferensi internasional Tajdid Islam Kedua bertema, “Ke Arah Kemantapan Sistem Pendidikan Islam dan Kemajuan Sains dan Teknologi di Alam Melayu” di Sepang, Malaysia (13-15 April 2006).
Menurut Prof Zuhal, ketertinggalan umat Islam yang paling menonjol adalah pada penguasaan sains dan teknologi. “Tidak ada pilihan lain, jika umat ini ingin maju, maka kedua hal itu harus diraih. Itu kunci kesejahteraan dan kemajuan,” ujarnya.
Pandangan Prof Khalijah, hilangnya simbol kejayaan umat Islam di masa lalu antara lain disebabkan umat Islam meninggalkan tradisi yang pernah dipraktekkan para ilmuwan dan ulama di masa lalu. “Tradisi pembaruan dan pemikiran hilang dari umat Islam. Ini tugas kita bersama. Kalau kita tak melakukan tajdid (pembaruan), umat ini akan semakin terpinggirkan,” katanya.
Mahathir Mohamad dalam ceramahnya menekankan pentingnya meraih kembali kejayaan sains dan teknologi untuk kepentingan kemajuan umat Islam. Menurutnya, mempelajari sains dan teknologi sama wajibnya dengan amalan-amalan fardhu lainnya, seperti shalat dan puasa. “Fatal jika umat Islam selama ini memilah-milah ajaran pokok dan tidak pokok, ajaran dunia dan ajaran akhirat. Mestinya kedua-duanya harus dijalankan bersamaan dan diberi posisi yang sama pentingnya,” demikian mantan orang nomor satu di Malaysia ini.
Prof Azyumardi Azra yang pada waktu itu menjabat Rektor UIN Jakarta, menyampaikan , umat Islam harus melakukan reorientasi sistem pendidikan. “Kelemahan mendasar umat Islam, karena tidak mensinergikan ilmu agama dan umum dalam proses pendidikan mereka. Umat Islam di masa lalu maju di bidang sains dan teknologi, tapi mereka juga fasih dalam ilmu agama, Mereka memadukan keduanya. Karena itu, harus ada tajdid sistem pendidikan secara terus menerus,” papar Azyumardi. Karena itulah, ia memandang pentingnya konferensi tersebut untuk merumuskan kembali noktah kebangkitan Islam di masa mendatang.
Prof Zamakhsari Zhofier berpandangan, kalangan pesantren yang selama ini identik dengan pembelajaran ilmu-ilmu agama saja, juga harus memandang sains dan teknologi sebagai kebutuhan ilmu wajib, sama pentingnya dengan belajar fikih. Di era global sekarang ini, ujar Zhofier, pesantren harus melek teknologi agar kualitas dan lulusan mereka dapat bersaing dengan lulusan umum. “Masalahnya, sarana dan dukungan dana tidak memadai sehingga kondisi ini memunculkan dilema berkepanjangan,” jelasnya. Rumusan akhir konferensi yang dihadiri sebanyak 150 peserta dari kedua negara ini meminta para pemimpin dunia Islam memberi perhatian lebih besar lagi terhadap peningkatan dan upaya memajukan sains dan teknologi bagi umat Islam.
Salah besar jika kita menganggap teknologi bukan bagian dari Islam ataupun Islam tidak membahas mengenai teknologi. Islam telah mengajarkan banyak hal dalam kehidupan ini. Tidak hanya ilmu agama seperti ilmu fiqih, hadist, tafsir dan lain sebagainya tetapi mencakup segala ilmu yang ada, mulai dari bakteri terkecil sampai pergerakan alam semesta melalui ilmu astronominya. banyak para ahli keilmuan islam atau pun teori-teori keilmuan islamyang menjadi dasar atau panduan bagi para ilmuan eropa.
Allah SWT berfirman dalam Al-qur’an surat Ar-Rahman: 33,
            “Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi)      penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya    kecuali dengan kekuatan.”
Nash di atas merupakan bukti bahwa islam juga merupakan pedoman utama dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Di zaman sekarang ini banyak orang-orang yang terlalu sibuk dengan urusan duniawinya sehingga mereka melupakan hubungannya dengan sang yang maha pencipta yaitu Allah SWT.
Teknologi saat ini sudah tidak mencerminkan nilai-nilai keislaman yang dulu dilahirkan para ilmuan kita. Bahkan sudah banyak kita lihat teknologi yang disalahgunakan manfaatnya dimana-mana. inilah masalah dunia teknologi. Dimana dengan adanya teknologi justru melahirkan ketidakseimbangan antara hubungan manusia dengan manusia dan manusia dengan sang pencipta.
Hal ini terjadi saat teknologi telah keluar dari fungsi dan manfaat sebenarnya. Hal ini terjadi saat moral-moral para pembuat ataupun pengguna telah mengalami kemerosotan iman dan takwa mereka. Sudah saatnyalah kita mengembalikan teknologi pada jalur yang sebenarnya. Jalur dimana Islam secara menyeluruh ataupun nilai-nlainya tertanam kuat dalam dunia teknologi kita. Bukanlah tidak mungkin untuk menerapkan sebuah konsep Islam dalam dunia teknologi bukan hanya sebagai pengerem kerusakan yang lebih banyak ditimbulkannya, tetapi juga demi terwujudnya kebangkitan umat islam.
“Hendaklah kamu selalu benar. Sesungguhnya kebenaran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke surga. Selama seorang benar dan selalu memilih kebenaran dia tercatat di sisi Allah seorang yang benar (jujur).
Hati-hatilah terhadap dusta. Sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Selama seorang dusta dan selalu memilih dusta dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta (pembohong). (HR. Bukhari)”
Kunci utamanya terletak pada manusia-manusianya, pemuda-pemuda penerus islam yang nantinya akan banyak berperan di bidangnya masing-masing. Diharapkan, kita tidak hanya mempelajari ilmu dunia saja, Ilmu keilmiahan, teknologi, ataupun sejenisnya. Perlu pula sebuah pendalaman terhadap aqidah kita, perbaikan terhadap akhlak, serta ilmu keislaman lainnya secara menyeluruh. Ataupun sebaliknya, jangan sampai kita terlena, tersibukkan pada penghambaan diri kita kepada Yang Maha Esa sampai-sampai kita melupakan ilmu-ilmu yang akan bermanfaat bagi kemaslahatan umat di dunia.
Pengembangan dan penguasaan iptek saat ini merupakan kekuatatan besar bagi umat islam untuk mampu menembus dunia menghadapi globalisasi sebagaimana ditegaskan dalam surat ar Rahman ayat 33, bahwa:
Hai jama’ah jin dan manusia jika kamu sanggup menembus/melintasi penjuru          langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak akan dapat menembusnya        melainkan dengan kekuatan. (untuk saat ini Iptek menjadi kekuatan dunia            kemajuan negar dan bangsa)
Dengan demikian urgensi penguasaan sains dan teknologi dapat kita pahami sebagai berikut:
1.         Memperoleh kemudahan
Kemampuan manusia untuk meraih berbagai kebutuhan hidup sangat terbatas. Tetapi manusia sebagai khalifah Allah diberikan kemampuan akal dan fikiran untuk memanfaatkannya menemukan cara-cara yang tepat dan efektif guna meraih kebutuhan hidup yang tidak mungkin dicapai melalui kemampuan fisik semata. Allah mengatakan,
“Allah sengaja memberikan berbagai kemudahan kepada manusia agar
mereka mampu hidup dengan mudah”. (S. Al ‘Ala, 87 : 8)

