Sabtu, 04 Mei 2013

SASTRA


2.1        PENGERTIAN SASTRA
A. Teeuw (1984) dan Luxemburg (1986) mengemukakan bahwa belum ada seorang pun yang memberikan jawaban yang ketat untuk pertanyaan tentang definisi sastra. Hal senada diungkapkan pula oleh B. Rahmanto (2000), Suminto A. Sayuti (2002), dan seorang sastrawan Malaysia, Ali Ahmad, dalam sebuah tulisan berjudul “Mencari Definisi Kesusastraan” (dalam Hamzah Hamdani 1988:19-26).
Lebih jauh Luxemburg (1986:3-4) mengemukakan bahwa usul untuk mendefinisikan sastra banyak sekali jumlahnya tetapi usul-usul yang memuaskan tidak banyak. Ia mengemukakan alasan-alasannya sebagai berikut: (1) Sering orang ingin mendefinisikan terlalu banyak sekaligus. Sering dilupakan bahwa ada suatu perbedaan antara sebuah definisi deskriptif mengenai sastra—yang memberi jawaban terhadap pertanyaan: sastra itu apa?—dan sebuah definisi evaluatif yang ingin menilai apakah suatu karya sastra termasuk karya sastra yang baik atau tidak; (2) Sering orang mencari sebuah definisi “ontologis” mengenai sastra, yaitu sebuah definisi yang mengungkapkan hakikat sebuah karya sastra sambil melupakan bahwa sastra hendaknya didefinisikan di dalam situasi para pemakai dan pembaca sastra; (3) Yang berkaitan dengan itu, sering anggapan mengenai sastra terlalu ditentukan oleh contoh sastra Barat, khususnya sejak zaman Renaissance, tanpa menghiraukan bentuk-bentuk sastra yang khas seperti terdapat dalam lingkungan kebudayaan di luar Eropa, di dalam zaman-zaman tertentu atau di dalam lingkungan sosial tertentu. Misalnya, konsep tentang sastra yang diterapkan bagi zaman klasik Eropa dan bagi lingkungan kebudayaan di luar Eropa sekaligus juga mau diterapkan bagi lingkungan kebudayaan Eropa-Amerika modern; (4) Pernah diberikan definisi-definisi yang kurang lebih memuaskan berkaitan dengan sejumlah jenis sastra, tetapi yang kurang relevan diterapkan pada sastra pada umumnya. Demikian misalnya disajikan sebuah definisi yang cocok bagi puisi, sedangkan yang dicari ialah sebuah definisi yang tepat bagi sastra pada umumnya.
Pendek kata, dalam pandangan Luxemburg, pengertian-pengertian tentang sastra sendiri sering dimutlakkan dan dijadikan sebuah tolok ukur atau parameter universal padahal perlu diperhatikan kenisbian historis sebagai titik pangkal.
Menurut Luxemburg (1986:9-11) tidak mungkin memberikan sebuah definisi yang universal mengenai sastra. Sastra bukanlah sebuah benda yang kita jumpai, sastra adalah sebuah nama yang dengan alasan tertentu diberikan pada sejumlah hasil tertentu dalam suatu lingkungan kebudayaan. Luxemburg menyebut sejumlah faktor yang mendorong para pembaca untuk menyebut teks ini sastra dan teks itu bukan sastra. Sejumlah faktor itu adalah sebagai berikut: (1) yang dikaitkan dengan pengertian sastra ialah teks-teks yang tidak melulu disusun atau dipakai untuk suatu tujuan komunikatif yang praktis dan yang hanya berlangsung untuk sementara waktu saja. Secara agak dibuat-buat hasil sastra dipergunakan dalam situasi komunikasi yang diatur oleh suatu lingkungan kebudayaan tertentu; (2) bagi sastra Barat dewasa ini kebanyakan teks drama dan cerita mengandung unsur fiksionalitas; (3) puisi lirik tidak begitu saja kita namakan “rekaan”. Di sini Luxemburg lebih suka menggunakan kategori konvensi distansi; (4) dalam sastra bahannya diolah secara istimewa. Ini berlaku bagi puisi maupun prosa; (5) sebuah karya sastra dapat kita baca menurut tahap-tahap arti yang berbeda-beda…. Sejauh mana tahap-tahap arti itu dapat kita maklumi sambil membaca sebuah karya sastra tergantung pada mutu karya sastra yang bersangkutan dan kemampuan pembaca dalam bergaul dengan teks-teks sastra; (6) juga karya-karya sastra yang bersifat nonfiksi dan yang juga tidak dapat digolongkan pada puisi, karena ada kemiripan, digolongkan pada karya sastra; (7) terdapat karya-karya yang semula tidak dianggap sebagai suatu karya sastra tetapi kemudian dimasukkan ke dalam kategori sastra.
Luxemburg (1986:11-12) lebih jauh menilai sastra sebagai berikut: (1) karena sifat rekaannya, sastra secara langsung tidak mengatakan sesuatu mengenai kenyataan dan juga tidak menggugah kita untuk langsung bertindak. Justru oleh karena itu sastra memberikan kemungkinan dan keleluasaan untuk memperhatikan dunia-dunia lain, kenyataan-kenyataan yang hanya hidup dalam angan-angan, sistem-sistem nilai yang tidak dikenal atau yang bahkan tidak dihargai; (2) sambil membaca sebuah karya sastra kita dapat mengadakan identifikasi dengan seorang tokoh, dengan orang lain; (3) bahasa sastra dan pengolahan bahan lewat sastra dapat membuka batin kita bagi pengalaman-pengalaman baru atau mengajak kita untuk mengatur pengalaman tersebut dengan suatu cara baru; (4) selain itu, bahasa sastra dan sarana-sarana sastra masih mempunyai nilai tersendiri; (5) dalam lingkungan kebudayaan sastra merupakan sebuah sarana yang sering dipergunakan untuk mencetuskan pendapat-pendapat yang hidup di dalam masyarakat.
Sementara itu, Yus Rusyana (1984:298) mengemukakan bahwa sastra adalah bentuk kegiatan kreatif manusia yang mempergunakan bahasa sebagai mediumnya. Batasan itu berada dalam suatu cahaya pemikiran yang sama dengan Wellek dan Austin (1983:3) yang menyebutkan bahwa sastra adalah suatu kegiatan kreatif, suatu karya seni. Sedangkan Jakob sumardjo dan Saini KM (1988:3) mendefinisikan sastra: ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakinan dalam suatu bentuk gambararan kongkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa.