2.         Mengenal dan mengagungkan Allah, untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat.
Apabila manusia mampu enghayati makna sains dan teknologi yang dikembangkannya, bahwa semua itu bukan semata-mata Karen faktor diri pribadi manusia, tetapi ada faktor lain diluar dirinya itu, yaitu yang Maha Agung, yang Maha Kuasa, yang aha Bijaksana, yaitu Allah swt.

3.         Meningkatkan kualitas pengabdian kepada Allah
Manusia diciptakan oleh Allah hanyalah untuk mengabdi kepada-Nya. Demikian dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya:
“Dan tidaklah aku menciptakan jin dan anusia melainkan untuk engabdi     kedapa-Ku”S. (Al-Dzariyat, 51:56)
Teknologi apabila dirancang dan dimanfaatkan secara benar dalam konteks tugas pengabdian manusia tersebut, aka teknologi diyakini akan mampu meningkatkan kualitas pengabdian kepada allah. Apabila berbagai kemajuan manusia diniatkan dan diarahkan untuk kepentingan peningkatan pengabdiannya kepada allah, maka kemajuan yang dicapai itu tidak membuat manusia jadi lalai akan tugas kehidupannya. Karena Allah memerintahkan dalam firmannya
Katakanlah: “sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” S. Al An’am, 6: 162)


4.      Menumbuhkan rasa syukur kepada Allah
Bagi orang beriman sekecil apapun nikmat yang ia dapatkan dari rezeki halal yang diberikan Allah kepadanya akan melahirkan rasa syukur kepada-Nya sebagai pemberi nikmat.

5.         Memperoleh kesenangan dan kebahagian hidup
Kemudahan-kemudahan yang diperoleh manusia dalam pemanfaatan teknologi membuat manusia memperoleh kesenangan dan kebahagian hidup serta tetap hidup dalam koridor kesenangan dan kebahagiaan yang halal dan diridhoi Allah. Untuk memperoleh kesenangan dan kebahagian hidup yang disediakan allah itu, anusia diberikan sarana kebutuhan yang serba lengkap di bumi, sebagaimana Allah nyatakan:
“Dialah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu sekalian dan Dia berkehendak menciptakan langit, lalu dijadikannya tujuh langit. Dan Dia (Allah) maha mengetahui segala sesuatu” QS. Al-Baqoroh:29

6.         Meningkatkan kemampuan memanfaatkan kekayaan alam
Teknologi meningkatkan kemampuan manusia untuk melakukan eksplorasi kekayaan alam tersebut secara optimal. Banyak negara, bangsa yang memiliki kekayaan alam memadai tetapi Karen memiliki teknologi canggih hidup lebih sejahtera dibandingkan dengan negara, bangsa yang emiliki kekayaan alam melimpah tetapi kemajuan teknologinya tertinggal.

7.         Meningkatkan harkat dan martabat manusia
Orang berilmu akan dihormati orang lain dan angkat derajtnya oleh Allah SWT. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT yakni: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat dan Allah maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Mujadilah 58:11)

8.         Menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran akan hak dan kewajiban
Manusia memiliki hak dan kewajiban, baik hak dan kewajiban kepada allah maupun kepada sesame manusia. Bila kita mengetahui apa yang menjadi hak dan kewajiban kita sebagai manusia di hadapan Allah Karena memiliki pengetahuan tentang agama, maka kita sebagai manusia akan memanfaatkannya dengan baik hak yang diberikan Allah. Begitu pula dengan kewajiban kita sebagai hamba Allah, akan ditunaikan secara baik pula.

9.      Meningkatkan rasa percaya diri
Orang yang berilmu pasti menyadari bahwa hubungan antar manusia ditentukan oleh posisi dan peran masing-masing individu dalam interaksi sosial. Nilai individu dalam interaksi sosial tersebut ditentukan oleh kualitas perannya, seberapa besar kontribusi yang diberikan bagi kepentingan sosial. Kesadaran tersebut dapat memberikan rasa percaya diri yang lebih besar bagi orang yang berilmu karena ia yakin dapat melakukan peran dan fungsinya secara baik, serta mampu memberikan kontribusi yang lebih besar bagi kepentingan manusia.

10.     Meningkatkan produktifitas kerja
Orang yang berilmu pengetahuan memiliki logika berfikir yang berbeda dengan orang yang tidak memiliki pengetahuan, terutama dalam berpikir kritis dan logis. Bila manusia memiliki ilmu pengetahuan yang dilandasi oleh iman pastilah manusia akan dapat menghasilkan etos kerja yang lebih baik sehingga meningkatkan produktivitas kerja.

11.     Memperoleh amalan jariah bila diamalkan
Ilmu pengetahuan memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan. Kebaikan itu hanya terwujud apabila ilmu pengetahuan tersebut diamalkan, dipraktekan, dan diajarkan kepada orang lain. Dalam hadisnya Rasulullah Saw bersabda artinya “apabila anak dalam meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga hal yaitu sodakoh jariah, ilmu yang dimanfaatkan, anak yang soleh mendoakan orang tuanya.
12.     Meiliki keunggulan hidup dunia akhirat
Kunci kehidupan dunia adalah ilmu dan kunci kehidupan akhirat adalah ilmu apabila hadist itu dijadikan dalam kehidupan, niscaya dunia ini dapat dikuasai, begitu pula dalam kehidupan akhiratnya. Orang yang berilmu, ia tahu apa yang harus diperbuat dan apa yang harus dihindarkan. Ilmu pengetahuan memberikan kemampuan yang terbaik, baik untuk meraih kekuasaan aupun meraih kekayaan. Kemapuan itu digambarkan dalam sebuah hadist tentang kemampuan nabi Sulaiman,
“ Nabi Sulaiman diperintahkan memilih diantara ilmui, kekuasaan, dan harta. ia memilih ilmu, maka berikanlah kekuasaan dan harta”.