Menurut Jakob Sumardjo dan Saini KM (1988:16-17) terdapat tiga hal yang membedakan karya sastra dengan bukan karya sastra. Ketiga hal itu adalah: (1) sifat khayali sastra; (2) adanya nilai-nilai seni; dan (3) adanya cara penggunaan bahasa yang khas. Karya sastra bukan hanya mengejar bentuk ungkapan yang indah. Karya sastra juga menyangkut masalah isi ungkapan, bahasa ungkapannya, dan nilai ekspresinya. Berdasarkan semua itu, penilaian terhadap suatu karya sastra sebagai bermutu (atau tidak bermutu) harus berdasarkan penilaian bentuk, isi, ekspresi, dan bahasanya. Sebenarnya unsur-unsur tersebut tidak berdiri sendiri-sendiri. Semuanya merupakan suatu kesatuan yang tidak mungkin dipisah-pisahkan. Hanya demi kepentingan analisislah bentuk karya sastra yang bermutu tadi perlu dibeda-bedakan.
Jakob Sumardjo dan Saini KM (1988:5-8) mengajukan sepuluh syarat karya sastra dapat disebut sebagai karya sastra bermutu, yaitu sebagai berikut:   (1) karya sastra adalah suatu usaha merekam isi jiwa sastrawannya. Rekaman ini menggunakan alat bahasa; (2) sastra adalah komunikasi; (3) sastra adalah sebuah keteraturan. Karya sastra memiliki peraturan sendiri dalam dirinya; (4) sastra adalah penghiburan; (5) sastra adalah sebuah integrasi; (6) karya sastra yang bermutu merupakan suatu penemuan; (7) karya sastra yang bermutu merupakan ekspresi sastrawannya; (8) karya sastra yang bermutu merupakan sebuah karya yang pekat; (9) karya sastra yang bermutu merupakan penafsiran kehidupan; dan (10) karya sastra yang bermutu adalah sebuah pembaruan.
Perihal karya sastra merupakan penafsiran kehidupan, penemuan dan pembaruan, menjadi pemikiran banyak sastrawan terkemuka dan menjadikannya sebagai filosofi kerja dalam aktivitas kesastrawanan mereka. Secara eksplisit hal itu antara lain dikemukan sastrawan penerima Hadiah Nobel Sastra 2001 asal Trinidad keturunan India, V.S. Naipaul (2003) dalam pidato kehormatan yang disampaikannya di Universitas Manhattan yang diberi judul “Our Universal Civilization”, dan sastrawan penerima Hadiah Nobel Sastra 1991 asal Afrika Selatan, Nadine Gordimer (1995).
Terdapat tiga hal yang membedakan karya sastra dengan karya-karya (tulis) lain yang bukan sastra, yaitu sifat khayali (fictionality), adanya nilai-nilai seni (esthetic values) dan adanya cara penggunaan bahasa yang khas (special use of language). Dalam uraian lebih jauh tentang fictionality, esthetic values dan special use of langauge yang membedakan karya sastra dengan karya-karya tulis lainnya, Jakob Sumaardjo dan Saini KM (1988:13) mengemukakan bahwa sifat khayali sastra merupakan akibat dari kenyataan bahwa karya sastra diciptakan dengan daya khayal; dan walaupun karya sastra hendak berbicara tentang kenyataan-kenyataan dan masalah kehidupan yang nyata, karya sastra itu terlebih dulu menciptakan dunia khayali sebagai latar belakang tempat kenyataan-kenyataan dan masalah-masalah itu dapat direnungkan dan dihayati pembaca. Mengapa sastrawan mempergunakan dunia khayali sebagai latar belakang kenyataan atau masalah yang ingin disajikannya kepada pembaca? Jawabnya ialah karena dengan melalui dunia khayali itu pembaca dapat menghayati kenyataan-kenyataan dan masalah-masalah di dalam bentuk kongkretnya, dan yang tersentuh oleh masalah itu tidak hanya pikirannya saja, akan tetapi juga perasaan dan daya khayalnya. Dengan demikian, pembaca dapat menjawab (memberi response) terhadap kenyataan atau masalah yang disajikan dengan seluruh kepribadiannya. Response seperti itu berbeda dengan yang diberikan pembaca pada karya-karya yang bukan sastra, misalnya karya-karya ilmiah atau filsafat.
Adanya nilai-nilai seni (estetika) bukan saja merupakan persyaratan yang membedakan karya sastra dari yang bukan karya sastra, akan tetapi justru dengan bantuan nilai-nilai itulah sastrawan dapat mengungkapkan isi hatinya sejelas-jelasnya, sedalam-dalamnya, dan sekaya-kayanya. Adapun nilai-nilai seni itu meliputi: keutuhan (unity) atau kesatuan dalam keragaman (unity in variety), keseimbangan (balance), keselarasan (harmony), dan tekanan yang tepat (right emphasis).
Keutuhan maksudnya ialah suatu karya sastra (puisi, novel, cerita pendek, drama, atau esai) harus utuh; artinya, setiap bagian atau unsur yang ada padanya menunjang pada usaha pengungkapan isi hati sastrawan. Keseimbangan ialah unsur-unsur atau bagian-bagian karya sastra, baik dalam unsur maupun bobotnya, harus sesuai atau seimbang dengan faal atau fungsinya. Keselarasan berkenaan dengan hubungan satu unsur atau bagian karya sastra dengan unsur atau bagian lain; artinya, unsur atau bagian itu harus menunjang daya ungkap unsur atau bagian lain dengan citra atau lambang lain, dan seterusnya. Akan halnya tekanan yang tepat, unsur atau bagian yang penting harus mendapat penekanan yang lebih daripada unsur atau bagian yang kurang penting. Unsur yang penting itu akan dikerjakan sastrawan dengan lebih saksama, sedangkan yang kurang penting mungkin hanya berupa garis besar dan bersifat skematik saja.
Danziger dan Johnson (1961) melihat sastra sebagai suatu “seni bahasa”, yakni cabang seni yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya.1 Dainces (1964) mengacu pada Aristoteles yang melihat sastra sebagai suatu karya yang “menyampaikan suatu jenis pengetahuan yang tidak bisa disampaikan dengan cara