2.4  DAMPAK PENGGUNAAN SAINS DAN TEKNOLOGI BAGI UMAT MANUSIA

 Allah SWT menciptakan manusia tentu dengan kesempurnaan yang melebihi makhluk lainnya. Manusia diciptakan disertai dengan akal pikiran dan juga nafsu yang kedua hal tersebut tak dimiliki oleh makhluk hidup lainnya. Dimana akal pikiran dapat menuntun manusia kepada ilmu pengetahuan untuk menunjang kehidupannya di dunia sedangkan nafsu bertujuan untuk menghasilkan keturunan. Dengan dibekali kedua hal tersebut manusia mampu menghasilkan suatu hal baru demi kelangsungan dan juga tuntunan zaman yang ada. Darinya terbentuklah suatu ilmu pengetahuan bernama sains dan teknologi, di zaman yang sudah serba modern ini kemajuan sains dan teknologi sudah sangat pesat dan kedudukannya memang sudah tak dapat dipungkiri lagi bahwa sains dan teknologi berkontribusi banyak terhadap keberlangsungan manusia di dunia ini.
Namun diluar semua kecanggihan yang disunguhi oleh kemampuan sains dan teknologi  tersebut  tentu menghasilkan dampak bagi manusia itu sendiri. Baik dampak positif maupun negatif yang dihasilkan oleh sains dan teknologi tersebut. Adapun dampak positif dari sains dan teknologi bagi umat manusia adalah sebagai berikut:
1.      Menyadarkan umat islam untuk selalu mengenal dan dekata dengan sang penciptanya Allah SWT, karena sumber segala sains dan teknologi yang diciptakan dan dikembangkan oleh manusia pada hakekatnya berasal dari Allah SWT, terutama bersumber pada surah atau ayat-ayat kauniyah.
2.      Mengantarkan manusia kepada era kehidupan maju, modern dan sejahtera. Menurut ajaran agama islam , sains dan teknologi harus dipergunakan untuk mencapai kehidupan bahagia dunia akhirat.
3.      Mempercepat dan mempermudah komunikasi melalui telepon, handphone, website dan sebagainya.
4.      Mempercepat dan memperpendek transportasi kesuatu tempat atau daerah atau negara dengan terciptanya teknologi transportasi seperti pesawat terbang, kapal laut, sebagai alat penghubung antar wilayah atau daerah, mobil, dll.
5.      Pembuatan senjata dan peralatan perang untuk menjaga keamanan dan serangan musuh (tergantung pengendalian hawa nafsu)
6.      Komputerisasi dan informasi, mempermudah, mempercepat komunikasi melalui pemasangan internet, web site, email dsb. Serta memperindah ketikan.
Dalam Islam terdapat aturan atau standar khusus yang dapat menjadi patokan akan suatu hal. Adapun standar khususnya  adalah aturan halal dan haram, aturan tersebut berdasarkan kepada hukum-hukum islam. Dimana sains dan teknologi yang boleh digunakana dan dimanfaatkan adalah yang telah dihalalkan oleh syariah islam. Sedangkan yang telah diharamkan tidak boleh digunakan atau dimanfaatkan. Hal tersebut sebagaimana yang tertera pada ketentuan Allah dan RasulNya:
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain Nya Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya) QS. Al A’raaf 7:3
“Barang siapa yang melakukan perbuatan yang tidak ada perintah kami atasnya maka perbuatan itu ditolak” (HR.muslim)
Adapun dampak negati dari sains dan teknologi bagi umat manusia adalah sebagai berikut:
1.      Informatika
Di zaman yang sudah modern seperti sekarang ini, kemajuan teknologi informasi memang tidak dapat dipungkiri lagi kalau keberadaanya sangat membantu keberlangsungan hidup manusia. Namun disisi lain kemajuan informasi menimbulkan suatu hal negatif seperti pencurian data melalui komputer, penipuan via online, ataupun tindakan para hacker yang sering kali tak bertanggung jawab.
2.      Persenjataan
Melihat fungsi dari senjata itu sendiri adalah sebagai alat yang bertujuan untuk mengatur maupun sebagai perlindungan diri dari hal-hal yang tak diinginkan. Namun senjata kerap kali salah dipergunakan. Baik oleh orang yang memang diperbolehkan memegang senjata maupun mereka yang sebenarnya dilarang memakai senjata. Apabila alat ini salah dipergunakan tentu akan berakibat fatal seperti hilangnya nyawa seseorang.

3.      Biologi
Pengetahuan yang dihasilkan oleh ilmu biologi memang sangat membantu keberlangsungan hidup manusia. Seperti dapat diketahuinya organ-organ apa saja yang ada manusia, hewan maupun tumbuhan. Biologi menghasilkan suatu pencerahan bagi umat manusia yang nantinya dapat mengahasilkan suatu hal yang sangat penting bagi manusia. Tapi pencerahan itu justru berunjung kepada suatu hal yang bertujuan untuk menggandakan manusia (cloning) hal itu tentu sangat tidak dianjurkan dalam agama islam. Dimana hal itu sama saja tidak mensyukuri apa yang telah diberikan dan juga melangkahi apa yang seharusnya tidak dilangkahi serta terkesan mengakali apa yang sudah menjadi ketentuan dari Allah SWT.
4.      Lingkungan hidup
Dengan munculnya berbagai ilmu pengetahuan maka terciptalah alat-alat yang katanya dapat membantu keseharian manusia. Lalu dengan terciptanya alat-alat tersebut maka dibutuhkan lahan atau tempat untuk memajang semua benda-benda tersebut. Dari situlah dicari lahan yang semestinya untuk daerah resapan air beralih menjadi gedung-gedung bertingkat yang bertujuan untuk menjual alat-alat pembantu keseharian manusia namun mengorbankan lahan yang semestinya untuk daerah resapan air. Semakin maraknya pengalihan lahan dan juga pemanfaatan hasil alam yang tidak bertanggung jawab sudah tentu berdampak buruk bagi keberlangsungan hidup manusia dan juga alam tempat manusia tinggal itu sendiri.
5.      Medis
Sering kali kita melihat para pasien yang terkena malpraktek ataupun pasien yang ingin berobat dirumah sakit tersebut tetapi justru ditolak karena masalah biaya. Prosedur rumah sakit mengenai biaya pengobatan bagi rakyat kalangan bawah dirasa sangat menyusahkan dan juga membenani mereka. Tak hanya kalangan bawah saja yang merasa dipersulit namun terkadang para kalangan atas pun merasa dicurangi oleh rumah sakit. Dengan dianjurkannya untuk melakukan proses operasi untuk suatu penyakit yang sebenarnya tak perlu dilakukannya operasi. Hal tersebut dikarenakan besarnya biaya peralatan canggih yang dimilik rumah sakit maka diperlukan suatu upaya untuk mengembailkan investasi terhadap pembelian alat-alat canggih tersebut.
Berikut adalah bebrapa contoh lain dari dampak negatif mengenai sains dan teknologi:
1.      Dengan begitu cepatnya pertukaran informasi yang cepat dan tidak dapat terbendung , maka mulai marak terjadinya kemerosotan moral.
2.      Secara tidak disadari manusia yang sedang dimanjakan oleh teknologi yang dibuat. Manusia semakin malas dan bodoh , hal itu terjadi karena semakin ringkasnya pekerjaan manusia yang di tangani oleh teknologi.
3.      Banyak limbah dari teknologi modern yang tidak bisa diolah sehingga menimbulkan tumpukan sampah teknologi yang tidak bisa di daur ulang

2.5  PERAN DAN TANGGUNG JAWAB ILMUWAN TERHADAP ALAM DAN LINGKUNGAN
Dalam zaman Daulah Abbasiyah, masa meranumlah kesusasteraan dan ilmu pengetahuan, disalin ke dalam bahasa Arab, ilmu-ilmu purbakala. Lahirlah pada masa itu sekian banyak penyair, pujangga, ahli bahasa, ahli sejarah, ahli hukum, ahli tafsir, ahli hadits, ahli filsafat, thib, ahli bangunan dan sebagainya.
Zaman ini adalah zaman keemasan Islam, demikian Jarji Zaidan memulai lukisannya tentang Bani Abbasiyah. Dalam zaman ini, kedaulatan kaum muslimin telah sampai ke puncak kemuliaan, baik kekayaan, kemajuan, ataupun kekuasaan. Dalam zaman ini telah lahir berbagai ilmu Islam, dan berbagai ilmu penting telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Masa Daulah Abbasiyah adalah masa di mana umat Islam mengembangkan ilmu pengetahuan, suatu kehausan akan ilmu pengetahuan yang belum pernah ada dalam sejarah.
Kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan merefleksikan terciptanya beberapa karya ilmiah seperti terlihat pada alam pemikiran Islam pada abad ke-8 M. yaitu gerakan penerjemahan buku peninggalan kebudayaan Yunani dan Persia.
Permulaan yang disebut serius dari penerjemahan tersebut adalah sejak abad ke-8 M, pada masa pemerintahan Al-Makmun (813 –833 M) yang membangun sebuah lembaga khusus untuk tujuan itu, “The House of Wisdom / Bay al-Hikmah”. Dr. Mx Meyerhof yang dikutip oleh Oemar Amin Hoesin mengungkapkan tentang kejayaan Islam ini sebagai berikut: “Kedokteran Islam dan ilmu pengetahuan umumnya, menyinari matahari Hellenisme hingga pudar cahayanya. Kemudian ilmu Islam menjadi bulan di malam gelap gulita Eropa, mengantarkan Eropa ke jalan renaissance. Karena itulah Islam menjadi biang gerak besar, yang dipunyai Eropa sekarang. Dengan demikian, pantas kita menyatakan, Islam harus tetap bersama kita.” (Oemar Amin Hoesin).
Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu hal yang sangat mulia dan berharga. Para khalifah dan para pembesar lainnya membuka kemungkinan seluas-luasnya untuk kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Pada umumnya khalifah adalah para ulama yang mencintai ilmu, menghormati sarjana dan memuliakan pujangga.
Kebebasan berpikir sebagai hak asasi manusia diakui sepenuhnya. Pada waktu itu akal dan pikiran dibebaskan benar-benar dari belenggu taklid, hal mana menyebabkan orang sangat leluasa mengeluarkan pendapat dalam segala bidang, termasuk bidang aqidah, falsafah, ibadah dan sebagainya.
Para menteri keturunan Persia diberi hak penuh untuk menjalankan pemerintahan, sehingga mereka memegang peranan penting dalam membina tamadun/peradaban Islam. Mereka sangat mencintai ilmu dan mengorbankan kekayaannya untuk memajukan kecerdasan rakyat dan meningkatkan ilmu pengetahuan, sehingga karena banyaknya keturunan Malawy yang memberikan tenaga dan jasanya untuk kemajuan Islam.
Kekhilafahan Abbasiyah tercatat dalam sejarah Islam dari tahun 750-1517 M/132-923 H. Diawali oleh khalifah Abu al-’Abbas as-Saffah (750-754) dan diakhiri Khalifah al-Mutawakkil Alailah III (1508-1517). Dengan rentang waku yang cukup panjang, sekitar 767 tahun, kekhilafahan ini mampu menunjukkan pada dunia ketinggian peradaban Islam dengan pesatnya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di dunia Islam.
Di era ini, telah lahir ilmuwan-ilmuwan Islam dengan berbagai penemuannya yang mengguncang dunia. Sebut saja, al-Khawarizmi (780-850) yang menemukan angka nol dan namanya diabadikan dalam cabang ilmu matematika, Algoritma (logaritma). Ada Ibnu Sina (980-1037) yang membuat termometer udara untuk mengukur suhu udara. Bahkan namanya tekenal di Barat sebagai Avicena, pakar Medis Islam legendaris dengan karya ilmiahnya Qanun (Canon) yang menjadi referensi ilmu kedokteran para pelajar Barat. Tak ketinggalan al-Biruni (973-1048) yang melakukan pengamatan terhadap tanaman sehingga diperoleh kesimpulan kalau bunga memiliki 3, 4, 5, atau 18 daun bunga dan tidak pernah 7 atau 9.
Pada abad ke-8 dan 9 M, negeri Irak dihuni oleh 30 juta penduduk yang 80% nya merupakan petani. Hebatnya, mereka sudah pakai sistem irigasi modern dari sungai Eufrat dan Tigris. Hasilnya, di negeri-negeri Islam rasio hasil panen gandum dibandingkan dengan benih yang disebar mencapai 10:1 sementara di Eropa pada waktu yang sama hanya dapat 2,5:1.
Kecanggihan teknologi masa ini juga terlihat dari peninggalan-peninggalan sejarahnya. Seperti arsitektur mesjid Agung Cordoba, Blue Mosque di Konstantinopel, atau menara spiral di Samara yang dibangun oleh khalifah al-Mutawakkil, Istana al-Hamra (al-Hamra Qasr) yang dibangun di Seville, Andalusia pada tahun 913 M. Sebuah Istana terindah yang dibangun di atas bukit yang menghadap ke kota Granada.
Allah swt telah menciptakan manusia dengan dua fungsi yaitu sebagai hamba Allah (Abdun) dan sebagao khalifatullah fil ardh. Kedua fungsi ini merupakan keterpaduan tanggungjawab yang melahirkan dinamika hidup yang sarat dengan kreatifitas dan amaliah yang selalu berpihak kepada nilai-nilai kebenaran.
Sebagai Abdun, manusia berarti seorang hamba yang taat dan patuh kepada perintah Allah, karena esensi dan “abdun” adalah ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan kepada kebenaran dan keadilan Allah. Sedangkan esensi khalifah adalah tanggung jawab terhadap diri sendiri dan alam lingkungannya, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam. Keengganan manusia menghambakan diri kepada Allah swt sebagai pencipta akan menghilangkan rasa syukur atas anugerah yang diberikan oleh sang pencipta berupa potensi-potensi dan keikhlasan manusia menhambakan dirinya kepada Allah akan mencegah kehambaan kepada sesama manusia termasuk kepada dirinya.