 

1 Dalam Buku Membaca Sastra karya Melani Budianta dkk. Halaman 7
yang lain”, yakni suatu cara yang member kenikmatan yang unik dan pengetahuan yang memperkaya wawasan pembacanya.2
Menurut Drs. Utjen Djussen, M.Hum. sastra adalah karya seni dalam bentuk bahasa.3   
             Dalam membandingkan karya sastra dan nonsastra dapat membandingkan makna yang befsifat denotatif (makna tersurat) dan makna konotatif (makna tersirat)  contohnya kata Merah mempunyai arti denotatif warna sedangkan arti konotatif mungkin berani, darah, ancaman dan lain-lain.
            Dapat juga menilai dari bahasa yang dipakai karya nonsastra menentukan hal-hal teknis, seperti data, fakta, sumber primer, bukti, dan contoh. Sedangkan sastra menggambarkan nuansa-nuansa perasaan dan pikiran yang tidak bisa diwakili oleh angka dan statistik.

Konvensi dalam sastra
             Dalam karya satra terdapat kesepakatan yang disebut dengan konvensi. Konvensi, yakni suatu kesepakatan yang sudah diterima orang banyak dan sudah menjadi tradisi. Artinya, kebiasaan itu dijadikan secara terus-menerus dari waktu ke waktu.4 Secara umum, konvensi yang paling dasar adalah penggolongan jenis-jenis teks sastra menjadi tiga, yakni genra puisi, prosa, dan drama.5

Fungsi sastra
            Seorang pemikir Romawi, Horatius, mengemukakan istilah dulse et utile, dalam tulisannya berjudul art Poetica. Sastra mempunyai fungsi ganda yakni menghibur dengan cara menyajikan keindahan, memberikan makna terhadap kehidupan, atau memberikan pelepasan ke dunia imajinasi dan sekaligus memberikan manfaat bagi pembacanya.5
 

2 Dalam Buku Membaca Sastra karya Melani Budianta dkk. Halaman 7—8  
3 Dosen Teori Sastra UNJ dalam perkuliahan 8 Maret 2013
4 Dalam Buku Membaca Sastra karya Melani Budianta dkk. Halaman  15
5 Dalam Buku Membaca Sastra karya Melani Budianta dkk. Halaman  16
Fungsi-fungsi lain yaitu sarana untuk menyampaikan pesan untuk kebenaran, tentang apa yang baik dan buruk, sebagai sarana kritik sosial, alat menyatakan perasaan, media komunikasi yang melibatkan tiga komponen yakni, pengarang sebagai pengirim pesan, karya sastra sebagai pesan itu sendiri, pembaca sebagai penerima pesan. Fungsi sastra berubah dari zaman ke zaman, sesuai kondisi dan kepentingan masyarakat pendukungnya.

Produksi dan reproduksi sastra
            Proses penciptaan (produksi karya sastra) serta penyebaran dan penggandaannya (reproduksi) sastra melibatkan berbagai macam pihak. Yang pertama adalah pencipta karya sastra, yakni pengarang yang berdasarkan kreativitas, imajinasi, dan kerjanya, menuliskan atau menciptakan suatu karya. Yang kedua adalah penerbit, yakni lembaga yang mampu mempublikasikan karya sastra secara missal, dalam jumlah banyak. Yang ketiga lembaga-lembaga lain dalam masyarakat seperti komunitas sastra, lembaga pendidikan, lembaga pengayom sastra, serta pemerintah.
            Dalam karya sastra dibutuhkan juga kritikus sastra, atau pembaca yang mempunyai kemampuan untuk menilai karya sastra secara kritis untuk meningkatkan mutu karya sastra itu sendiri. Kritikus juga berperan untuk menjelaskan dan meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap karya sastra.

Bahasa tulis : tujuh ciri
1.      Dalam pemakaian bahasa secara tertulis baik si pembicara maupun si pendengar kehilangan sarana komunikasi yang dalam pemakaian bahasa lisan member sumbangan paling hakiki untuk berhasilnya komunikasi.
2.      Tidak ada hubungan fisik antara penulis dengan pembaca.
3.      Penulis malahan tidak hadir sebagiannya atau pun seluruhnya dalam situasi komunikasi.
4.      Teks tulis juga mungkin sekali makin lepas dari kerangka referensi aslinya.
5.      Pembaca memiliki keuntungan disbanding pendengar dalam situasi komunikasi.
6.      Teks tulis dapat direproduksidalam berbagai bentuk.
7.      Penulis dan pembaca membuka kemungkinan adanya jarak jauh antara keduanya, dalam hal ruang, waktu dan juga kebudayaan.

2.2        PUISI DAN ASPEK-ASPEKNYA
Puisi merupakan karya sastra yang di dalamnya mengandung unsur-unsur ekspresi puitis.
Unsur-unsur pembangun puisi
            Metafora pada dasarnya adalah sebuah kata atau ungkapan yang maknanya bersifaat kiasan, dan bukan harfiah karena ia berfungsi menjelaskan sebuah konseb.6 Contoh “dewi bulan” untuk melukiskan seorang kekasih yang cantik.
            Simile kurang lebih memiliki fungsi yang sama dengan metafora, yaitu membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain namun masih memiliki kesaman-kesamaan tertentu.7 Kata-kata yang kerap muncul dalam simile “seperti”, “bagai”, “bak”, “ibarat”, dan lain-lain.
            Personifikasi adalah benda mati seperti, “dinding kamar”, “hujan” atau benda-benda alam seperti, “matahari”, dan “pohon” seolah-olah benyawa dan melakukan sesuatu atau menjadi manusiawi.8
Metonimi selalu memiliki hubungan kedekatan dengan hal yang diwakilinya.9 Dengan hubungan sebab akibat. Contoh “Aku membaca Rendra” penutur tidak membaca Rendra sebagai orang melainkan karya-karya Rendra.
6 Dalam Buku Membaca Sastra karya Melani Budianta dkk. Halaman  40
7 Dalam Buku Membaca Sastra karya Melani Budianta dkk. Halaman  40
8 Dalam Buku Membaca Sastra karya Melani Budianta dkk. Halaman  40
9 Dalam Buku Membaca Sastra karya Melani Budianta dkk. Halaman  40
            Repetisi atau pengulangan bunyi atau kata-kata tertentu untuk membangun suatu bait.
            Wellek dan Werren, fungsi puisi pada akhirnya adalah setia pada dirinya sendiri (fidelity to its own nature).10 Dengan kata lain yang menjadi acuannya adalah teks (puisi) itu sendiri bukan pengarangnya, atau pembacanya, atau masyarakat dan zamannya.
Aneka ragam puisi
            Bentuk “puisi” tertua adalah mantra. Di dalam mantra, bunyi lebih penting daripada makna. Heroic couplet (dalam kesusastraan Inggris) adalah karya puisi yang masing-masing bait terdiri atas dua larik yang memiliki rima yang sama. Sedangkan dalam kesusastraan Melayu hal ini disebut dengan guridam, gurindam yang terkenal adalah Gurindam Dua Belas,  karya Raja ali Hadji.
·         Segi Ungkapan
Puisi lirik lebih mengutamakan suasana daripada tema, dan makna kerap perlu dipahami dalam kaitan dengan suasana batinertentu yang hendak dibangun daripada dengan pesan-pesan moral.
Puisi epik (sajak naratif) banyak menggunakan kisahan yang lebih bergaya prosais sambil tetap mempertahankan unsur-unsur puitik yang umum dijumpai dalam puisi, seperti rima, kesamaan jumlah ketukan, dan semacamnya.
Sajak naratif yang berisi kisah tentang para ksatria dan pahlawan, dan orang-orang biasa yang ada pada zaman dahulu juga dibawakan lewat nyanyian disebut balada.


 

10 Dalam Buku Membaca Sastra karya Melani Budianta dkk. Halaman  44
·         Segi Bentuk
Soneta adalah karya sastra puisi yang terdiri dari atas empatbelas larik dengan pola rima tertentu.Soneta Shakespeare berstuktur rima a-b-a-b dengan susunan larik 4-4-4-2, sementara sonata yamin berima a-b-b-a dengan susunan larik 4-4-3-3.
Kwatrin adalah bentuj sajak yang lebih pendek khanya terdiri atas empat larik. Penyair yang terkenal adalah Omar Khayyam. Dalam bahasa Persia kwatrin disebut ruba ‘iyat.
·         Segi Isi
Ode adalah sajak yang berisi pujian-pujian untuk seorang tokoh atau pahlawan, atau suatu peristiwa besar.
Epitaf adalah sajak yang biasanya digunakan pada batu nisan dimakam seseorang  yang berisi pesan atau ajaran moral yang dipetik dari pengalaman orang yang dimakamkan di bawah batu nisan tersebut.
Elegi adalah puisi yang berisi semacam dukacita atau rasa sesal akan sesuatu yang sangat berharga atau dikasihi namun yang kini telah hilang.