Sebagai Khalifah, manusia memiliki tanggungjawab terhadap diri sendiri dan alam lingkungannya, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam. Manusia mendapat amanah dari Allah untuk memelihara alam, agar terjaga kelestariannya dan keseimbangannya untuk kepentingan umat manusia untuk itu Allah memberikan petunjuk berupa agama sebagai alat bagi manusia untuk mengarahkan potensinya kepada keimanan dan ketaqwaan buka pada kejahatan yang selalu didorong oleh nafsu amanah.
Kekhilafahan Abbasiyah dengan kegemilangan ipteknya kini hanya tercatat dalam buku usang sejarah Islam. Tapi jangan khawatir, suatu saat Islam akan kembali jaya dan tugas kita semua untuk mewujudkannya.Dinasti Abbasiyiah membawa Islam ke puncak kejayaan. Saat itu, dua pertiga bagian dunia dikuasai oleh kekhalifahan Islam. Tradisi keilmuan berkembang pesat.Masa kejayaan Islam, terutama dalam bidang ilmu pengetahun dan teknologi, kata Ketua Kajian Timur Tengah Universitas Indonesia, Dr Muhammad Lutfi, terjadi pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid. Dia adalah khalifah dinasti Abbasiyah yang berkuasa pada tahun 786.
Dalam kaitan dengan lingkungan, mereka mempunyai tanggung jawab untuk menjaga kelestariannya dari kelompok-kelompok perusak (kelompok yang tak berilmu dengan ilmu Allah). Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sekarang ini, tidak bisa dipungkiri, banyak menghantarkan manusia kepada kemudahan efektivitas, dan efesiensi hidup. Dengan IPTEK manusia telah mampu meraih apa yang dulu dianggap sesuatu yang mustahil. Namun disisi lain, kemajuan IPTEK membawa akses negatif dan destruktif yang merugikan dan mengancam keberlangsungan umat manusia dan alam lingkungan. Proses dehumanisasi dan terancamnya keseimbangan ekologis dan kelestariannya alam, merupakan imbas negatif dari kemajuan IPTEK. Oleh karena itu, ilmuwan tidak cukup hanya dengan ilmunya saja, tetapi harus dibekali dengan iman dan takwa. Dengan begitu, hasil-hasil kemajuan IPTEK akan dijadikan sebagai sarana bagi manusia untuk mengeksiskan dirinya sebagai khalifah di bumi, di samping sebagai “abdun”, hamba Allah. Ilmuwan yang beriman dan bertaqwa akan memanfaatkan kemajuan IPTEK. Menjaga, memelihara, melestarikan, keberlangsungan hidup manusia dan keseimbangan ekologi dan bukan untuk fasad fil ardh.
Ilmuwan harus mempunyai tanggung jawab, karena diberi amanah Allah untuk berbuat baik terhadap lingkungannya (al-Ahzab:72). Seorang ilmuwan harus mengenal Allah dan bertaqwa kepada-Nya. Seorang ilmuwan dapat memahami kebesaran Allah dengan memperhatikan alam limgkungannya. Seorang ilmuwan yang selalu berpegang pada ajaran Allah dan mempelajari perkembangan ilmu pengetahuan ditekankan, agar tidak mengikuti perintah orang yang membuat kerusakan di bumi tanpa mengadakan kebaikan (as-Syu’ara: 151-152). Manusia telah diperingati Allah swt dan Rasul-Nya agar jangan melakukan kerusakan di bumi. Namun, manusia mengingkari peringatan tersebut. Allah swt menggambarkan situasi ini dalam Al-Quran: “Dan bila dikatakan kepada mereka, janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. Mereka menjawab, sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. (QS Al-Baqarah:11)
Allah swt juga mengingatkan manusia: “telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah, adakan perjalanan dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah),” (QS Ar-Ruum: 41-42)
Saat itu, banyak lahir tokoh dunia yang kitabnya menjadi referensi ilmu pengetahuan modern. Salah satunya adalah bapak kedokteran Ibnu Sina atau yang dikenal saat ini di Barat dengan nama Avicenna.Sebelum Islam datang, Eropa berada dalam Abad Kegelapan. Tak satu pun bidang ilmu yang maju, bahkan lebih percaya tahyul. Dalam bidang kedoteran, misalnya. Saat itu di Barat, jika ada orang gila, mereka akan menangkapnya kemudian menyayat kepalanya dengan salib. Di atas luka tersebut mereka akan menaburinya dengan garam. ”Jika orang tersebut berteriak kesakitan, orang Barat percaya bahwa itu adalah momen pertempuran orang gila itu dengan jin. Orang Barat percaya bahwa orang itu menjadi gila karena kerasukan setan” .
Pada saat itu tentara Islam juga berhasil membuat senjata bernama ‘manzanik’, sejenis ketepel besar pelontar batu atau api. Ini membuktikan bahwa Islam mampu mengadopsi teknologi dari luar. Pada abad ke-14, tentara Salib akhirnya terusir dari Timur Tengah dan membangkitkan kebanggaan bagi masyarakat Arab.
Kejatuhan Islam ke tangan Barat dimulai pada awal abad ke-18. Umat Islam mulai merasa tertinggal dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi setelah masuknya Napoleon Bonaparte ke Mesir. Saat itu Napoleon masuk dengan membawa mesin-mesin dan peralatan cetak, ditambah tenaga ahli.Dinasti Abbasiyah jatuh setelah kota Baghdad yang menjadi pusat pemerintahannya diserang oleh bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan. Di sisi lain, tradisi keilmuan itu kurang berkembang pada kekhalifahan Usmaniyah.
            Seorang ilmuwan Islam yang tetap berpegang teguh pada ajaran Allah dan giat melaksanakan penelitian, akan berhasil dalam menemukan rumus untuk membendung kerusakan alam yang lebih parah dan mampu mengatasi kerusakan yang telah terjadi. Manusia diberi keistimewaan berupa kebebasan untuk memilih dan berkreasi sekaligus menghadapkannya dengan tuntutan kodratnya sebagai makhluk psiko-fisik. Akan tetapi dia harus sadar akan keterbatasannya yang menuntut ketaatan dan ketundukan terhadap aturan Allah, baik terhadap perintah untuk beribadah (fungsi ‘abdun, dzikir), maupun terhadap sunatullah (fungsi khalifah, fikit). Perpaduan antara dua tugas ini yaitu sebagai abdun dan khalifah akan mewujudkan manusia yang ideal yakni manusia yang selamat di dunia maupun di akhirat.

2.6  STUDI KASUS
Pendahuluan
Anak Hasil Inseminasi (Bayi Tabung) dalam Perspektif Hukum Islam. Sebagaimana diketahui bahwa anak bagi orang tua ketika ia masih hidup dapat dijadikan sebagai penenang, dan sewaktu ia pulang ke rahmatullah anak sebagai pelanjut dan lambang keabadian. Oleh karena itu, bagi yang tidak memiliki anak berupaya untuk mendapatkan anak, bahkan sebagaimana disebutkan dalam makalah sebelumnya ada pula yang melakukan adopsi untuk mendapatkan anak dengan syarat-syarat yang telah ditentukan berdasarkan pandangan hukum Islam.
Anak mewarisi tanda-tanda kesamaan orang tua, termasuk juga ciri-ciri khas, baik maupun buruk, tinggi maupun rendah. Dia adalah belahan jantungnya dan potongan dari hatinya. Dengan mempertimbangkan kedudukan anak ini, maka pada makalah sebelumnya juga dinyatakan bahwa Allah mengharamkan berzina yang sebenarnya apabila dari perbuatan ini dihasilkan seorang anak, maka kemudaratan pun akan terjadi pada anak ini, walau ia sendiri tidak menginginkan hal demikian.
Dengan semakin berkembang dan majunya ilmu pengetahuan dan teknologi informasi, teknologi modern menemukan bahwa untuk mendapatkan anak tidak perlu melalui adopsi anak yang sebenarnya tidak memiliki hubungan nasab dengan orang yang mengadopsinya, tetapi dengan mengikuti program inseminasi, seseorang dapat memiliki anak, bahkan dilahirkan dari kandungan perempuan itu sendiri. Permasalahan inilah yang kemudian dikaji dalam makalah ini.