2.3        PROSA DAN ASPEK-ASPEKNYA
            Prosa narasi, semua teks/karya rekaan yang tidak berbentuk dialog, yang isinya dapat merupakan kisah sejarah atau sederetan peristiwa. Prosa dibagi menjadi roman/novel, cerita pendek, dongeng, catatan harian, (oto)biografi, anekdot, lelucon, roman dalam bentuk surat-menyurat (epistoler), cerita fanatik maupun relistik.
Unsur-unsur prosa: tokoh, latar, alur
            Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan dalam berbagai peristiwa dalam cerita (Sudjiman, 1990). Macam-macam tokoh tokoh utama (protagonis), tokoh lawan (antagonis), dan tokoh bawaan yaitu tokoh-tokoh yang fungsinya hanya melengkapi.
            Latar yakni segala keterangan mengenai waktu, ruang, dan suasana terjadinya lakuan dalam karya sastra. Latar adalah lingkungan yang dapat berfungsi sebagai metonimi, metafora, atau ekspresi tokohnya (Wellek dan Weren, 1989).
            Alur adalah rangkaian peristiwa direka dan dijalin dengan saksama membentuk alur yang menggerakkan jalannya cerita melalui rumitan ke arah klimaks dan selesaian (Sudjiman, 1990).
Struktur penceritaan/penuturan
            Sudut pandang, pencerita sering menyebut diri “aku” atau “saya” (pencerita akuan). Penceritaan akuan adalah tokoh dalam ceritanya tetapi tidak selalu tokoh utama. Sering kali juga pencerita mengacu pada tokoh-tokohnya dengan kata ganti dia atau ia. Pencerita diaan berada di luar cerita. Ia hanya menyampaikan cerita tanpa terlibat di dalamnya.
            Dalam menyampaikan kisahnya, pencerita selalu mengambil posisi dan bercerita  menurut suatu sudut pandang. Jika ia “berada” dalam cerita sebagai tokoh (pencerita akuan internal), pandangannya terbatas pada apa yang dapat diketahui oleh seorang tokoh. Namun, jika ia berada di luar (pencerita diaan eksternal), ia dapat menjadi pencerita mahatahu, yakni pencerita yang mengetahui maksud dan pikiran semua tokoh serta semua yang mereka lakukan. Semua tokoh di pandang dari dalam (fokalisasi intern)

2.4        DRAMA DAN ASPEK-ASPEKNYA
Drama adalah genre sastra yang penampilan fisiknya melibatkan secara verbal adanya dialogue atau cakapan di antara tokoh-tokoh yang ada.

Karakteristik, elemen drama, dan sarana dramatik
            Sylvan Barnet dan kawan-kawannya (1983), “A play is written to be seen and to be heard.” Yang artinya drama ditulis untuk dilihat dan didengar (dipertunjukkan).
·         Elemen drama
W.H. Hudson (1958) mengemukakan adanya dua pendapat yaitu (a) alur lebih dipentingkan, sedangkan tokoh hanya untuk mengisi dan menyelesaikan alur itu dan (b) tokoh yang lebih penting, sedangkan alur hanya digunakan untuk mengembangkan tokoh. Namun menurut Bernard Grebanier (1981) bahwa alur lebih penting daripada tokoh; tokoh hanyalah subordinat saja dari alur.
 Jalannya cerita dalam drama menurut Hudson dramatic-line secara garis besarnya adalah: (a) pemaparan/eksposisi; (b) penggawatan/komplikasi; (c) krisis/klimaks; (d) peleraian/antiklimaks; (e) penyelesaian.
·         Sarana dramatik
Monolog (monologue) adalah sebuah komposisi tertulis—dalam naskah drama—atau yang berbentuk lisan yang menyajikan wacana satu orang pembicara.
Solilokui (soliloquy) adalah agak mirip dengan monolog dalam tampilannya seorang tokoh atau pemain, yang diucapkan tokoh biasanya panjang dan isinya merupakan pemikiran subjektif yang ditunjukkan kepada penonton untuk menyarankan hal-hal yang akan terjadi.
Sampingan (aside) adalah ujaran yang ditunjukkan kepada para penonton, ujaran yang diucapkan biasanya berisi pikiran tokoh itu sendiri yang berisi komentar terhadap peristiwa yang tengah berlangsung.


Pengkatogorian drama
             Dilihat dari kemungkinan untuk dipentaskan drama dibagi menjadi dua yaitu drama pentas (drama yang dipentaskan menarik perhatian orang) dan drama baca (drama yang tidak berkemungkinan untuk dipentaskan).
            Berdasarkan pengungkapannya ada dua yaitu opera dan operet. Opera adalah karya drama yang sangat mengutamakan nyanyian dan hamper seluruh adegan dilakukan dengan cara bernyanyi. Operet adalah cara penyajiannya tidak selalu dinyanyikan tetapi terkadang diselingi pula dengan cakapan.
            Berdasarkan pola sajiannya drama digolongkan menjadi lima. Tragedi adalah sebuah drama yang ujung kisahnya berakhir dengan kedukaan atau dukacita. Biasanya tokoh utama mengalami kematian.
            Komedi berakhir dengan sukacita, pengarang melalui pemilihan kata yang cerdas yang menimbulkan gelak tawa penonton maka sering juga disebut drama gelak.
            Tragikomedi adalah pencampuran dua kecenderungan emosional pada diri manusia antara sedih dan bahagia.
            Melodrama yaitu berasal dari alur opera yang dicakapkan dengan iringan musik. Atau, dapat berupa sebuah pementasan yang ketika tanpa pementasan apa pun, emosi dibangun melalui musik.
            Farce, secara umum dapat dikatakan sebagai sebuah sajian drama yang bersifat karikatural.

STRUKTURAL GENETIK


STRUKTURALISME GENETIK
2.1 Sejarah Teori Strukturalisme Genetik
            Sejajar dengan strukturalisme dinamik, strukturalisme genetik dikembangakan atas dasar penolakan terhadap analisis strukturalisme murni, analisis terhadap unsur-unsur intrinsik. Baik strukturalisme dinamik maupun strukturalisme genetik, juga menolak peranan bahasa sastra sebgai bahasa yang khas. Perbedaannya, strukturalisme dinamik terbatas dalam melibatkan peranan penulis dan pembaca dalam rangka komunikasi sastra, strukturalisme genetik melangkah lebih jauh yaitu ke struktur sosial. Langkah-langkah inilah yang berhasil membawa strukturalisme genetik sangat dominan pada periode tertentu, dianggap sebagai teori yang berhasil memicu kegairahan analisis, baik di Barat maupun di Indonesia.
Strukturalisme genetik ini merupakan gerakan penolakan strukturalisme murni, yang hanya menganalisis unsur-unsur intrinsik saja tanpa mengindahkan hal-hal di luar teks sastra itu sendiri. Gerakan ini juga menolak peranan bahasa sastra sebagai bahasa yang khas, bahasa sastra. (Ratna, 2006: 121). Secara definitif, Ratna (2006: 123) menjelaskan lebih lanjut bahwa strukturalisme genetik adalah analisis struktur dengan memberikan perhatian terhadap asal-usul teks sastra. Meskipun demikian, sebagai teori yang sudah teruji validitasnya, strukturalisme genetik masih ditopang oleh beberapa konsep teori sosial lainnya; fakta kemanusiaan (Faruk, 1999: 12), simetri atau homologi, kelas-kelas sosial, subjek transindividual, dan pandangan dunia (Ratna, 2006: 123). Konsep-konsep inilah yang membawa strukturalisme genetik pada masa kejayaannya sekitar tahun 1980 hingga 1990.
Struktur karya sastra Goldman mengemukakan dua pendapat mengenai karya sastra pada umumnya, yang pertama bahwa karya sastra merupakan ekspresi pandangan dunia secara imajiner. Sedangkan yang kedua adalah bahwa dalam usahanya mengekspresikan pandangan dunia itu pengarang menciptakan semesta tokoh-tokoh, objek-objek, dan relasi-relasi secara imajiner.
Dari dua pendapatnya itu, Goldmann mempunyai konsep struktur yang bersifat tematik, yang memusatkan perhatian pada relasi antara tokoh dengan tokoh dan tokoh dengan objek yang ada disekitarnya. Dengan demikian, Goldmann membedakan teks sastra dengan filsafat yang mengungkapkan pandangan dunia secara konseptual dan sosiologi yang mengekspresikan pandangan dunia secara empirisitas.

2.2  Penemu Teori Strukturalisme Genetik
Strukturalisme genetik didirikan oleh Taine, lalu dikembangkan oleh Lucien Goldmann, seorang filsuf dan sosiolog Rumania-Perancis. Teori ini dikemukakan oleh Lucien Goldmann pada tahun 1956 dengan terbitnya buku The Hidden God: a Study of Tragic Vision in the Pensees of Pascal and the tragedies of Racine, dalam bahasa Perancis terbit pertama kali tahun 1956. Sebagai penghormatan terhadap jasa-jasanya, Jurnal Ilmiah The Philosophical Forum (Vol. XXIII, 1991-1992) secara khusus menerbitkan karya-karya  ilmiah dalam kaitannya dengan kepakarannya, khususnya terhadap teori strukturalisme genetik.
 2.3  Pengertian Strukturalisme Genetik
Menurut KBBI Edisi IV 2008 halaman 471, genetika berarti cabang ilmu hayat yang menerangkan sifat turun-temurun;  ajaran tentang pewarisan. Secara etimologi, genetika berasal dari bahasa Yunani  atau genno yang berarti "melahirkan" merupakan cabang biologi yang penting saat ini. Ilmu ini mempelajari berbagai aspek yang menyangkut pewarisan sifat dan variasi sifat pada organisme maupun suborganisme (seperti virus dan prion). Ada pula yang dengan singkat mengatakan, genetika adalah ilmu tentang gen. Nama "genetika" diperkenalkan oleh William Beteson pada suatu surat pribadi kepada Adam Chadwick dan ia menggunakannya pada Konferensi Internasional tentang Genetika ke-3 pada tahun 1906. Berdasarkan ilmu biologi gen adalah sifat yang diwariskan atau diturunkan dari orang tua, sedangkan kaitannya dengan dunia sastra adalah bagaimana pengaruh genetika atau latar belakang pegarang dalam menciptakan karya sastra.
Sedangkan secara epistemologis strukturalisme genetik dapat diartikan sebagai sebuah analisis struktur dengan memberikan perhatian terhadap asal-usul karya dan terhadap analisis intrinsik dan ekstrinsik. Strukturalisme genetik pula sebuah pendekatan di dalam penelitian sastra yang lahir sebagai reaksi pendekatan strukturalisme murni yang anti-historis dan kausal. Pendekatan strukturalisme juga dinamakan sebagai pendekatan objektif. Pendekatan ini dianggap sebagai satu-satunya pendekatan yang mampu merekonstruksikan pandangan dunia pengarang. Genetik diartikan sebagai asal-usul karya sastra yang meliputi pengarang dan realita sejarah yang turut mendukung penciptaan karya sastra tersebut. Teori dan pendekatan yang dimunculkannya ini dikembangkan sebagai sintesis atas pemikiran Jean Piaget, Geogre Lukacs, dan Karl Marx. Artinya, ia tidak berdiri sendiri, melainkan banyak hal yang menyokongnya sehingga ia menjadi satu bangunan yang otonom. Akan tetapi, Goldmann tidak secara langsung menghubungkan antara teks sastra dengan struktur sosial yang menghasilkannya, melainkan mengaitkannya terlebih dahulu dengan kelas sosial dominan. Sebab, struktur itu bukanlah sesuatu yang statis, melainkan merupakan produk dari sejarah yan terus berlangsung, proses strukturisasi dan destrukturisasi yang hidup dan dihayati oleh masyarakat asal teks sastra yang bersangkutan. Strukturalisme genetik mencoba mengkaitkan antara teks sastra, penulis, pembaca (dalam rangka komunikasi sastra), dan struktur sosial.

2.4  Beberapa Konsep Dasar Berkaitan dengan Pembentuk Strukturalisme Genetik
v  Fakta Kemanusiaan
Fakta kemanusiaan merupakan hasil aktivitas atau perilaku manusia baik yang verbal maupun yang fisik, yang berusaha dipahami ilmu pengetahuan. Fakta kemanusiaan dalam Strukturalisme genetik dibagi kedalam dua bagian yaitu, fakta individual dan fakta sosial. Goldmann via Faruk (1999: 13) menganggap bahwa semua fakta kemanusiaan mempunyai struktur tertentu dan arti tertentu. Fakta-fakta manusia ini memiliki arti karena bersentuhan dnegan subjek kolektif ataui individual. Dengan kata lain, Fakta-fakta kemanusiaan ini merupakan hasil usaha manusia untuk mencapai keseimbangan yang lebih baik dalam hubungannya dengan dunia sekitar. Dalam proses strukturasi dan akomodasi yang terus menerus suatu karya sastra sebagai fakta kemanusiaan, sebagai hasil aktivitas kultural manusia. Proses tersebut sekaligus merupakan genetik dari struktur karya sastra.
v  Homologi
Homologi menurut Ratna (2006: 122) diturunkan melalui organisme primitif yang sama dan disamakan dengan korespondensi, kualitas hubungan yang bersifat struktural. Homologi memiliki implikasi dengan hubungan bermakna antara struktur literer dengan struktur sosial. Nilai-nilai yang otentik yang terdapat pada strukturalisme genetik menganggap bahwa karya sastra sebagai homolagi antara struktur karya sastra dengan struktur lain yang berkaitan dengan sikap suatu kelas tertentu atau struktur mental dan pandangan dunia yang dimiliki oleh pengarang dan penyesuaiannya dengan struktur sosialnya.
v  Kelas-kelas Sosial.
Kelas-kelas sosial adalah kolektivitas yang menciptakan gaya hidup tertentu, dengan struktur yang ketat dan koheren. Kelas merupakan salah satu indikator untuk membatasi kenyataan sosial yang dimaksudkan oleh pengarang untuk mempengaruhi bentuk, fungsi, makna, dan gaya suatu karya seni. Dikaitkan dengan strukturalisme genetik kelas yang dimaksudkan adalah kelas sosial pengarang karena karya sastra sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan pengarang. Dalam hubungan inilah, sesuai dengan pandangan Marxis, karya disebut sebagai wakil kelas sebab karya sastra dimanfaatkan untuk menyampaikan aspirasi kelompoknya. Dikaitkan dengan pengarang, latar belakang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu latar belakang karena afiliasi dan karena kelahiran.
v  Pandangan Dunia.
Pandangan dunia memicu subjek untuk mengarang, dan dianggap sebagai salah satu ciri keberhasilan suatu karya. dalam rangka strukturalisme genetik, pandangan dunia berfungsi untuk menunjukkan kecenderungan kolektivitas tertentu. Melalui kualitas pandangan dunia inilah karya sastra menunjukkan nilai-nilainya, sekaligus memperoleh artinya bagi masyarakat. Menurut Goldmann via Faruk (1999: 15) pandangan dunia merupakan istilah yang cocok bagi kompleks menyeluruh dari gagasan-gagasan, aspirasi-aspirasi, dan perasaan-perasaan yang menghubungkan secara bersama-sama anggota kelompok sosial tertentu dan mempertentangkannya dengan kelompk sosial yang lainnya. Masih menurut goldman pandangan dunia merupakan kesadaran kolektif yang dapat digunakan sebagai hipotesis kerja yang konseptual, suatu model, bagi pemahaman mengenai koherensi struktur teks sastra. Pandangan dunia ini berkembang sebagai hasil dari situasi sosial dan ekonomi tertentu yang dihadapi oleh subjek kolektif yang memilikinya. Pandangan dunia tidak lahir dengan tiba-tiba , transformasi mentalitas yang lama secara berlahan-lahan dan bertahap diperlukan demi terbangunnya mentalitas yang baru dan teratasinya mentalitas yang lama.
Penelitian dengan Metode Strukturalisme Genetik Sapardi Djoko Damono memberikan ciri-ciri strukturalisme genetik sebagai suatu metode, yaitu:
1.      Perhatiannya terhadap keutuhan dan totalitas: kaum strukturalis percaya bahwa yang menjadi dasar telaah strukturalisme genetik bukanlah bagian-bagian totalitas tetapi jaringan hubungan yang ada antara bagian-bagian itu, yang menyatukannya menjadi totalitas.
2.      Strukturalisme genetik tidak menelaah struktur pada permukaannya, tetapi struktur yang ada di balik kenyataan. Kaum strukturalis berpandangan bahwa yang terlihat dan terdengar, misalnya, bukanlah struktur yang sebenarnya, tetapi hanya bukti adanya struktur.
3.      Analisis yang dilakukan oleh kaum strukturalis menyangkut struktur yang sinkronis (bukan diakronis). Perhatian kaum strukturalis lebih difokuskan pada hubungan-hubungan yang ada pada suatu saat di suatu waktu, bukan dalam perjalanan waktu. Struktur sinkronis dibentuk oleh jaringan hubungan struktural yang ada.
4.      Strukturalisme genetik adalah metode pendekatan yang antikausal. Kaum strukturalis dalam analisisnya sama sekali tidak menggunakan sebab-akibat; mereka menggunakan hukum perubahan bentuk.
Untuk menopang teorinya tersebut Goldmann membangun seperangkat kategori yang saling bertalian satu sama lain sehingga membentuk apa yang disebut sebagai strukturalisme genetik di atas. Kategori-kategori itu adalah fakta kemanusiaan, subjek kolektif, strukturasi, pandangan dunia, pemahaman dan penjelasan (Faruk dalam Chalima, 1994).
1. Fakta Kemanusiaan
Fakta kemanusiaan adalah segala hasil aktifitas atau perilaku manusia baik yang verbal maupun yang fisik, yang berusaha dipahami oleh ilmu pengetahuan. Fakta ini dapat berwujud aktifitas sosial tertentu, aktivitas politik tertentu, maupun kreasi kultural seperti filsafat, seni rupa, seni patung, dan seni sastra (Faruk dalam Chalima, 1994). Fakta-fakta kemanusiaan pada hakikatnya dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu fakta individual dan fakta sosial. Fakta yang kedua mempunyai peranan penting dalam sejarah, sedangkan fakta yang pertama tidak memiliki hal itu (Faruk dalam Chalima, 1994). Goldmann (Faruk dalam Chalima, 1994) menganggap bahwa semua fakta kemanusiaan merupakan suatu struktur yang berarti. Yang dimaksudkannya adalah bahwa fakta-fakta itu sekaligus mempunyai struktur tertentu dan arti tertentu. Oleh karena itu, pemahaman mengenai fakta-fakta kemanusiaan harus mempertimbangkan struktur dan artinya. Goldman (Faruk dalam Chalima, 1994) juga mengatakan bahwa fakta-fakta kemanusiaan mempunyai arti karena merupakan respon-respon dari subjek kolektif atau individual, pembangunan suatu percobaan untuk memodifikasi situasi yang ada agar cocok bagi aspirasi-aspirasi subjek itu. Dengan kata lain, fakta-fakta itu merupakan hasil usaha manusia mencapai keseimbangan yang lebih baik dalam hubungannya dengan dunia sekitar .
2.  Subjek kolektif
Kolektif adalah subjek yang berparadigma dengan subjek fakta sosial (historis). Subjek ini juga disebut subjek trans individual. Goldmann mengatakan (Faruk dalam Chalima,1994) revolusi sosial, politik, ekonomi, dan karya-karya kultural yang besar, merupakan fakta sosial (historis). Individu dengan dorongan libidonya tidak akan mampu menciptakannya. Yang dapat menciptakannya hanya subjek transindividual. Subjek transindividual adalah subjek yang mengatasi individu, yang didalamnya individu hanyalah merupakan bagian. Subjek trans individual adalah kumpulan individu-individu yang tidak berdiri sendiri-sendiri, merupakan satu kesatuan, satu kolektivitas.
3.  Struktur Karya Sastra
Struktur karya sastra, dalam hal ini roman, tetap menjadi sesuatu yang penting. Struktur roman merupakan hal pokok yang harus diketahui dan dianalisis lebih dulu sebelum menganalisis pandangan dunia pengarang. Struktur roman adalah hal-hal pokok dalam roman yang meliputi unsur-unsur intrinsiknya. Di dalam eseinya yang berjudul The Epistemology of Sociology, Goldmann mengemukakan dua pendapat mengenai karya sastra pada umumnya yaitu pertama bahwa karya sastra merupakan ekspresi pandangan dunia secara imajiner. dan kedua bahwa dalam usahanya dalam mengekspresikan pandangan dunia itu pengarang menciptakan semesta tokoh-tokoh, objek-objek, dan relasirelasi secara imajiner . Dengan mengemukakan dua hal tersebut Goldmann dapat membedakan karya sastra dari filsafat dan sosiologi. Menurutnya filsafat mengekspresikan pandangan dunia secara konseptual, sedangkan sosiologi mengacu pada empirisitas (Chalima dalam Faruk, 1994).
Dalam eseinya yang berjudul The Sociology of Literature: Status and Problem Method Goldmann mengatakan bahwa dalam hampir seluruh karyanya penelitian dipusatkan pada elemen kesatuan, pada usaha menyingkapkan struktur yang koheren dan terpadu yang mengatur keseluruhan semesta karya sastra (Faruk dalam Chalima,1994).
4.  Pandangan Dunia
Goldmann (dalam Suwardi Endraswara, 2003:57) berpendapat, karya sastra sebagai struktur bermakna itu akan mewakili pandangan dunia (vision du monde) penulis, tidak sebagai individu melainkan sebagai anggota masyarakat. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa strukturalisme genetik merupakan penelitian sastra yang menghubungkan antara struktur sastra dengan struktur masyarakat melalui pandangan dunia atau ideologi yang diekspresikannya. Oleh karena itu, karya sastra tidak akan dapat dipahami secara utuh jika totalitas kehidupan masyarakat yang telah melahirkan teks sastra diabaikan begitu saja. Pengabaian unsur masyarakat berarti penelitian sastra menjadi pincang.
Pandangan dunia adalah kerucutisasi ide-ide, gagasan-gagasan dari suatu kelompok sosial tertentu dan dipertentangkan dengan ide-ide, gagasan-gagasan kelompok sosial lainnya.
Pandangan dunia menurut Goldmann adalah istilah yang cocok bagi kompleks menyeluruh dari gagasan-gagasan, aspirasi-aspirasi, dan perasaan-perasaan, yang menghubungkan secara bersama-sama anggotaanggota suatu kelompok sosial tertentu dan yang mempertentangkannyadengan kelompok-kelompok sosial lain. Sebagai suatu kesadaran kolektif, pandangan dunia itu berkembang sebagai hasil dari situasi sosial dan ekonomik tertentu yang dihadapi subjek kolektif yang memilikinya.
(Suwardi Endraswara,2003:60) menyatakan bahwa hipotesis Goldmann yang mendasari penemuan world view adalah tiga hal yaitu yang pertama semua perilaku manusia mengarah pada hubungan rasionalitas , maksudnya selalu berupa respon terhadap lingkungannya. Kedua bahwa kelompok sosial mempunyai tendensi untuk menciptakan pola tertentu yang berbeda dari pola yang sudah ada dan yang ketiga perilaku manusia adalah usaha yang dilakukan secara tetap menuju transendensi, yaitu aktivitas, transformasi, dan kualitas kegiatan dan semua aksi sosial dan sejarah. Pada bagian lain, Goldmann (dalam Suwardi Endraswara, 2003:58) mengemukakan bahwa pandangan dunia merupakan perspektif yang koheren dan terpadu mengenai hubungan manusia dengan sesamanya dan dengan alam semesta. Hal ini menunjukkan bahwa pandangan dunia adalah sebuah kesadaran hakiki masyarakat dalam menghadapi kehidupan. Namun dalam karya sastra hal ini amat berbeda dengan keadaan nyata. Kesadaran tentang pandangan dunia ini adalah kesadaran mungkin atau kesadaran yang telah ditafsirkan bisa dikatakan bahwa karya sastra sebenarnya merupakan ekspresi pandangan dunia yang imajiner.


5.      Konsep “Pemahaman-Penjelasan”
Goldmann menjelaskan tentang metodenya itu: untuk bisa realistis, sosiologi harus bersifat historis; demikian juga sebaliknya, untuk bisa ilmiah dan realistis, penelitian sejarah harus sosiologis (Damono, 1979:43). Dengan demikian, strukturalisme genetik merupakan teori alternatif untuk menganalisis karya sastra yang antara historis dan sosiologis dapat dilakukan secara berkaitan.
Karya sastra harus memiliki kepaduan antara struktur yang satu dengan yang lain. Unsur luar maupun unsur dalam sama-sama memiliki arti penting di dalam membangun karya sastra. Kepaduan dari kedua unsur tersebut memberi kelengkapan, bahwa karya sastra tidak hanya dapat dilihat dari dalam (teks) sastra, melainkan unsur pembentuk dari luar. Karya sastra berusaha mengungkap persoalan-persoalan yang dihadapi manusia. Persoalan-persoalan itu sebagian ada yang terpecahkan dan sebagian tidak ditemukan jalan keluarnya.
Karena itu, Goldmann mencoba mengembangkan metode dialektik. Prinsip dasar dari metode dialektik yang membuatnya berhubungan dengan masalah koherensi di atas adalah pengetahuannya mengenai fakta-fakta kemanusiaan yang akan tetap abstrak apabila tidak dibuat kongkret dengan mengintegrasikan ke dalam keseluruhan (Goldmann dalam Faruk, 1999b:19-20).
Metode dialektik mengembangkan dua konsep, yaitu “Pemahaman-penjelasan” dan “Keseluruhan-bagian.” Pemahaman adalah pendeskripsian struktur objek yang dipelajari, sedangkan penjelasan adalah usaha menggabungkan ke dalam struktur yang lebih besar (Goldmann dalam Faruk, 1999b:21). Pada dasarnya pengertian konsep “Pemahaman-penjelasan” sangat berkait dengan konsep “Keseluruhan-bagian.”
Pada penjelasan konsep fakta kemanusiaan telah dikemukakan bahwa terdapat dua fakta, yaitu fakta individual dan fakta sosial. Fakta individual baru memiliki arti penting jika di tempatkan dalam keseluruhan. Sebaliknya, keseluruhan mempunyai arti karena merupakan respon-respon dari bagian-bagian yang membangunnya. Konsep “Keseluruhan-bagian” memilki keterkaitan untuk saling melengkapi dalam memberi arti dari “keseluruhan” dan “bagian” itu sendiri.
Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, maka strukturalisme genetik memandang karya sastra tidak hanya sebagai yang memilki struktur yang lepas-lepas, melainkan adanya campur tangan faktor-faktor lain (faktor sosial) dalam proses penciptaannya. Karya sastra dipahami sebagai totalitas perpaduan struktur dalam dan struktur luar.
Apabila dirumuskan dalam bentuk definisi, strukturalisme genetik pada prinsipnya adalah teori sastra yang berkeyakinan bahwa karya sastra tidak semata-mata merupakan suatu struktur yang statis dan lahir dengan sendirinya, melainkan merupakan hasil strukturasi struktur kategoris pikiran subjek penciptanya atau subjek kolektif tertentu yang terbangun akibat interaksi antara subjek itu dengan situasi sosial dan ekonomi tertentu (Faruk, 1999:13).

 2.5  Analisis Teori Strukturalisme Genetik dalam Penerapannya
Langkah-langkah penerapan dengan metode strukturalisme genetik yang ditawarkan oleh Laurenson dan Swingewood yang disetujui oleh Goldman:
1.      Penelitian sastra itu dapat kita ikuti sendiri. Mula-mula diteliti strukturnya untuk membuktikan bagian-bagiannya sehingga terjadi keseluruhan yang padu dan holistik,
2.      Penghubungan dengan sosial budaya. Unsur-unsur kesatuan karya sastra yang dihubungkan dengan sosio budaya dan sejarahnya, kemudian dihubungkan dengan struktur mental yang dihubungkan dengan dunia pengarang,
3.      Untuk mencapai solusi atau kesimpulan digunakan metode induktif, yaitu metode pencarian kesimpulan dengan jalan melihat premis-premis yang sifatnya spesifik untuk selanjutnya mencari premis general.
Analisis karya sastra (dan bahasa) dalam strukturalisme genetik lebih menekankan makna sinkronik dari pada makna lain, seperti makna ikonik, simbolik, ataupun indeksikal. Oleh karena itu menurut Prof. Noeng Muhadjir (2000: 304) analis struturalisme genetik perlu mencakup tiga unsur kajian, yaitu:
  • intrinsik karya sastra itu sendiri,
  • latar belakang pengarangnya, dan
  • latar belakang sosial serta latar belakang sejarah masyarakatnya.
Secara sederhana pendekatan strukturalisme genetik diformulasikan sebagai berikut. Pertama difokuskan pada kajian intrinsik karya sastra, baik secara parsial maupun secara keseluruhan. Kedua, mengkaji latar belakang kehidupan sosial kelompok pengarang, karena ia adalah suatu bagian dari komunitas tertentu. Ketiga, mengkaji latar belakang sosial dan sejarah yang ikut mengondisikan terciptanya karya sastra. Dari ketiga cara tersebut akan diperoleh abstraksi pandangan dunia pengarang yang diperjuangkan oleh tokoh problematik.
Teori strukturalisme genetik difokuskan pada kajian intrinsik karya sastra, baik secara parsial maupun secara keseluruhan. Kedua, mengkaji latar belakang kehidupan sosial kelompok pengarang, karena ia adalah suatu bagian dari komunitas tertentu. Ketiga, mengkaji latar belakang sosial dan sejarah yang ikut mengondisikan terciptanya karya sastra. Dari ketiga cara tersebut akan diperoleh abstraksi pandangan dunia pengarang yang diperjuangkan oleh tokoh problematik. Suwardi Endraswara mengatakan bahwa penelitian strukturalisme genetik memandang karya sastra dari dua sudut, yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Studi diawali dari kajian unsur intrinsik (kesatuan dan koherensinya) sebagai data dasarnya. Selanjutnya, penelitian akan menghubungkan berbagai unsur dengan relitas masyarakatnya. Karya dipandang sebagai refleksi zaman, yang dapat mengungkapkan aspek sosial, budaya, politik, ekonomi, dan sebagainya.
Peristiwa-peristiwa penting dari zamannya akan dihubungkan langsung dengan unsur-unsur intrinsik karya sastra (Suwardi Endraswara, 2003:56). Goldmann memberikan rumusan penelitian strukturalisme genetik, dalam tiga hal (dalam Suwardi Endraswara, 2003:57), yaitu:
1.      Penelitian terhadap karya sastra seharusnya dilihat sebagai satu kesatuan;
2.      Karya sastra yang diteliti mestinya karya sastra yang bernilai sastra yaitu karya yang mengandung tegangan (tension) antara keragaman dan kesatuan dalam suatu keseluruhan (a coherent whole);
3.      Jika kesatuan telah ditemukan, kemudian dianalisis dalam hubungannya dengan latar belakang sosial. Sifat hubungan tersebut:
a.       yang berhubungan dengan latar belakang sosial adalah unsur kesatuan,
b.      latar belakang yang dimaksud adalah pandangan dunia suatu kelompok sosial yang dilahirkan pengarang sehingga hal tersebut dapat dikongkretkan.
Secara sederhana, kerja peneliti strukturalisme genetik dapat dapat diformulasikan dalam tiga langkah.
  1.  Peneliti bermula dari kajian unsure intrinsik, baik secara parsial maupun dalam jalinan keseluruhannya.
  2. Mengkaji kehidupan sosial budaya pengarang, karena ia merupakan bagian dari komunitas tertentu.
  3. Mengkaji latar belakang sosial dan sejarah yang turut mengkondisikan karya sastra saat diciptakan oleh pengarang (Suwardi Endraswara, 2003:62). Ada satu langkah yang terlewatkan oleh Suwardi Endraswara dalam penelitian strukturalisme genetik ini, yaitu mengkaji pandangan dunia pengarang, seperti pendapat Iswanto (Racmat Djoko Pradopo, 2007). Pandangan dunia ini merupakan perantara antara struktur dalam karya sastra dengan genetika karya sastra tersebut.
 Tahap penelitian dalam mengkaji karya sastra menggunakan teori strukturalisme genetik menurut Goldman ada 3 yaitu;
1.      Tesis merupakan informasi apa yang di perlukan berupa data,
2.      Antitesis merupakan pemberian opini terhadap realitas, anti tesis ini melebur dengan tesis dan memeberikan suatu opini pada relitas/sintesis,
3.      Sintesis berupa realitas dan kembali lagi menjadi tesis kembali.
Dan prosedur (metode) teori strukturalisme genetik menurut Goldman terhadap penelitian karya sastra masterpeace (karya sastra besar) adalah sebagai berikut:
Penelitiaan karya sastra dilihat dari satu kesatuaan karya sastra yang dianalisis hanyalah karya yang mempunyai nilai sastra yang mempunyai tegangan (tention) antara keragaman dan kesatuaan dalam sesuatu keseluruhan yang padat (coherent whole) jika kesatuaan telah ditemukan, kemudiaan dianalisis hubungannya dengan latar belakang sosial. Sifat hubungan tersebut, yang berhubungan dengan latar belakang social adalah unsur kesatuaan, latar belakang yang dimaksud pandangan dunia suatu kelompok sosial yang dilahirkan oleh pengarang.
Secara pendeskripsianya adalah seperti berikut:
  1. Menentukan teks yang dipakai sebagai objek kajian dengan membandingkan teks secara filosofis dari awal hingga akhir.
  2. Menentukan fokus objek kajian yaitu makna totalitas teks dengan merumuskan pandangan dunia kemudian menganalisis struktur teks dan menghubungkanya dengan struktur sosial teks.
  3. Melakkukan kajian pustaka (library research) yang mendukung penulisan dan pembahasan mengenai teks seperti buku-buku sosial budaya baik tentang keadaan masyarakat pada masa tersebut, atau karya-karya lain dari pengarangnya untuk mengetahui informasi adanya keterkaitan hubungan antar teks.
  4. Menganalisis objek kajian dengan teori strukturalisme genetik dan metode dialektis.