Pembahasan
Pengertian Inseminasi
Kata inseminasi berasal dari bahasa Inggris “insemination” yang artinya pembuahan atau penghamilan secara teknologi, bukan secara alamiah. Kata inseminasi itu sendiri, dimaksudkan oleh dokter Arab, dengan istilah التَّلْفِيْحُ dari fi’il (kata kerja) لَقَّحَ-يُلَقِّحُ menjadi تَلْقِيْحًا yang berarti mengawinkan atau mempertemukan (memadukan).
Kata talqih yang sama pengertiannya dengan inseminasi, diambil oleh dokter ahli kandungan bangsa Arab, dalam upaya pembuahan terhadap wanita yang menginginkan kehamilan.
Sedangkan pengertian bayi tabung disebutnya sebagai istilah: طِفْلُ اْلأَنَابِيْتِ yang artinya jabang bayi; yaitu sel telur yang telah dibuahi oleh sperma yang telah dibiakkan dalam tempat pembiakan (cawan) yang sudah siap untuk diletakkan ke dalam rahim seorang ibu.


Teknik Pembuatannya
Untuk melakukan sinseminasi buatan (al-taqih al-Shina’iyah); yaitu sepasang suami-istri yang menginginkan kehamilan, diharapkan selalu berkonsultasi dengan dokter ahli dengan memeriksakan dirinya, apakah keduanya bisa membuahi atau dibuahi, untuk mendapatkan keturunan atau tidak.
Ada beberapa teknik inseminasi buatan yang telah dikembangkan di dunia kedokteran, antara lain ialah :
a.       Fertilization in Vitro (FIV) dengan cara mengambil sperma suami dan ovum istri kemudian diproses di Vitro (tabung), dan setelah terjadi pembuahan, lalu lalu ditransper dirahim isteri.
b.       Gamet Intra Felopian Tuba (GIFT) dengan cara mengambil sperma suami dan ovum isteri, dan setelah dicampur terjadi pembuahan, maka segera ditahan di saluran telur (tuba palupi). Teknik kedua ini lebih alamiah dari pada teknik pertama, sebab sperma hanya bisa membuahi ovum di tuba palupi setelah terjadi ejakulasi (pancaran mani) melalui hubungan seksual.

Sejak bayi tabung itu dimasukkan ke dalam rahim seorang ibu, sejak itu pula berlaku larangan dokter yang harus dipatuhi oleh ibu, antara lain:
a.          kerja keras, atau terlalu capek
b.         Tidak makan atau minum sesuatu yang mengandung unsur alkohol
c.          Tidak boleh melakukan senggama selama 15 hari atau 3 minggu sejak bayi tabung itu diletakkan ke dalam rahim.






Hukum Melakukan Inseminasi
Upaya inseminasi buatan dan bayi tabung, dibolehkan dalam Islam jika perpaduan sperma dengan ovum itu bersumber dari suami-istri yang sah (Inseminasi Homolog). Dan yang dilarang adalah inseminasi buatan dan bayi tabung yang berasal dari perpaduan sperma dan ovum dari orang lain (Inseminasi Heterolog). Iseminasi yang dilarang (Inseminasi Heterolog) ini selain menimbulkan kemudaratan bagi pasangan suami isteri tersebut di mata agama juga menimbulkan pula kemudaratan bagi anak. Setidaknya dalam pandangan hukum Islam anak yang dihasilkan dari  Inseminasi Heterolog, akan dikatakan sebagai anak hasil zina.
Berdasarkan hal demikian, maka kemudaratan-kemudaratan itu perlu dihindari, bahkan dihilangkan. Hal ini sesuai dengan kaidah Fiqhiyah yang mengatakan :
اَلضَّرُرَ يُزَالُ
Artinya: Kemudaratan itu harus dihilangkan.

Selain itu, untuk mencegah agar suami-istri tidak lagi mengalami kesulitan akibat tidak hamil dengan cara senggama, maka perlu ditolong oleh dokter ahli, dengan cara inseminasi buatan dan bayi tabung, yang diambil dari zat sperma dengan ovum suami-istri yang sah. Dan sebaliknya, bila bersumber dari orang lain, maka dikategorikan perbuatan zina, dan dapat menyulitkan persoalan hukum sesudahnya.
Dari uraian-uraian di atas, dapat ditarik sebuah pemikiran bahwa :
a.       Inseminasi buatan dengan sel sperma danovum dari suami istri sendiri dan tidak ditransfer embrionya ke dalam rahim wanita lain (ibu titipan) diperbolehkan Islam, jika keadaan kondisi suami istri yang bersangkutan benar-benar memerlukannya (ada hajat, jadi bukan untuk kelinci percobaan atau main-main). Dan status anak hasil inseminasi macam ini sah menurut Islam;
b.      Inseminasi buatan dengan sperma dan/atau ovum donor diharamkan (dilarang keras) Islam. Hukumnya sama dengan zina dan anak yang lahir dari hasil inseminasi macam ini/bayi tabung ini statusnya sama dengan anak yang lahir di luar perkawinan yang sah;

c.       Pemerintah hendaknya melarang berdirinya Bank Nuthfah/Sperma dan Bank Ovum untuk pembuatan bayi tabung, karena selain bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945, juga bertentangan dengan norma agama dan  moral, serta merendahkan harkat manusia sejajar dengan hewan yang diiseminasi tanpa perlu adanya perkawinan;
d.      Pemeritah hendaknya hanya mengizinkan dan melayani permintaan bayi tabung dengan sel sperma dan ovum suami istri yang bersangkutan tanpa ditransfer  ke dalam rahim  wanita lain (ibu titipan), dan pemerintah hendaknya juga melarang keras dengan sanksi-sanksi hukumannya kepada dokter dan siapa saja yang melakukan inseminasi buatan pada manusia dengan sperma dan/atau ovum donor.

5 komentar: